Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Fenomena Sahur On The Road Saat Ramadan: Antara Semangat Berbagi dan Potensi Gangguan Sosial

Mizan Ahsani • Kamis, 12 Maret 2026 | 11:40 WIB

Photo
Photo

Jawa Pos Radar Lawu - Menjelang waktu imsak, jalanan di berbagai kota mulai ramai.

Lampu kendaraan menyala, deru motor bersahut-sahutan, dan sekelompok anak muda terlihat membawa kotak nasi sambil melintas di jalanan.

Pemandangan tersebut kerap muncul setiap bulan Ramadan. Aktivitas itu dikenal dengan istilah Sahur On The Road (SOTR), sebuah kegiatan makan sahur di luar rumah yang biasanya disertai pembagian makanan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di satu sisi, kegiatan ini menghadirkan suasana kebersamaan dan kepedulian sosial yang khas di bulan suci.

Namun di sisi lain, Sahur On The Road juga sering menimbulkan persoalan ketika dilakukan tanpa aturan dan batasan yang jelas.

Lalu, bagaimana sebenarnya fenomena ini dilihat dari sudut pandang sosial dan nilai-nilai Islam?

Dari Gerakan Sosial ke Budaya Anak Muda

Secara sederhana, Sahur On The Road merupakan kegiatan berbagi makanan sahur yang dilakukan di jalan atau ruang publik.

Biasanya kegiatan ini digagas oleh komunitas pemuda, mahasiswa, hingga organisasi sosial.

Awalnya, aktivitas ini lahir dari semangat filantropi Islam. Banyak kelompok anak muda ingin mengisi malam Ramadan dengan kegiatan positif, seperti membagikan makanan kepada tukang becak, petugas kebersihan, atau warga yang masih bekerja pada dini hari.

Semangat berbagi tersebut sejalan dengan nilai solidaritas dalam Ramadan, yang mendorong umat Islam untuk memperbanyak sedekah dan kepedulian terhadap sesama.

Namun seiring waktu, fenomena Sahur On The Road mengalami perubahan. Di sejumlah daerah, kegiatan ini tidak lagi hanya berfokus pada aksi sosial, tetapi juga menjadi ajang konvoi kendaraan, hiburan malam, bahkan unjuk eksistensi kelompok tertentu.

Perubahan inilah yang kemudian memunculkan berbagai kritik dari masyarakat.

Baca Juga: Hati-Hati! Tontonan Anomali seperti Tung Tung Sahur Berdampak Buruk pada Anak

Makna Sahur dalam Islam

Dalam Islam, sahur bukan sekadar aktivitas makan sebelum berpuasa. Sahur memiliki nilai spiritual yang penting.

Rasulullah SAW bersabda:

"Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Keberkahan sahur tidak hanya berkaitan dengan kekuatan fisik untuk menjalani puasa, tetapi juga dengan niat ibadah, kebersamaan, serta kesempatan memperbanyak doa dan dzikir di penghujung malam.

Karena itu, sahur seharusnya menjadi momentum mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar kegiatan sosial yang kehilangan arah spiritual.

Batasan Sahur On The Road yang Sering Diabaikan

Islam mendorong umatnya untuk berbuat kebaikan, termasuk berbagi makanan kepada sesama. Namun setiap amal tetap memiliki batasan etika.

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan agar Sahur On The Road tetap bernilai ibadah.

1. Niat Berbagi karena Allah

Aktivitas berbagi makanan hendaknya dilakukan dengan niat sedekah, bukan demi popularitas kelompok atau konten media sosial.

Jika tujuan utama bergeser pada pencitraan atau viralitas, maka esensi ibadah bisa hilang.

2. Tidak Menimbulkan Mudarat

Dalam kaidah fikih disebutkan bahwa tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain.

Jika kegiatan Sahur On The Road memicu kemacetan, kebisingan, balapan liar, atau bentrokan antarkelompok, maka nilai kebaikannya bisa berubah menjadi perbuatan yang merugikan.

3. Menjaga Adab di Ruang Publik

Ibadah sosial juga harus mencerminkan akhlak yang baik. Artinya, kegiatan berbagi tetap harus menjaga ketertiban, sopan santun, dan menghormati kenyamanan masyarakat.

Tanpa adab tersebut, tujuan kebaikan justru bisa menimbulkan persepsi negatif di masyarakat.

Baca Juga: Rekomendasi Menu Sahur dan Berbuka Low Budget: Lezat, Bergizi, dan Hemat

Ketika Sahur On The Road Berubah Menjadi Euforia

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pemerintah daerah dan aparat kepolisian bahkan sempat membatasi konvoi Sahur On The Road.

Hal ini dipicu oleh berbagai kejadian seperti balapan liar, tawuran, hingga tindak kriminal yang terjadi saat rombongan konvoi sahur berlangsung.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sebagian kegiatan SOTR telah bergeser dari semangat berbagi menjadi sekadar euforia malam Ramadan.

Padahal, esensi Ramadan justru terletak pada pengendalian diri, bukan pelampiasan energi tanpa arah.

Alternatif Sahur Berkah yang Lebih Aman

Meski begitu, semangat berbagi sahur tetap bisa dilakukan dengan cara yang lebih tertib dan efektif.

Beberapa komunitas kini mengubah konsep kegiatan mereka menjadi program sosial yang lebih terorganisir, seperti:

Model kegiatan seperti ini dinilai lebih tepat sasaran dan meminimalkan potensi konflik di ruang publik.

Antara Kebaikan dan Konten Media Sosial

Di era media sosial, kegiatan Sahur On The Road juga sering menjadi bahan konten di platform digital.

Banyak video kegiatan berbagi sahur diunggah ke Instagram atau TikTok dengan berbagai tagar kebaikan.

Dokumentasi tentu bukan hal yang salah, bahkan bisa menginspirasi orang lain untuk berbagi. Namun refleksi tetap diperlukan agar kegiatan sosial tidak berubah menjadi ajang pencitraan.

Sebab pada akhirnya, nilai kebaikan tidak diukur dari jumlah tayangan video, tetapi dari ketulusan niat dalam membantu sesama.

Baca Juga: 5 Tradisi Membangunkan Sahur yang Cuma Ada di Indonesia, Daerahmu Namanya Apa? 

Cermin Wajah Ramadan di Ruang Publik

Sahur On The Road pada dasarnya dapat menjadi simbol solidaritas sosial selama Ramadan.

Jika dilakukan dengan tertib, penuh empati, dan niat yang tulus, kegiatan ini bisa menjadi contoh indah kepedulian generasi muda terhadap sesama.

Namun jika berubah menjadi ajang hura-hura atau konvoi yang mengganggu masyarakat, maka makna spiritualnya justru akan hilang.

Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang menahan ego, emosi, dan keinginan untuk tampil berlebihan.

Di penghujung malam menjelang imsak, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi di mana kita bersahur, melainkan untuk apa kita bersahur: sekadar berkumpul atau benar-benar menumbuhkan ketakwaan.(*)

*Nizaria, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Mizan Ahsani
#sahur on the road #ramadhan #medsos #fenomena #sahur #umat islam #alternatif #Euforia