Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Dari Shopping Haul ke Undercomsumtion, Gaya Hidup Hemat atau Sekedar Fenomena Sesaat?

Davita Dyah Ayu • Selasa, 11 Februari 2025 | 22:03 WIB
Tren underconsumption core juga mengingatkan kita pada prinsip 3R,
Tren underconsumption core juga mengingatkan kita pada prinsip 3R,

Jawa Pos Radar Lawu - Dalam beberapa tahun terakhir, tren video di YouTube yang menampilkan influencer yang menunjukkan barang-barang yang mereka beli, seperti koleksi makeup, skincare, dan pakaian, sangat populer di media sosial.

Hal ini memberi kesan bahwa memiliki barang-barang tertentu dapat menghasilkan kebahagiaan dan kesempurnaan.

Sayangnya, sangat sulit bagi banyak orang untuk menahan keinginan mereka untuk mengikuti rekomendasi tersebut.

Siklus konsumtif terus berlanjut, orang membeli sesuatu dengan harapan akan membuat mereka bahagia, tetapi pada akhirnya mereka merasa tidak puas dan membeli sesuatu yang lain.

Konten seperti ini seringkali membuat orang ingin meniru gaya hidup mereka untuk mendapatkan pengalaman menyenangkan atau menggembirakan, seperti yang ditunjukkan dalam video mereka.

Tren ini bagaimanapun, tidak bertahan lama.

Meningkatnya kesadaran akan dampak konsumsi berlebihan terhadap lingkungan, sosial, dan tekanan ekonomi, terutama di kalangan Gen Z dan milenial, mendorong munculnya gerakan baru yang menentang budaya konsumtif.

Istilah  underconsumption core menjadi viral di media sosial, terutama di TikTok, sebagai kontras dari konsumsi berlebihan.

Masyarakat didorong untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih sederhana, hemat, dan berkelanjutan melalui gerakan ini.

Memanfaatkan kembali barang yang sudah ada, membeli barang hanya jika benar-benar dibutuhkan, dan menggunakan barang hingga habis atau rusak adalah fokus dari underconsumption core.

Tren underconsumption core juga mengingatkan kita pada prinsip 3R, yang berarti mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang.

Sebelum mempertimbangkan daur ulang, menurut Ira, pengurangan seharusnya menjadi prioritas utama.

Di tengah masalah perubahan iklim dan peningkatan limbah rumah tangga, gerakan ini semakin penting.

Banyak pengguna internet mendukung tren ini dengan membagikan nasihat tentang cara hidup yang lebih minimalis, mulai dari mengurangi pengeluaran impulsif hingga memanfaatkan kembali barang bekas.

Gerakan underconsumption core menjadi penting dan bermanfaat bagi banyak orang.

Kehadirannya di platform media sosial seperti Instagram dan TikTok membantu menanamkan pola pikir yang lebih sadar dan cerdas tentang cara berbelanja.

Dengan semakin banyaknya orang yang menyadari dampak konsumsi berlebihan, diharapkan tren ini tidak hanya menjadi fenomena sementara, tetapi berubah menjadi gaya hidup yang lebih berkelanjutan dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup di masa depan. (*)

Editor : Riana M.
#hemat #Shopping Haul #fenomena #gaya hidup #underconsumption #tren