Jawa Pos Radar Lawu - Pernah merasa ada tembok tak terlihat yang membatasi komunikasi dengan pasangan atau orang terdekat?
Meski berbicara, seolah ada jarak emosional yang sulit dijembatani.
Fenomena ini dikenal sebagai stonewalling, yaitu kondisi di mana seseorang sengaja menutup diri dan menghindari percakapan, biasanya untuk menghindari konflik.
Namun, jika dibiarkan terus-menerus, stonewalling dapat membuat hubungan menjadi dingin, penuh kebuntuan, dan jauh dari keintiman.
Stonewalling sering kali terjadi tanpa disadari, tetapi dampaknya bisa sangat besar.
Ketika salah satu pihak menghindari komunikasi, konflik tetap tak terselesaikan, rasa sakit hati bertumpuk, dan hubungan kehilangan kehangatan.
Jika pasangan atau sahabat mulai menghindari diskusi penting, sering tidak merespons, atau bahkan diam saat menghadapi masalah, bisa jadi Anda sedang berada dalam fase stonewalling.
Penyebab dan Dampak Stonewalling
Ada berbagai alasan mengapa seseorang melakukan stonewalling.
Beberapa di antaranya adalah takut memperburuk situasi, mereka memilih untuk diam, tidak siap secara emosional untuk menghadapi perdebatan, dan kesulitan mengekspresikan perasaan atau pendapat.
Namun, pilihan untuk diam ini sering kali merusak hubungan secara psikologis.
Orang yang menjadi korban stonewalling dapat merasa diabaikan, tidak dihargai, dan bahkan mengalami trauma emosional.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan depresi atau perasaan terasing.
Menurut Lianne Avila, Terapis Perkawinan dan Keluarga Berlisensi, stonewalling dapat dianggap sebagai bentuk pelecehan emosional atau mental karena dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan psikologis seseorang.
Bagaimana Mengatasi Stonewalling?
Menghentikan stonewalling membutuhkan komitmen dari kedua belah pihak, terutama dari orang yang melakukannya.
Langkah pertama yang disarankan oleh Lianne Avila, Terapis Perkawinan dan Keluarga Berlisensi, adalah menenangkan diri secara fisiologis sebelum melanjutkan percakapan.
Ketika emosi mereda, seseorang akan lebih mudah untuk berpikir jernih dan menghadapi masalah dengan kepala dingin.
Selain itu, penting untuk mengelola konflik dengan cara yang lebih sehat, seperti berbicara dengan nada tenang dan memilih waktu yang tepat untuk mendiskusikan hal-hal sulit.
Bagi mereka yang menjadi korban stonewalling, penting untuk memberikan waktu kepada pasangan agar mereka dapat menenangkan diri.
Jangan memaksakan obrolan saat suasana masih panas, karena hal itu justru dapat memperburuk situasi.
Setelah keadaan lebih kondusif, cobalah sampaikan dengan lembut bahwa Anda tidak menentang mereka, melainkan ingin bekerja sama untuk menemukan solusi.
Langkah-langkah sederhana ini, jika diterapkan dengan konsisten, dapat membantu membuka jalan untuk dialog yang lebih terbuka dan hubungan yang lebih sehat.
Stonewalling bukan akhir dari segalanya. Dengan kesadaran, kesabaran, dan komunikasi yang baik, hubungan dapat kembali hangat dan harmonis.
Jika Anda merasa menghadapi situasi ini, jangan ragu untuk meminta bantuan profesional seperti terapis keluarga atau pasangan untuk mendapatkan panduan lebih lanjut. (*)
Editor : Riana M.