Jawa Pos Radar Lawu - Porong, Sidoarjo, kembali menjadi sorotan setelah muncul kabar bahwa lumpur Lapindo telah berhenti menyembur.
Kabar ini viral di berbagai media sosial, menimbulkan beragam reaksi dari masyarakat.
Jika benar, ini menjadi momen bersejarah setelah hampir 19 tahun sejak bencana yang menenggelamkan belasan desa di tiga kecamatan di Sidoarjo tersebut terjadi akibat aktivitas eksplorasi gas oleh PT Lapindo Brantas.
Benarkah Lumpur Lapindo Berhenti Menyembur?
Sejak pertama kali menyembur pada 29 Mei 2006, lumpur panas terus keluar dari pusat semburan di Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo.
Namun, beberapa waktu terakhir, pemandangan di lokasi semburan menunjukkan perubahan yang cukup mencolok.
Lautan lumpur yang sebelumnya selalu disertai semburan kini terlihat lebih tenang, meski masih ada asap putih yang terus mengepul dari pusat semburan.
Dikutip dari Tempo, menurut pakar geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Amien Widodo, fenomena ini bisa menjadi pertanda bahwa semburan lumpur Lapindo berangsur-angsur berhenti.
Ia menjelaskan bahwa lumpur yang keluar selama ini didorong oleh tekanan gas dari dalam bumi.
Jika sumber gas tersebut habis atau melemah, maka tekanan yang mengangkat lumpur ke permukaan juga akan berkurang.
“Kalau gasnya mengecil, ya tidak kuat mengangkat lumpur ke atas. Jika gasnya habis, maka lumpur akan berhenti total,” kata Amien.
Amien menjelaskan bahwa tekanan gas dari kedalaman 2 hingga 3 kilometer di bawah permukaan bumi menjadi faktor utama dalam fenomena ini.
Pada awal kejadian, gas yang berada di bawah tanah masih sangat aktif dan dalam jumlah besar, sehingga mampu mendorong lumpur keluar selama bertahun-tahun.
Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah gas tersebut menurun sehingga tekanannya berkurang.
“Gas di bawah tanah memang diperkirakan masih aktif selama puluhan tahun, tetapi jumlahnya terbatas. Jika sudah habis atau berkurang secara signifikan, maka semburan lumpur akan berhenti secara alami,” jelasnya.
Sementara itu, asap yang masih terlihat dari pusat semburan menandakan adanya sisa gas yang keluar ke permukaan.
Namun, gas ini diperkirakan tidak lagi cukup kuat untuk mengangkat lumpur dalam jumlah besar.
Jika semburan benar-benar berhenti total, maka ada kemungkinan lumpur yang telah mengendap bisa dieksplorasi lebih lanjut.
Beberapa pakar menyebutkan bahwa lumpur Lapindo mengandung mineral berharga, termasuk logam tanah jarang yang memiliki nilai tinggi dalam industri teknologi, terutama untuk produksi baterai.
“Kalau lumpur berhenti total, eksplorasi bisa dilakukan untuk melihat lebih jauh kandungan mineral di dalamnya,” ujar laki-laki 42 tahun tersebut.
Meski begitu, penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk memastikan kandungan lumpur serta kelayakan eksplorasi di lokasi bekas semburan.
Meski belum bisa dipastikan secara absolut, berkurangnya tekanan gas dan tidak adanya semburan lumpur yang signifikan dapat menjadi indikasi bahwa fenomena ini mulai mereda.
Para pakar geologi menilai bahwa faktor alamiah menjadi penyebab utama menurunnya tekanan di bawah tanah, yang berujung pada berkurangnya semburan lumpur.
Jika benar-benar berhenti, maka ke depan, lokasi ini bisa dikaji lebih lanjut untuk potensi eksplorasi sumber daya mineral yang mungkin terkandung dalam lumpur Lapindo.
Editor : Riana M.