Jawa Pos Radar Lawu - Tren gaya hidup kembali bergeser di tahun 2026.
Jika sebelumnya media sosial dipenuhi konten unboxing barang mahal dan belanja besar-besaran, kini muncul fenomena baru bernama underconsumption core yang justru mengedepankan hidup hemat, sederhana, namun tetap estetik.
Perubahan ini terlihat jelas di platform seperti TikTok dan Instagram. Konten viral kini bukan lagi soal pamer barang baru, melainkan bagaimana seseorang memaksimalkan barang lama.
Mulai dari menghabiskan skincare sampai tetes terakhir hingga memperbaiki barang usang agar tetap layak pakai.
Fenomena ini menandai perubahan pola pikir generasi muda, khususnya Gen Z, yang mulai meninggalkan gaya hidup konsumtif.
Baca Juga: Gen Z vs Krisis Iklim: Peran Teknologi dalam Menyelamatkan Bumi di Era Digital 2026
Apa Itu Underconsumption Core?
Underconsumption core adalah tren gaya hidup yang menekankan penggunaan barang secara maksimal tanpa dorongan untuk terus membeli yang baru.
Filosofinya sederhana: jika barang masih bisa digunakan, tidak perlu diganti.
Gaya hidup ini muncul sebagai reaksi terhadap budaya overconsumption atau konsumsi berlebihan yang sempat mendominasi media sosial beberapa tahun terakhir.
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, tren ini dianggap lebih realistis dan relevan.
Bahkan, memamerkan kebiasaan hemat kini dianggap lebih “keren” dibanding menunjukkan kemewahan.
Bukan Minimalisme Biasa
Berbeda dengan tren minimalisme yang identik dengan membuang barang demi tampilan rumah estetik, underconsumption core justru berfokus pada pemanfaatan barang yang sudah dimiliki.
Contohnya:
- Botol atau gelas bekas dimanfaatkan kembali sebagai wadah minum
- Pakaian lama diperbaiki dengan teknik visible mending
- Produk kecantikan digunakan sampai benar-benar habis (project pan)
Pendekatan ini bukan soal estetika semata, tetapi juga efisiensi dan kesadaran konsumsi.
Normalisasi Tampilan “Used Look”
Dalam tren ini, barang yang terlihat usang justru memiliki nilai lebih. Sepatu yang mulai pudar, tas dengan patina alami, atau buku yang menguning dianggap memiliki cerita dan nilai sentimental.
Konsep ini sekaligus menghapus stigma bahwa barang harus selalu terlihat baru.
Bahkan, memakai outfit yang sama berulang kali kini dianggap sebagai simbol kecerdasan finansial, bukan sesuatu yang memalukan.
Baca Juga: TikTok Rayakan Hari Museum 2026, Ajak Generasi Muda Jelajahi Sejarah Lewat Tur Virtual
Capsule Wardrobe: Sedikit Tapi Maksimal
Salah satu praktik populer dalam underconsumption core adalah capsule wardrobe, yaitu memiliki sedikit pakaian namun bisa dipadupadankan.
Contoh isi lemari sederhana:
2 celana jeans (hitam dan biru)
3 kaos polos berkualitas
1 jaket atau blazer
1 kemeja putih
Dengan kombinasi ini, seseorang tetap bisa tampil variatif tanpa harus memiliki banyak pakaian.
Selain hemat biaya, konsep ini juga menghemat waktu dalam memilih outfit.
Dampak Positif: Finansial dan Lingkungan
Tren ini tidak hanya berdampak pada gaya hidup, tetapi juga pada kondisi finansial dan lingkungan.
Dari sisi keuangan:
- Mengurangi pembelian impulsif
- Membantu menjaga arus kas tetap sehat
- Mengalihkan pengeluaran ke kebutuhan yang lebih penting
Dari sisi lingkungan:
- Mengurangi limbah tekstil dan plastik
- Menekan konsumsi fast fashion
- Mendukung gaya hidup berkelanjutan
Tidak heran jika tren ini dianggap sebagai solusi di tengah ancaman resesi sekaligus krisis lingkungan.
Kritik dan Realita di Balik Tren
Meski populer, underconsumption core juga menuai kritik. Sebagian pihak menilai tren ini hanyalah “realitas lama yang dikemas ulang”, karena hidup hemat sebenarnya sudah lama dilakukan oleh banyak orang.
Namun, di sisi lain, tren ini tetap membawa dampak positif karena berhasil mengubah persepsi anak muda terhadap konsumsi dan gaya hidup.
Cara Memulai Underconsption Core
Bagi yang ingin mencoba, langkah awal yang bisa dilakukan antara lain:
- Menerapkan No Buy Month atau No Buy Year
- Menghabiskan stok barang yang sudah dimiliki
- Mengurangi belanja impulsif
- Memperbaiki barang sebelum memutuskan membeli baru
Langkah sederhana ini dapat membantu membangun kebiasaan konsumsi yang lebih bijak.
Baca Juga: Ritual Matcha Masa Kini: Tren Home Cafe Vibes ala Shopee yang Digemari Generasi Muda
Underconsumption core mengajarkan satu hal penting: merasa cukup. Kebahagiaan tidak lagi diukur dari banyaknya barang baru yang dimiliki, melainkan dari kemampuan mengelola apa yang sudah ada.
Di tengah tekanan sosial media dan kondisi ekonomi global, tren ini menjadi pengingat bahwa hidup sederhana bukan hanya pilihan, tetapi juga solusi yang cerdas dan berkelanjutan.(*)
*Nizaria Kusumastuti, Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani