Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Wuling Terbakar di Bandung hingga SPKLU Langka! Ini 5 Alasan Tak Perlu Buru-Buru Beli Mobil Listrik

Nur Wachid • Selasa, 8 Juli 2025 | 20:17 WIB

Mobil listrik.
Mobil listrik.

Jawa Pos Radar Lawu – Insiden terbakarnya mobil listrik Wuling Air EV di Bandung baru-baru ini menjadi pengingat bahwa euforia terhadap kendaraan listrik di Indonesia belum sepenuhnya sejalan dengan kesiapan infrastruktur maupun perlindungan konsumen.

Video kejadian yang viral di media sosial memicu perdebatan publik, tak terkecuali di kanal-kanal YouTube yang mengulas secara kritis kondisi riil kendaraan listrik di Tanah Air.

Salah satu ulasan yang menarik perhatian datang dari kanal YouTube Chris Delano, yang menyajikan lima alasan utama mengapa konsumen sebaiknya tidak terburu-buru membeli mobil listrik saat ini.

Ulasan ini menjadi suara alternatif di tengah gelombang promosi dan insentif pemerintah yang terus digencarkan untuk mendorong adopsi kendaraan ramah lingkungan.

1. SPKLU Masih Langka dan Belum Merata

Meski jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) terus bertambah, distribusinya masih sangat timpang.

Di luar kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, pengguna mobil listrik masih kesulitan menemukan titik pengisian yang memadai.

Dalam videonya, Chris mencontohkan pengalaman antre panjang di rest area tol Trans Jawa karena hanya tersedia satu charger yang aktif.

Hal ini tentu merepotkan, terutama untuk perjalanan jarak jauh yang menuntut kepastian infrastruktur.

2. Harga Masih Tinggi dan Belum Terjangkau

Meskipun beberapa model ditawarkan dengan insentif PPN dan subsidi, harga mobil listrik masih tergolong mahal jika dibandingkan dengan mobil konvensional sekelasnya.

Baca Juga: Motor Trail Mini Seharga Rp 3 Jutaan! Gazgas Mini Dirt Bike 50cc Tak Kalah Tangguh di Medan Off-Road 

Ironisnya, di negara asalnya seperti China atau Jepang, harga model yang sama justru bisa lebih murah.

“Belum terjangkau untuk semua kalangan,” sebut Chris dalam videonya yang diunggah awal Juli 2025.

3. Nilai Jual Kembali yang Tidak Menentu

Berbeda dengan mobil bermesin konvensional, mobil listrik belum memiliki pasar bekas yang stabil.

Salah satu penyebabnya adalah faktor degradasi baterai dan kemajuan teknologi yang sangat cepat.

Mobil listrik keluaran dua tahun lalu bisa dianggap “usang” oleh calon pembeli mobil bekas karena spesifikasi barunya berkembang pesat.

4. Biaya Ganti Baterai Masih Selangit

Kelebihan mobil listrik memang ada pada efisiensi dan biaya operasional harian yang rendah.

Namun, setelah masa garansi habis, konsumen bisa terbebani oleh biaya penggantian baterai yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah tergantung merek dan kapasitas.

“Ini semacam bom waktu kalau kita tidak siap dengan biaya jangka panjang,” jelas Chris dalam narasinya.

5. Tidak Cocok untuk Semua Gaya Hidup

Terakhir, mobil listrik belum tentu cocok untuk semua gaya hidup atau kebutuhan mobilitas masyarakat.

Baca Juga: Resep Es Teler Sultan Super Creamy dengan Rasa Nendang yang Bikin Sekeluarga Ketagihan Nambah Terus!

Bagi mereka yang sering bepergian jauh, tinggal di pedesaan, atau tidak punya akses ke listrik rumah yang stabil, mobil listrik bisa jadi justru menambah beban.

Bahkan untuk kalangan perkotaan, kendala parkir, ketersediaan charging port di apartemen, hingga waktu charging yang lama menjadi persoalan tersendiri. (kid)

Editor : Nur Wachid
#spklu langka #wuling terbakar #fakta #mobil listrik