Jawa Pos Radar Lawu - Invasi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ke sektor pendidikan kini memantik diskursus serius di kalangan akademisi.
Kehadiran teknologi ini dinilai sebagai pisau bermata dua memberikan kemudahan luar biasa, namun sekaligus menyisakan persoalan etika yang kompleks.
Para ahli sepakat, AI mampu mendorong lompatan besar dalam sistem pembelajaran.
Namun di sisi lain, tanpa pengawasan ketat, teknologi ini berpotensi menggerus esensi pendidikan itu sendiri.
AI Dorong Pembelajaran Lebih Cerdas dan Personal
Dari perspektif inovasi, Ketua Pusat AI Institut Teknologi Bandung, Nugraha Priya Utama, menilai AI merupakan pintu menuju sistem pendidikan yang lebih adaptif.
Menurutnya, kecerdasan buatan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih personal.
Materi pembelajaran bisa disesuaikan secara otomatis dengan kemampuan masing-masing siswa.
“AI memainkan peran penting dalam meningkatkan efisiensi sistem pendidikan.
Dengan otomatisasi tugas administratif dan penilaian, guru memiliki lebih banyak waktu untuk merancang strategi pembelajaran interaktif,” ujarnya.
Tak hanya itu, AI juga dinilai mampu mengatasi hambatan geografis dan keterbatasan fisik.
Dengan teknologi ini, akses pendidikan berkualitas menjadi lebih inklusif dan merata.
Baca Juga: Pendiri Anthropic Peringatkan AI Tanpa Kendali, Serukan “Pedal Rem” sebelum Terlambat
Ancaman Nyata: Etika dan Nalar Kritis Tergerus
Meski menjanjikan efisiensi, para pakar juga mengingatkan potensi risiko serius.
Laporan UNESCO tahun 2023 menyoroti bahwa penggunaan AI yang tidak terkontrol dapat memperlebar kesenjangan pendidikan dan memperkuat bias.
Lebih dari itu, ancaman terbesar adalah menurunnya kemampuan berpikir kritis siswa.
Fenomena ini mulai terlihat dari maraknya penggunaan chatbot seperti ChatGPT untuk mengerjakan tugas sekolah.
Banyak siswa memanfaatkan teknologi ini untuk menghasilkan jawaban instan, tanpa melalui proses berpikir yang mendalam.
Akibatnya, batas antara mencari referensi dan melakukan kecurangan akademik menjadi semakin kabur.
Guru Jadi Kunci: Bukan Lagi Pengajar, Tapi Penjaga Etika
Menghadapi dilema tersebut, para ahli menegaskan bahwa solusi bukanlah melarang penggunaan AI, melainkan meningkatkan kapasitas guru.
Di era digital, peran guru telah bergeser. Mereka tidak lagi sekadar penyampai materi, tetapi juga menjadi pembimbing etika dan penjaga nilai dalam proses pembelajaran.
Guru dituntut untuk merancang metode penilaian yang lebih holistik tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga proses berpikir dan orisinalitas ide siswa.
Selain itu, sekolah juga perlu merumuskan kebijakan etika digital yang jelas agar penggunaan AI tetap berada dalam koridor yang tepat.
Masa Depan Pendidikan: Kolaborasi Manusia dan Mesin
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, satu hal tetap menjadi kesepakatan: AI tidak akan mampu menggantikan hubungan emosional antara guru dan siswa.
Dengan literasi AI yang kuat, guru diharapkan mampu menjadi kompas moral dalam dunia pendidikan.
Teknologi harus tetap dikendalikan oleh manusia, bukan sebaliknya.
Masa depan pendidikan bukan tentang memilih antara manusia atau mesin, melainkan bagaimana keduanya dapat berkolaborasi secara sehat dan beretika.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya