Jawa Pos Radar Lawu - Cinta di awal hubungan sering kali terasa sempurna. Dunia seolah lebih cerah, suasana hati bahagia, dan pasangan terlihat tanpa cela.
Fenomena ini dikenal dengan istilah puppy love, yang sering diartikan sebagai cinta monyet atau cinta pertama yang intens, namun hanya berlangsung dalam waktu singkat.
Menurut Better Help, sebuah platform kesehatan mental yang artikelnya telah ditinjau oleh terapis dan konselor profesional April Justice, LICSW, dan Nikki Ciletti, M.Ed, LPC, puppy love adalah fase awal dalam hubungan asmara yang penuh gairah.
Pada tahap ini, seseorang cenderung merasakan euforia seolah-olah telah menemukan "cinta sejati pada pandangan pertama".
Pada fase ini, perhatian dan kasih sayang kepada pasangan begitu besar, hingga sering kali orang hanya fokus pada kelebihannya dan mengabaikan kekurangannya.
Kenapa Puppy Love Disebut Cinta Monyet?
Istilah cinta monyet kerap dikaitkan dengan cinta remaja yang penuh keceriaan, kebahagiaan, dan semangat.
Perasaan ini membuat seseorang merasa seperti berjalan-jalan di taman bunga. Tak heran, cinta monyet umumnya dialami oleh remaja yang baru mengenal arti cinta.
Namun, puppy love sebenarnya tidak terbatas pada remaja saja. Orang dewasa pun bisa mengalaminya, terutama ketika mereka merasakan ketertarikan yang mendalam di awal hubungan.
Dr. Brown, seorang pakar hubungan, menyebutkan bahwa puppy love bersifat sementara dan sering kali akan memudar ketika pasangan mulai menghadapi konflik atau masalah.
"Wajar jika kamu merasa tergila-gila pada awal hubungan," ujarnya. "Namun, puppy love biasanya berkurang setelah hubungan dihadapkan pada satu atau beberapa konflik yang sulit diatasi."
Menurutnya, perbedaan mendasar antara puppy love dan cinta sejati terletak pada kedewasaan dalam melihat pasangan.
Dalam puppy love, seseorang hanya melihat sisi positif pasangannya, sedangkan cinta sejati melibatkan penerimaan terhadap kelebihan dan kekurangan pasangan.
Rasa cinta di fase puppy love sering kali terasa sempurna. Perasaan bahagia, kagum, dan harapan tinggi terhadap pasangan membuat segalanya tampak lebih indah dari kenyataan.
Ini terjadi karena seseorang cenderung hanya melihat kelebihan pasangannya tanpa melihat kekurangannya.
Seseorang yang mengalami puppy love juga lebih sering tersenyum, merasa bahagia, dan memiliki keinginan besar untuk menghabiskan waktu bersama pasangan.
Bahkan, mereka mungkin akan kesulitan berpisah dari pasangannya, meskipun hanya sebentar. Namun, seiring waktu, realitas akan mulai terlihat.
Ketika pasangan mulai melihat sifat asli satu sama lain, tantangan mulai muncul. Konflik kecil bisa terasa besar, dan hubungan yang awalnya indah bisa berubah menjadi sulit.
Hal ini wajar, karena di fase puppy love, seseorang hanya mencintai pasangannya dari sisi positifnya saja.
Meskipun puppy love terasa manis, cinta sejati memiliki makna yang lebih mendalam. Cinta sejati tidak hanya menerima kelebihan pasangan, tetapi juga menerima kekurangan dan ketidaksempurnaannya.
Sementara itu, puppy love cenderung mudah berakhir ketika sifat asli pasangan mulai terungkap. Hal ini bisa terjadi karena ekspektasi awal yang terlalu tinggi.
Perasaan cinta yang awalnya menggebu-gebu bisa pudar seiring dengan munculnya ketidaksempurnaan yang sebelumnya tidak terlihat.
Namun, puppy love tidak sepenuhnya buruk. Pengalaman ini justru menjadi pelajaran berharga bagi seseorang dalam memahami cinta yang lebih dewasa.
Dari fase inilah seseorang belajar untuk tidak hanya mencintai pasangan karena kelebihannya, tetapi juga menerima kekurangannya.
Puppy love atau cinta monyet adalah fenomena cinta yang sering terjadi di awal hubungan, terutama pada remaja.
Perasaan ini penuh dengan euforia dan kebahagiaan, membuat pasangan terlihat sempurna tanpa cela.
Meskipun puppy love terkesan ringan dan singkat, fase ini tetap memiliki peran penting dalam proses pendewasaan emosional seseorang. (*)
Editor : Riana M.