Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Viral! Rusia Ancam Batasi Ekspor Bahan Baku Nuklir, Biarkan Eropa di Ambang Krisis Energi

Oktaviani Sindy • Sabtu, 14 September 2024 | 21:53 WIB
Rusia geram, Presiden Vladimir Putin kelurakan peringatan bakal batasi bahan baku ekspor nuklir, bikin eropa kocar kacir energi. (Jawa Pos)
Rusia geram, Presiden Vladimir Putin kelurakan peringatan bakal batasi bahan baku ekspor nuklir, bikin eropa kocar kacir energi. (Jawa Pos)

Jawa Pos Radar Lawu - Rusia berencana membatasi ekspor sejumlah bahan baku strategis, termasuk bahan baku nuklir, ke pasar internasional. 

Langkah ini dinyatakan Presiden Vladimir Putin, sebagai bentuk respons terhadap upaya Barat yang telah memblokir akses Rusia terhadap berbagai barang dari luar negeri.

Putin menegaskan bahwa meskipun sanksi Barat terus menekan negaranya, Rusia masih mampu memasok sejumlah besar produk ke pasar global, bahkan beberapa pembeli justru menyimpan stok dari produk-produk Rusia.  

"Rusia adalah pemimpin dalam hal cadangan sejumlah bahan baku strategis. Namun kami terbatas dalam pasokan sejumlah barang – mungkin kami juga harus mempertimbangkan pembatasan tertentu,"ujar Putin.

Presiden Rusia, juga telah mengisyaratkan bahwa bahan baku seperti uranium, titanium, dan nikel mungkin menjadi target pembatasan ekspor. 

Ketiga komoditas ini sangat penting, baik untuk sektor energi nuklir, industri kedirgantaraan, maupun pembangkitan energi bersih. 

Misalnya, uranium Rusia memiliki pangsa pasar sekitar 40 persen, yang sangat penting untuk pembangkit listrik tenaga nuklir di seluruh dunia.

Putin juga menekankan bahwa langkah-langkah ini tidak akan dilakukan tergesa-gesa. 

"Tidak perlu melakukan apa pun untuk merugikan diri kita sendiri," jelasnya. 

Putin, sembari menambahkan bahwa jika langkah ini tidak berdampak negatif terhadap Rusia, mereka bisa mempertimbangkan pembatasan lebih lanjut.

Bahan baku Rusia seperti titanium masih sangat dibutuhkan oleh industri di Eropa dan Amerika Serikat. Meskipun AS telah melarang impor nikel dari Rusia, impor uranium Rusia masih diizinkan hingga tahun 2028 karena keterbatasan pasokan alternatif. 

Titanium Rusia juga belum dijatuhi sanksi, karena industri kedirgantaraan AS dan Eropa masih sangat bergantung pada pasokan dari Rusia.

Kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, turut memperingatkan bahwa sanksi terhadap industri nuklir Rusia akan sangat merugikan Uni Eropa. 

Grossi menyebut ketergantungan Eropa pada bahan bakar nuklir Rusia mencapai 40 persen di beberapa negara. Ia menegaskan bahwa tidak ada cara cepat untuk menggantikan pasokan ini tanpa mengganggu stabilitas pasar energi global.  

"Mereka [negara-negara Barat] mengambil langkah-langkah untuk mengakhiri ketergantungan ini, tetapi itu tidak dapat dilakukan dalam semalam,"jelas Grossi.

Dengan Rusia yang mempertimbangkan pembatasan ekspor bahan baku penting seperti uranium dan titanium, Eropa dan negara-negara Barat lainnya menghadapi tantangan besar dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap Rusia. 

Pasokan energi nuklir dan komoditas strategis lainnya bisa terganggu jika pembatasan tersebut diberlakukan, mengancam stabilitas ekonomi global yang sudah rapuh akibat ketegangan geopolitik. (okta)

Editor : Riana M.
#negara eropa #rusia #nuklir #putin #vladimir putin #membatasi #as #bahan baku #presiden rusia #amerika serikat