Jawa Pos Radar Lawu – Film horor Sorop yang bakal tayang pada 19 Desember 2024 di bioskop ini memiliki cerita unik.
Thread kisah horor tentang Sorop yang masih belum rampung ditulis oleh Simpleman.
Meski begitu MD pictures berani mengangkatnya ke layar lebar dalam bentuk film Sorop eskipun sumber aslinya belum selesai.
“Saya tanya ke Simpleman, ternyata memang dia belum menyelesaikan thread-nya saat itu. Menurut saya justru di situ uniknya. Biasanya diambil dari thread sukses. Ini malah belum selesai. Oh menarik, jadi kita bisa selesaikan di film ini,” ungkap sutradara film, Upi dalam konferensi pers perilisan poster serta trailer di Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (22/11).
Sering kali lokasi syuting film horor di tempatkan di tempat yang terlihat menyeramkan, karena untuk menciptakan suasana otentik yang mendukung cerita dan atmosfer film.
Lokasi menyeramkan, seperti rumah tua, hutan, atau bangunan terbengkalai, secara alami menciptakan atmosfer yang mendukung cerita horor.
Lingkungan ini memberikan elemen visual dan emosional yang sulit ditiru di studio, seperti pencahayaan alami yang redup, bayangan, atau nuansa sunyi.
Ketegangan dan perasaan nyata dari lokasi dapat membantu para aktor lebih mendalami peran mereka. Adanya nuansa mistis atau menakutkan secara alami membantu menciptakan respons emosional yang otentik, memperkuat kualitas akting mereka.
Lokasi yang nyata memberikan nilai tambah dalam pemasaran film. Penonton sering kali tertarik dengan fakta bahwa lokasi tersebut memiliki sejarah menyeramkan atau cerita mistis di dunia nyata, sehingga menambah daya tarik film.
Beberapa lokasi menyeramkan yang sudah memiliki karakter alami dapat mengurangi kebutuhan untuk membangun set atau menggunakan efek visual tambahan, sehingga menghemat biaya produksi.
Namun, lokasi seperti ini juga menghadirkan tantangan, seperti logistik, izin penggunaan, atau dampak psikologis pada kru dan pemain, seperti yang dialami oleh pemain film Sorop.
Para pemain film sorop membagikan sedikit cerita tentang perjalanan mereka saat penggarapan film tersebut.
Ratu Felisha, Hana Malasan, dan Yasamin Jasem, berbagi cerita unik tentang pengalaman mereka selama syuting. Mereka mengaku rutin mandi dengan air garam setelah selesai syuting.
Hal ini dilakukan karena lokasi syuting yang berkesan mistis dan menyeramkan, berada di Banyuwangi, daerah yang sering dikaitkan dengan nuansa spiritual khas Jawa.
Mandi air garam dipercaya dapat membersihkan energi negatif atau menghindarkan dari gangguan mistis.
Para pemain, termasuk Hana dan Yasamin, merasa bahwa ritual ini memberikan rasa aman setelah syuting yang sering berlangsung hingga larut malam.
“Pulang pagi sudah mengantuk, tetap tetap harus mandi pakai air garam. Seram soalnya. Banyuwangi kan tanah Jawa, ya. Tanah Jawa kan mistis,” ungkap salah satu pemain, Ratu Felisha. (*)
Editor : Riana M.