Jawa Pos Radar Lawu - Kementerian Agama (Kemenag) tengah mengembangkan konsep ekoteologi berbasis Asmaul Husna.
Gagasan ini sebagai bagian dari upaya menghadirkan perspektif teologi yang lebih inklusif dan relevan dengan tantangan zaman.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengungkapkan bahwa selama ini teologi cenderung bersifat terlalu maskulin.
Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih lembut dan penuh kasih sayang.
“Teologi kita selama ini terlalu maskulin. Ke depan, kami ingin mengembangkan teologi yang lebih lembut, berbasis pada Asma’ul Husna,” ujar Menag saat menerima audiensi Majelis Hukama Muslimin bersama Qari dan Dai Al Azhar, Kairo, di Jakarta, Senin (3/3/2025).
Dikutip dari Jawa Pos, Menag menjelaskan bahwa 80% dari nama-nama Allah dalam Asma’ul Husna bernuansa feminin.
Sebagai contoh, Ar-Rahman disebut 57 kali dalam Al-Qur’an, sedangkan Ar-Rahim muncul sebanyak 114 kali.
“Karena itu, kita harus mengembangkan teologi yang lebih feminin. Perubahan iklim saat ini menyebabkan satu juta kematian per tahun, dan kita memerlukan perspektif yang lebih inklusif dalam menyikapi isu ini,” tambahnya.
Menghadirkan Teologi Cinta dan Reformasi Dakwah
Selain mengusung konsep ekoteologi, Menag menegaskan perlunya pergeseran dari teologi yang berfokus pada perbedaan menuju teologi yang menanamkan cinta dan persatuan.
“Kurikulum cinta harus menjadi bagian dari pendidikan agama kita agar generasi mendatang tidak diajari kebencian, tetapi bagaimana menemukan titik temu dalam keberagaman,” katanya.
Menag juga menekankan pentingnya reformasi metode dakwah agar lebih relevan dengan perkembangan zaman.
“Selama ini, kita terlalu deduktif dan kualitatif, padahal dunia saat ini sangat kuantitatif dan induktif."
'Kita perlu mendakwahkan Islam dengan pendekatan berbasis data dan penelitian,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Kemenag berencana mengundang seribu dosen bahasa Arab dari Mesir untuk mengajarkan bahasa Arab dan Islam di pesantren-pesantren Indonesia.
“Kami memilih Mesir karena memiliki pendekatan keislaman yang moderat dan selaras dengan nilai-nilai keberagamaan di Indonesia."
'Kami ingin menghindari paham yang terlalu keras, karena bagi kami, Islam garis keras tidak akan laku di masa depan,” pungkasnya. (fin)