Jawa Pos Radar Lawu – Momen saat anak menangis histeris, meronta, bahkan berguling di lantai sering kali membuat orang tua kewalahan.
Fase ini dikenal sebagai tantrum, dan meskipun melelahkan, tantrum adalah bagian normal dari proses tumbuh kembang anak.
Tantrum biasanya muncul saat anak belum bisa menyampaikan perasaan atau keinginannya secara verbal.
Meski terlihat seperti “drama”, sejatinya ini adalah bentuk komunikasi awal anak tentang frustrasi, kelelahan, atau butuh perhatian.
Alih-alih marah atau memberikan hukuman, disiplin positif adalah pendekatan terbaik untuk menghadapi tantrum.
Menurut CDC dan Parents.com, disiplin positif membantu membangun kedekatan emosional sambil menetapkan batas yang jelas tanpa kekerasan.
Berikut 6 tips menghadapi anak tantrum yang bisa diterapkan dengan tenang dan efektif.
1. Pahami Tantrum Sebagai Bahasa Emosi Anak
Tantrum adalah sinyal. Bisa jadi anak lapar, ngantuk, bosan, atau hanya butuh diperhatikan.
Saat memahami bahwa ini cara anak berkomunikasi, orang tua akan lebih mudah merespons dengan empati, bukan emosi.
Tips: Sebelum menanggapi, tanyakan: “Apa sebenarnya yang anak saya rasakan sekarang?”
2. Tetap Tenang dan Validasi Perasaannya
Menghadapi tantrum dengan marah hanya akan memperpanjang ledakan emosi. Cobalah duduk sejajar dengan anak, tatap matanya, dan katakan dengan lembut:
“Mama tahu kamu lagi marah banget, nggak apa-apa.”
Ini mengajarkan bahwa emosi mereka tidak salah—namun harus dikelola.
3. Gunakan Teknik “Ignore & Redirect” Saat Anak Mencari Perhatian
Jika tantrum muncul karena ingin diperhatikan, cukup abaikan sejenak (ignore) dan alihkan fokus anak ke hal yang lebih positif (redirect). Misalnya, ajak menggambar atau membaca buku bersama.
Kunci suksesnya: Tetap tenang dan jangan reaktif. Anak akan belajar bahwa menangis bukan cara efektif mendapatkan perhatian.
4. Ganti Hukuman Time-Out dengan Time-In
Alih-alih menyuruh anak ke pojok ruangan, cobalah time-in: tetap berada di dekat anak, tanpa memaksa mereka diam. Katakan “Ibu di sini kalau kamu sudah siap.”
Setelah tantrum reda, bantu anak mengenali emosinya:
“Tadi kamu marah karena mainannya diambil ya?”
Ini akan membantu mereka mengungkapkan perasaan secara verbal, bukan dengan teriakan atau menangis. (cor)
Editor : Andi Chorniawan