SEMARANG, Jawa Pos Radar Lawu - Aktivitas perosotan di Bendung Simongan alias Bendung Pleret Sungai Banjir Kanal Barat Semarang tengah viral di media sosial.
Tiap sore, puluhan warga dengan kaki telanjang meluncur di lantai bendungan yang berbentuk turunan layaknya surfing di laut.
Tak pelak, aktivitas itu menjadi tontonan ratusan warga saban hari.
Namun, potensi bahaya perosiotan di Bendung Pleret cukup besar, terutama ketika wilayah Semarang dilanda hujan. Air bah bisa datang sewaktu-waktu.
"Bahaya jika ada air bah datang dari atas. Memang biasanya ada pertanda air berubah jadi warna cokelat, tapi tidak semua menyadarinya," ujar Bayu, salah seorang petugas bendungan.
Sementara, sejumlah warga berharap adanya tim khusus yang mengawasi aktivitas perosotan tersebut mengingat potensi bahayanya yang cukup besar.
Dirangkum dari berbagai sumber, Bendung Pleret sudah berusia 143 tahun dan merupakan bendungan tertua di Semarang.
Bendungan itu dibangun pemerintah Hindia Belanda untuk mengatasi banjir yang kerap melanda Semarang di masa itu.
Selain itu, sebagai sumber pengairan sawah di daerah setempat.
Bendung Pleret juga menjadi saksi bisu pertempuran pejuang kemerdekaan melawan tentara Belanda yang hendak menyerbu Jogjakarta pada 1947 silam.
Meski telah berumur ratusan tahun, bangunan Bendung Pleret masih tampak kokoh sampai sekarang. (isd)
Editor : Nur Wachid