JEMBER, Jawa Pos Radar Lawu – Kemeriahan mewarnai perayaan anniversary perdana Academy Modeling Jember yang digelar sebagai ajang uji kompetensi sekaligus penjaringan bakat anak muda di dunia modeling, Minggu (21/12/2025).
Acara ini menjadi ruang tampil bagi para model, desainer, hingga pelaku industri kreatif dari berbagai daerah.
Coach Academy Modeling Jember Meiyola Berliana mengungkapkan, perayaan anniversary ini awalnya sempat diragukan untuk digelar karena banyaknya tantangan. Namun berkat dukungan berbagai pihak, acara akhirnya bisa diwujudkan.
“Awalnya tidak berani karena tantangannya banyak sekali. Tapi ada yang support, banyak orang yang menyediakan ruang, dan karena beberapa ide gila, akhirnya digelar ini,” ujarnya.
Meiyola menjelaskan, anniversary ini memiliki konsep berbeda. Selain sebagai perayaan ulang tahun, kegiatan ini juga menjadi sarana uji kompetensi bagi para anak anak muda di Jember (diluar akademi), khusus anak didik justru tidak diperbolehkan mengikuti kompetisi pada Minggu kemarin.
“Tujuannya anniversary ini dibuka untuk uji kompetensi bibit unggul dijember, terlebih untuk anak-anak diluar model academy. dengan syarat khusus acara kemarin anak didik tidak boleh ikut kompetisi,” jelasnya.
Tak hanya menghadirkan model-model binaan, acara ini juga melibatkan 17 desainer dari berbagai daerah seperti Banyuwangi, Lumajang, Probolinggo, dan wilayah lainnya. Kolaborasi tersebut menambah warna sekaligus memperluas jejaring industri kreatif lintas daerah.
Meiyola menegaskan, Academy Modeling Jember tidak hanya fokus pada catwalk.
“Aku punya sekolah yang tidak hanya mengajarkan catwalk, lebih dari itu seperti berani tampil, public speaking, mengerti dunia fashion dan pariwisata juga,” katanya. Academy Modeling Jember sendiri berlokasi di sebelah Rosalina, Kabupaten Jember.
Saat ini, Academy Modeling Jember telah memiliki sekitar 50 murid dengan biaya pendaftaran khusus sebesar Rp500 ribu dan spp Rp250 ribu per bulan. Sejumlah anak didiknya bahkan telah meraih prestasi tingkat nasional.
“Alhamdulillah, anak didik aku berhasil meraih prestasi nasional. Bahkan sampai ke internasional. Ini acara anniversary model academy perdana, setelah 3 tahun berdiri, besar harapan kami tahun berikutnya bisa mengadakan acara seperti ini lagi” imbuh Meiyola yang ikut mengajak salah satu anak didik yang cukup berprestasi yaitu Nurul Aulia seorang wanita yang masih duduk di bangku sekolah menengah kedua di kabupaten Jember.
Nurul Aulia wanita umur 16 tahun asal Sumbersari Jember,pertama kali terjun ke dunia modeling pada usia 4 tahun dan juga berkat support dari kedua orang tua Aulia optimistis untuk terus berkarya di dunia modeling terbukti beberapa kali menjadi kontestan event modeling di beberapa event bergengsi tentunya Rating juga turut di berikan oleh Aulia untuk acara kemarin.
“Rating 1000/10 dan berharap juga untuk kedepannya di jember akan terus ada event modeling seperti ini karena sangat mendukung lahirnya talenta talenta selanjutnya.”
Dukungan juga datang dari kalangan desainer. Davin Moe, salah satu desainer yang terlibat, memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan acara.
“Rating acara 10. Biasanya acara seperti ini hanya ada di luar Jember, seperti surabaya dan kota besar lain nya. Untuk model sendiri membuat mereka benar benar merasakan ini panggung mereka, jadi positif untuk mengasah bakat dunia modeling, lebih menonjol setelah acara ini” ungkapnya.
Davin juga menampilkan karya dengan nilai budaya tinggi. Kostum yang ditampilkan merupakan busana yang pernah dipakai pemenang Putri Indonesia dan dibawa ke miss supranational Polandia, baju tersebut memiliki makna yang sangat dalam.
Baju tersebut mengusung ikon Borobudur dan budaya Indonesia, David Moe akhirnya memutuskan untuk membawa borobudur sebagai 7 keajaiban dunia. dengan tema relief yang dilukis tangan.
“Filosofinya mengangkat budaya Indonesia, mendekatkan kepada Tuhan, dasar dasar manusia. setiap manusia harus kembali ke budaya sendiri,” jelasnya. Ia bekerja bersama tim berjumlah 13 orang dan bertindak sebagai leader.
Dari sisi model, Divena Refi mengaku aktif sebagai talenta Jember Fashion Carnaval dan ingin membuktikan bahwa bakat modeling juga bisa lahir dari desa.
“Saya dari desa di mulbusari, saya ingin membuktikan bahwa berkarya di dunia modeling, tidak hanya dari kota” ujarnya. Ia berharap ke depan akan muncul bibit unggul dari desa-desa di Jember yang mampu berprestasi.
Hal senada disampaikan Jessyly Neanggel, model asal Jember yang bekerja di Bank Jatim tanggul. Ketertarikannya pada dunia modeling bermula dari dorongan orang tua hingga tumbuh dari keinginan pribadi.
“Saya tertarik ikut dunia model awalnya dari orang tua, kemudian muncul dari diri sendiri,” katanya.
Sementara itu, salah satu wali murid sekaligus penjahit, yang juga dikenal sebagai Papa Farda, mengungkapkan keterlibatannya dalam penyediaan busana.
“Kami pakai warna fusia, karena warna favorit guru yang mengajar di sini. Pengerjaan dua hari selesai” ujarnya. Ia menilai acara ini menjadi wadah promosi sekaligus pasar bagi karya desainer dan penjahit lokal.
“Rating event ini 9,8 menurut saya. Baru pertama setelah tiga tahun, dan ini sukses. Guru kita ngajarnya top,” tuturnya.
Melalui perayaan anniversary ini, Academy Modeling Jember berharap dunia modeling di daerah bisa kembali tumbuh secara sehat dan melahirkan prestasi.
“Harapannya dunia modeling biar sehat kembali dan bisa berprestasi,” pungkas Meiyola. (kid)
Editor : Nur Wachid