Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

1,5 Juta Ton Emas di Wonogiri: Potensi Ekonomi atau Ancaman Lingkungan?

Nur Wachid • Rabu, 30 Juli 2025 | 22:30 WIB

Ilustrasi Emas
Ilustrasi Emas

Jawa Pos Radar Lawu - Wonogiri adalah sebuah kabupaten yang selama ini dikenal dengan waduk Gajahmungkur dan kawasan perbukitannya yang tenang, mendadak menjadi sorotan nasional.

Bukan karena keindahan alamnya, tetapi karena temuan mencengangkan: cadangan bijih emas diperkirakan mencapai 1,5 juta ton tersebar di perut bumi wilayah ini.

Temuan ini tidak hanya menarik perhatian para penambang, tapi juga memicu diskusi soal dampaknya terhadap lingkungan dan masa depan daerah.

Dari mana asal emas sebanyak itu? Bagaimana penyebarannya? Penelitian geologi pun mengungkap jawabannya.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Bantu Pemda Optimalkan Aset dan Perkuat Pendidikan

Asal-usul dan Sebaran Emas

Temuan ini didasarkan pada kajian geologi yang dilakukan oleh Pemkab Wonogiri bekerja sama dengan Badan Survei Geologi Bandung, yang tercantum dalam Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) 2017.

Salah satu lokasi krusialnya adalah Bukit Randu Kuning di Desa Jendi, Kecamatan Selogiri, diyakini sebagai hasil letusan Gunung Api Purba Gajahmungkur jutaan tahun lalu.

Namun emas juga ditemukan di bukit-bukit sekitar seperti Tugu, Tumbu, Pithi, Kepil, Thekil, Geblak, dan Jangglengan.

Kadar emas dalam bijih ini diperkirakan berkisar antara 40 hingga 2.384 part per billion (ppb).

Potensi Ekonomi yang Menjanjikan

Jika dieksplorasi dengan sistematis, potensi emas Wonogiri bisa menjadi pendorong ekonomi lokal serta nasional.

Estimasi produksi PT Alexis Perdana Mineral mencapai 808,6 kg emas per tahun atau sekitar 26.000 ons jika proyek berjalan.

Pertambangan modern dapat menghadirkan lapangan kerja, fasilitas infrastruktur, dan teknologi baru bagi warga lokal.

Bahaya Lingkungan dan Sosial

Namun, tambang emas pula menyimpan risiko besar.

Penambangan tanpa izin sudah terjadi sejak tahun 1990-an, operasionalnya skala kecil dan metode tradisional pun masih dilestarikan oleh masyarakat local.

Baca Juga: Aktif di Organisasi: Cara Ampuh Atasi Kecanduan HP bagi Siswa dan Mahasiswa

Namun aktivitas tersebut bisa menyebabkan pencemaran lingkungan, terutama jika menggunakan merkuri dan sianida.

Limbah tambang berpotensi mencemari air permukaan serta tanah produktif, sehingga mengganggu kesehatan masyarakat dan mata pencaharian pertanian.

Warga lokal juga sempat menolak izin tambang dari perusahaan asing karena khawatir dampak ekologis dan sosialnya.

Antara Harapan dan Kerusakan

Potensi 1,5 juta ton bijih emas tentu menggoda.Namun tanpa regulasi kuat, pengawasan ketat, dan keterlibatan warga, tambang itu bisa menjadi bencana lingkungan alih-alih berkah ekonomi.

Baca Juga: Gerakan Sejuta Beasiswa: Wujud Nyata Dukung Pendidikan dan SDM Unggul

Kajian Amdal yang ketat serta keterbukaan dan pembagian manfaat harus menjadi syarat utama sebelum aktivitas tambang dilakukan.

Wonogiri menyimpan harta karun alam yang sangat besar satu juta lebih bijih emas yang mendebarkan siapa saja yang mengetahui.

Tapi kabar itu hanya akan bernilai jika diimbangi dengan tata kelola bijak, pengawasan ketat, dan kewaspadaan terhadap dampak ekologis.

Jadi, potensi emas Wonogiri tetap menjadi dua sisi mata uang: peluang besar, sekaligus tantangan lingkungan. (ghiska-mg-pnm/kid)

 

 

Editor : Nur Wachid
#wonogiri #emas #potensi ekonomi #dampak lingkungan