Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Awas Ini 5 Bahaya Sharenting Bagi Anak, Orang Tua Harus Pahami Dampaknya!

Davita Dyah Ayu • Jumat, 10 Januari 2025 | 15:13 WIB
Bahaya Sharenting Bagi Anak salah satunya hilangnya privasi
Bahaya Sharenting Bagi Anak salah satunya hilangnya privasi

Jawa Pos Radar Lawu - Dalam era digital saat ini, banyak orang tua yang terbiasa membagikan momen-momen lucu, menggemaskan, atau membanggakan tentang anak-anak mereka di media sosial.

Fenomena ini dikenal dengan istilah sharenting, gabungan dari kata share (berbagi) dan parenting (mengasuh anak).

Meskipun tampaknya menjadi cara untuk merayakan kehidupan keluarga, penting bagi orang tua untuk memahami batasan dan potensi risiko dari sharenting.

Sharenting sangat populer di kalangan generasi milenial. Namun, sejumlah pakar perlindungan anak mengingatkan bahwa kebiasaan ini dapat membawa dampak negatif, bahkan berbahaya bagi anak-anak.

Orang tua sering kali tidak menyadari bahwa mereka bisa menjadi sumber risiko bagi privasi dan keamanan anak mereka sendiri.

Dengan niat baik seperti membagikan momen bahagia atau membangun citra positif anak, mereka mungkin tidak memperhatikan konsekuensi jangka panjang yang ditimbulkan.

Berikut adalah beberapa dampak signifikan dari sharenting pada anak:

  1. Kehilangan Privasi

Ketika orang tua terus-menerus membagikan foto, video, atau informasi pribadi tentang anak mereka, anak kehilangan privasi.

Identitas digital mereka terbentuk sejak dini tanpa persetujuan mereka, yang dapat memengaruhi bagaimana mereka dipandang oleh orang lain di masa depan.

Anak juga mungkin merasa kehilangan kendali atas citra diri mereka.

  1. Potensi Bullying dan Cyberbullying

Konten yang dibagikan oleh orang tua dapat menjadi bahan ejekan di sekolah atau digunakan untuk bullying.

Apa yang dianggap lucu oleh orang tua mungkin dipersepsikan berbeda oleh teman-teman anak atau orang lain.

Dalam kasus yang lebih serius, pelaku cyberbullying dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk menyerang anak secara online.

  1. Perasaan Malu atau Tidak Nyaman

Saat anak tumbuh dewasa, mereka mungkin merasa malu dengan foto atau cerita yang pernah dibagikan orang tua mereka.

Hal ini dapat mengganggu hubungan orang tua-anak dan memicu konflik. Anak mungkin merasa terekspos dan kehilangan rasa percaya diri karena momen-momen pribadi mereka dipublikasikan tanpa izin.

  1. Risiko Keamanan

Informasi yang dibagikan secara online, seperti lokasi atau rutinitas anak, dapat disalahgunakan oleh pihak yang memiliki niat buruk, seperti penculikan, pencurian identitas, atau eksploitasi. Bahkan, foto polos anak dapat menjadi sasaran pelaku kejahatan seksual.

  1. Dampak Psikologis

Menurut UNICEF, sharenting tanpa meminta izin anak dapat menghambat pemahaman mereka tentang konsep persetujuan (consent).

Hal ini dapat membuat anak merasa kurang dihargai, bahkan tertekan untuk memenuhi ekspektasi publik yang diciptakan oleh orang tua. Stres dan kecemasan pun dapat timbul akibat tekanan ini.

  1. Keterbatasan Ruang untuk Mengekspresikan Diri

Citra yang diciptakan oleh orang tua di media sosial dapat membatasi anak untuk mengeksplorasi identitas mereka sendiri.

Anak mungkin merasa terikat pada gambaran tertentu yang dipublikasikan oleh orang tua, sehingga sulit bagi mereka untuk mengekspresikan diri secara bebas.

  1. Kesadaran Dini tentang Media Sosial

Anak-anak yang tumbuh dengan paparan media sosial sejak dini mungkin menjadi terlalu memperhatikan penampilan dan citra diri mereka secara online.

Ketergantungan pada validasi sosial dari like, komentar, dan share dapat memengaruhi cara mereka menilai harga diri. (*)

Editor : Riana M.
#sharenting #dampak #konsekuensi #parenting #anak #pola pengasuhan #era digital #orang tua