Jawa Pos Radar Lawu - Nama Wali Kota Prabumulih H. Arlan menjadi sorotan publik setelah kasus pencopotan Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Prabumulih, Roni Ardiansyah.
Pemecatan itu terjadi usai sang kepsek menegur seorang siswa yang diketahui sebagai anak wali kota karena membawa mobil ke sekolah.
Keputusan ini memicu perdebatan karena publik menilai alasan kepsek dicopot belum jelas, sementara di sisi lain muncul pertanyaan terkait harta kekayaan Arlan dalam LHKPN yang tidak mencatat mobil pribadi.
Situasi ini makin memanas setelah masyarakat mempertanyakan apa penyebabnya hingga seorang kepala sekolah harus kehilangan jabatannya hanya karena menjalankan tugas kedisiplinan.
Fakta Kasus yang Terjadi
Kejadian bermula ketika Kepala Sekolah SMPN 1 Prabumulih, Roni Ardiansyah, menegur seorang siswa yang membawa mobil ke sekolah.
Belakangan diketahui bahwa siswa tersebut adalah anak dari Wali Kota Prabumulih H. Arlan.
Tak lama setelah teguran itu, Roni langsung dicopot dari jabatannya, sehingga memicu spekulasi adanya intervensi kekuasaan dalam keputusan tersebut.
Selain soal pemecatan kepsek, publik juga menyoroti harta kekayaan Arlan. Dalam laporan LHKPN, Arlan hanya tercatat memiliki truk, buldoser, dan beberapa sepeda motor, tanpa mobil pribadi.
Hal ini menimbulkan tanda tanya karena mobil yang dibawa anaknya ke sekolah tidak sesuai dengan data resmi kekayaannya.
Di sisi lain, sosok Arlan sendiri cukup dikenal di Prabumulih. Ia merupakan pengusaha sukses di bidang karet dan kontraktor, dengan total kekayaan sekitar Rp17 miliar.
Kehidupan pribadinya juga sering jadi sorotan karena ia diketahui memiliki empat istri yang bahkan mendampinginya saat kampanye Pilkada 2024.
Reaksi Publik dan Dampak
Kasus ini memicu kritik keras dari masyarakat, terutama soal integritas dan transparansi pejabat publik.
Banyak pihak menilai pemecatan kepala sekolah adalah tindakan tidak adil dan menunjukkan adanya campur tangan kekuasaan dalam urusan pendidikan. Masyarakat juga mendesak adanya klarifikasi resmi terkait alasan pemecatan, kepemilikan mobil, serta konsistensi laporan harta kekayaan.
Kontroversi Wali Kota Prabumulih H. Arlan memperlihatkan betapa sensitifnya isu etika pejabat publik di mata masyarakat.
Pencopotan kepala sekolah hanya karena menegur siswa menjadi polemik besar yang menuntut penjelasan transparan.
Publik kini menunggu jawaban resmi pemerintah kota untuk memastikan apakah keputusan tersebut sesuai aturan atau murni bentuk penyalahgunaan wewenang. (ghiska-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid