Jawa Pos Radar Lawu - Merek JAWA mungkin masih terdengar asing di telinga sebagian besar pecinta motor di Indonesia.
Padahal, JAWA merupakan salah satu produsen roda dua legendaris asal Ceko yang sudah eksis sejak 1929.
Nama JAWA sendiri berasal dari gabungan antara pendirinya, Frantisek Janecek, dengan perusahaan Jerman Wanderer, yang divisinya diakuisisi untuk mengembangkan motor bermesin 500cc empat tak pertama mereka.
Baca Juga: Tantangan Berat Persema di 32 Besar Liga 4 Putaran Nasional 24/25: Siap Taklukkan Grup Neraka?
Di masa kejayaannya, terutama era 1950–1970-an, JAWA dikenal luas di lebih dari 120 negara berkat motor dua tak andalannya seperti JAWA 250 dan JAWA 350.
Motor-motor tersebut menjadi ikon di banyak negara, khususnya di kawasan Eropa Timur, Asia, hingga Amerika Latin.
Sayangnya, runtuhnya komunisme dan perubahan iklim industri otomotif membuat JAWA mengalami kemunduran drastis.
Baca Juga: 4 Rekomendasi Parfum Aroma Mint Segar yang Bikin Hari Makin Fresh
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, JAWA berhasil bangkit dan merilis model-model baru.
Seperti JAWA 350 OHC, yang memadukan desain retro klasik dengan teknologi modern seperti sistem injeksi bahan bakar elektronik (EFI) dan anti-lock braking system (ABS).
Sementara itu, Royal Enfield memiliki perjalanan sejarah yang sedikit berbeda.
Baca Juga: Laskar Ketonggo Berburu Tiket 16 Besar! Cek Jadwal Lengkap Persinga Ngawi di Liga 4
Didirikan di Inggris pada tahun 1901, Royal Enfield dikenal lewat model legendaris Bullet yang lahir pada 1932.
Meski sempat mengalami kejatuhan di tanah kelahirannya, Royal Enfield menemukan kehidupan baru di India.
Sejak 1955, produksi Royal Enfield berlanjut di Chennai dan berkembang menjadi salah satu merek motor klasik paling kuat di pasar global.
Kini, Royal Enfield memproduksi berbagai model berbasis desain retro Inggris seperti Classic 350 dan Meteor 350, yang dipadukan dengan teknologi mesin Euro 5 modern.
Jika dibandingkan, baik JAWA maupun Royal Enfield tetap setia mempertahankan DNA klasik mereka.
Baca Juga: Laskar Ketonggo Berburu Tiket 16 Besar! Cek Jadwal Lengkap Persinga Ngawi di Liga 4
JAWA lebih mengusung gaya retro khas Eropa Timur dengan desain ramping dan minimalis, sementara Royal Enfield membawa aura klasik kolonial Inggris yang lebih besar dan kokoh.
Dari sisi teknologi, keduanya telah mengadopsi sistem EFI dan ABS untuk mengikuti regulasi emisi global dan meningkatkan aspek keselamatan.
Namun, dalam hal ekspansi pasar, Royal Enfield jauh lebih agresif.
Baca Juga: Rekomendasi Parfum Bertema Soap Fragrance: Wangi Clean, Soft, dan Simplistic
Produksinya massal dan distribusinya kini mencakup berbagai negara, termasuk Indonesia, dengan jaringan diler dan layanan purna jual yang luas.
Sedangkan JAWA, meski sudah melakukan kebangkitan dengan model-model baru, tetap bergerak lebih terbatas dan eksklusif.
Serta hingga saat ini belum secara resmi masuk ke pasar Indonesia dalam skala besar.
Baca Juga: Siapa Aura Cinta? Debat dengan Dedi Mulyadi Soal Perpisahan, Begini Endingnya
Harga juga menjadi pembeda lain. Model-model JAWA seperti JAWA 350 biasanya dijual di kisaran Rp 50–70 jutaan, sedangkan Royal Enfield Classic 350 di Indonesia dibanderol mulai Rp 80 jutaan.
Selisih harga ini mencerminkan positioning keduanya di pasar: JAWA sebagai motor klasik eksklusif bagi kolektor, dan Royal Enfield sebagai motor klasik modern yang lebih mainstream.
Baca Juga: Cerita Misteri Plang Jalur Pendakian Gunung Lawu, Pemuda Ini Diteror Suara Cekikan
Pada akhirnya, pilihan antara JAWA dan Royal Enfield bergantung pada karakter pengendara.
Bagi yang mencari motor klasik langka dengan sejarah Eropa Timur, JAWA bisa menjadi pilihan menarik.
Sedangkan bagi yang menginginkan motor klasik tangguh dengan layanan purna jual terjamin dan kemudahan perawatan di Indonesia, Royal Enfield jelas menjadi opsi yang lebih logis. (gar/kid)
Editor : Nur Wachid