Jawa Pos Radar Lawu – Menjelang Hari Raya Idulfitri 2026, aktivitas masyarakat mulai meningkat.
Salah satu fenomena yang kembali muncul setiap tahun adalah maraknya jasa tukar uang baru dengan berbagai pecahan kecil yang digunakan untuk kebutuhan Lebaran.
Layanan penukaran uang ini banyak ditemukan baik melalui media sosial maupun di pinggir jalan.
Para penyedia jasa menawarkan pecahan mulai dari Rp1.000, Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000 hingga Rp20.000 yang biasanya dibagikan kepada anak-anak atau kerabat saat Hari Raya Idulfitri.
Tradisi memberi uang kepada anak-anak saat Lebaran memang telah menjadi kebiasaan turun-temurun di masyarakat.
Biasanya uang diberikan setelah saling bersilaturahmi dengan keluarga maupun tetangga.
Karena itu, banyak orang sengaja menyiapkan uang dengan pecahan kecil agar lebih mudah dibagikan dan terlihat rapi.
Permintaan Uang Pecahan Baru Mulai Meningkat
Seiring perkembangan teknologi, cara masyarakat mendapatkan uang pecahan baru juga mulai berubah.
Jika sebelumnya banyak orang menukar uang langsung di bank atau mencari penjual di pinggir jalan, kini sebagian masyarakat memilih cara yang lebih praktis dengan memesan melalui media sosial.
April (21), salah satu penyedia jasa tukar uang, mengatakan bahwa permintaan biasanya mulai meningkat sejak pertengahan Ramadan.
“Biasanya mulai ramai pas sudah masuk pertengahan Ramadan. Banyak yang mencari uang pecahan kecil untuk dibagikan ke anak-anak,” ujar April.
Ia menambahkan bahwa dalam sehari bisa melayani beberapa pelanggan dengan berbagai permintaan pecahan uang.
Menurutnya, pecahan Rp5.000 dan Rp10.000 menjadi yang paling banyak diminati.
“Kalau sudah mendekati Lebaran biasanya makin ramai. Kebanyakan pesan pecahan Rp5.000 dan Rp10.000 karena nominalnya pas untuk dibagikan,” tambahnya.
Baca Juga: Pesanan Parcel Lebaran di Kota Madiun Tembus Ratusan Paket, UMKM Kebanjiran Order Jelang Hari Raya
Tarif Penukaran Uang Bisa Berbeda-beda
Selain menjadi kebutuhan masyarakat, jasa tukar uang baru juga membuka peluang usaha musiman bagi sebagian orang.
Dengan memanfaatkan momentum Ramadan dan Lebaran, layanan ini bisa memberikan tambahan penghasilan.
Umumnya penyedia jasa mengenakan biaya penukaran sekitar Rp10.000 untuk setiap transaksi Rp100.000.
Namun di beberapa lokasi, tarif bisa lebih tinggi tergantung pecahan uang yang diminta pelanggan.
Secara umum, tarif penukaran yang ditemukan di lapangan antara lain:
-
Sekitar 10 persen untuk pecahan Rp10.000 dan Rp20.000
-
Sekitar 15 persen untuk pecahan Rp5.000
-
Hingga 25 persen untuk pecahan Rp2.000
Artinya, jika seseorang menukar Rp100.000 menjadi pecahan Rp2.000, total uang yang harus dibayarkan bisa mencapai Rp125.000.
Meski demikian, beberapa penyedia jasa juga memberikan potongan harga jika pelanggan menukarkan uang dalam jumlah besar.
Modal Penukaran Bisa Capai Ratusan Juta
Di sejumlah lokasi, para penyedia jasa mengaku tidak selalu menggunakan uang pribadi sebagai modal.
Sebagian uang baru berasal dari pemodal atau “bos” yang menyediakan dana dalam jumlah besar.
Sistem yang digunakan biasanya berupa pinjaman modal uang baru yang kemudian dijual kembali kepada masyarakat.
Setelah selesai berjualan, para penyedia jasa harus mengembalikan modal tersebut kepada pemiliknya.
Modal yang disiapkan pun tidak sedikit. Dalam beberapa kasus, jumlahnya bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Dari sistem tersebut, para penyedia jasa biasanya hanya mengambil keuntungan kecil dari setiap transaksi, sekitar Rp3.000 untuk penukaran Rp100.000.
Baca Juga: Pesanan Parcel Lebaran di Kota Madiun Tembus Ratusan Paket, UMKM Kebanjiran Order Jelang Hari Raya
Dinilai Lebih Praktis oleh Masyarakat
Tri (23), salah satu warga yang menukar uang melalui jasa tersebut, mengaku memilih layanan tersebut karena lebih praktis dibanding harus datang ke bank dan mengantre.
“Kalau ke bank biasanya harus antre. Jadi lebih cepat tukar lewat jasa saja, tinggal pesan pecahan yang kita mau,” kata Tri.
Ia mengaku sengaja menukar uang pecahan kecil untuk dibagikan kepada keponakan dan anak-anak di lingkungan rumahnya saat Lebaran.
Masyarakat Diimbau Tetap Berhati-hati
Fenomena jasa tukar uang baru yang kembali marak setiap menjelang Lebaran menunjukkan bahwa tradisi berbagi masih sangat kuat di tengah masyarakat.
Namun masyarakat tetap diimbau untuk berhati-hati saat menukar uang di luar lembaga resmi.
Penting untuk memastikan uang yang diterima dalam kondisi baik dan asli agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Sebagai alternatif yang lebih aman, masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan penukaran uang resmi yang disediakan oleh Bank Indonesia maupun perbankan selama periode Ramadan hingga menjelang Lebaran.(*)
*Nizaria, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani