Jawa Pos Radar Lawu - Pernahkah mendengar ungkapan, “Anak adalah perpanjangan diri kita”?
Inilah prinsip yang diterapkan dalam narsistic parenting.
Maka, bagi mereka, kalimat ini bukan sekadar pernyataan, melainkan prinsip hidup yang memengaruhi cara mereka mendidik dan membesarkan anak.
Sayangnya, pandangan ini sering kali menghasilkan pola asuh yang penuh tekanan pada anak. Anak akan merasa terbebani oleh harapan dan ambisi pribadi orang tua. Inilah salah satu akibat fatal dari narsistic parenting.
Lantas bagaimana mengetahui gejala narsistic parenting? Berikut adalah tanda-tandanya.
1. Anak dianggap sebagai perpanjangan diri
Narsistic parenting akan menganggap anak sebagai cerminan orang tua, sehingga pencapaian mereka menjadi simbol kesuksesan orang tua, sebaliknya kegagalan anak dapat membuat orang tua merasa malu.
2. Hanya fokus pada pencapaian
Orang tua hanya akan peduli pada hasil, seperti nilai akademik dan penghargaan, ketimbang kebutuhan emosional dan usaha sang anak. Anak sering kali hanya mendapat pujian saat berhasil.
3. Anak adalah jalan untuk mencari validasi sosial
Pencapaian anak digunakan untuk meningkatkan citra sosial orang tua, sering kali terlihat dari kebiasaan memamerkan prestasi anak di media sosial maupun di tempat umum, secara berlebihan.
4. Berekspektasi terlalu tinggi kepada anak
Orang tua sering menetapkan standar tinggi yang tidak sesuai dengan kemampuan anak, mengharapkan mereka untuk tampil sempurna di berbagai bidang.
5. Selalu ikut campur dalam keputusan anak
Orang tua terlalu ikut campur dalam keputusan anak, memaksakan pilihan yang sesuai dengan keinginan mereka, tanpa mempertimbangkan minat anak.
6. Mengkritik berlebihan
Anak sering menjadi sasaran kritik keras ketika tidak memenuhi standar orang tua, yang lebih bersifat merendahkan daripada membangun.
7. Mengabaikan Kesalahan Sendiri
Orang tua narsistik enggan mengakui kesalahan mereka dan cenderung menyalahkan anak atas situasi yang tidak menguntungkan.
8. Anak sebagai trophy
Orang tua cenderung memandang anak sebagai simbol status atau kebanggaan keluarga, bukan sebagai individu dengan kebutuhan dan tujuan sendiri.
Narsistic parenting bukan sekadar cara mendidik, namun juga cerminan kebutuhan ego orang tua yang sering kali dialihkan kepada anak.
Meskipun mulanya pola asul ini mungkin untuk membantu anak meraih keberhasilan, namun ini sering kali menimbulkan tekanan yang besar dan menumbuhkan generasi yang terjebak dalam perfeksionisme. (kid)
Editor : Nur Wachid