Jawa Pos Radar Lawu -Siapa sangka? Generasi yang dulu dicap baperan, overthinking, dan tukang scroll TikTok sekarang udah mulai masuk fase jadi emak-bapak muda!
Yup, Gen Z yang lahir di akhir '90-an sampai awal 2010-an, pelan-pelan bertransformasi dari anak meme jadi emak-emak dan bapak-bapak yang gemesin tapi cerdas.
Parenting ala Gen Z tuh beda lho.
Nggak sekadar ikut tren, tapi punya visi buat bikin anak tumbuh dengan sehat, bahagia, dan tetap punya ruang jadi diri sendiri.
1. Jadi Orang Tua, Tapi Kayak Kakak Mentor
Lupakan gaya parenting ala militer yang serba "jangan" dan "harus nurut." Gen Z lebih milih jadi pendengar dan teman diskusi buat anak.
Mereka ngerti anak butuh ruang buat mikir, nanya, dan eksplor.
Jadi, daripada maksa anaknya, mereka pilih ajak ngobrol:
“Kenapa kamu ngerasa kayak gitu?” atau “Yuk cari tahu bareng.”
Lebih fleksibel, lebih connect, dan pastinya lebih ngena di hati anak.
2. Mental Health Itu Penting, Validasi Emosi Itu Wajib
Gen Z tuh generasi paling melek soal perasaan.
Dari inner child, healing, sampai journaling, mereka paham banget.
Nggak heran, mereka ngajarin anak buat kenal emosi sejak kecil.
Anak nangis? Bukan disuruh diam, tapi diajak peluk dan ditenangin.
Mereka tahu, marah itu normal, sedih itu manusiawi, dan bahagia itu bukan soal pencitraan.
3. Quality Time Bukan Basa-Basi
Main bareng anak bukan cuma "nemenin," tapi bener-bener ikutan nyemplung.
Dari main Lego sampai nyanyi lagu anak-anak, semua dilakuin bareng.
Bahkan, banyak Gen Z yang sambil bikin konten lucu bareng anak—bukan buat viral, tapi buat memori manis yang bisa dikenang nanti.
4. Gadget Nggak Dilarang, Tapi Diajarin
Daripada larang-larang anak main HP, Gen Z lebih pilih ngajarin cara pakainya.
Mereka tahu, dunia digital itu realitas.
Tapi mereka juga tahu cara nge-balance: mana konten yang oke, kapan waktunya screen time, dan kapan waktunya main di dunia nyata.
Anak-anak jadi ngerti teknologi, bukan jadi korban teknologi.
5. Jadi Orang Tua Tapi Tetap Jadi Diri Sendiri
Yang keren dari Gen Z, mereka nggak lupa jadi diri sendiri.
Skincare tetap jalan, drakor tetap lanjut, dan nongkrong sama temen juga penting.
Karena menurut mereka, orang tua yang bahagia = anak yang bahagia juga.
Self-care bukan selfish, tapi bentuk cinta ke keluarga.! (fin)
Editor : AA Arsyadani