Jawa Pos Radar Lawu - Wakil Menteri PPN/Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menyatakan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan inisiatif nyata Indonesia dalam mendukung Visi Indonesia Emas 2045.
Program ini tidak hanya fokus pada pemberian makanan sehat, tetapi juga menyasar isu-isu penting seperti gizi, kesehatan, pendidikan, pemberdayaan perempuan, ketahanan pangan, hingga pengentasan kemiskinan.
Hal tersebut disampaikan Febrian dalam acara Side Event “Feeding the Future” yang digelar di sela High-Level Political Forum (HLPF) 2025 di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat.
Fokus Multisektor untuk Pembangunan SDM Berkualitas
Menurut Febrian, MBG adalah bagian dari komitmen Indonesia dalam memperkuat sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing di masa depan.
Program ini melibatkan berbagai kelompok sasaran seperti siswa sekolah, santri, ibu hamil dan menyusui, serta balita, dengan pendekatan multisektor.
“Program ini melibatkan banyak sektor: pendidikan, kesehatan, pertanian, pengelolaan pangan, hingga pemberdayaan masyarakat. Bappenas berperan penting dalam koordinasi kebijakan, anggaran, hingga evaluasi,” ungkap Febrian.
Kolaborasi Global untuk Sukseskan Program MBG
Side event ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Pemerintah Qatar, Finlandia, Bulgaria, dan Jepang, serta mendapat dukungan dari UNICEF dan Asian Development Bank (ADB).
Tujuan utamanya adalah berbagi praktik terbaik dan tantangan lintas sektor untuk mendukung keberlanjutan program MBG secara global dan nasional.
Menuju Puncak KTT Global Makan Bergizi di Brasil
Forum ini menjadi momen penting menjelang Second Global Summit of the School Meals Coalition yang akan digelar di Fortaleza, Brasil, September 2025.
Indonesia berharap dapat menyusun strategi implementasi yang lebih kuat untuk memperluas cakupan program MBG sebagai investasi jangka panjang pembangunan manusia.
“Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung program makan bergizi. Ini adalah bagian dari strategi nasional membangun generasi sehat, cerdas, dan produktif demi menyukseskan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030,” tegas Febrian.
(*/naz)
Penulis: Indah Fitri Nugraheni/Politeknik Negeri Madiun