PONOROGO, Jawa Pos Radar Lawu - Demam berdarah dengue (DBD) yang mewabah di Ponorogo memantik perhatian wakil rakyat.
Menyusul ratusan warga harus mendapat perawatan usai dinyatakan positif DBD. Kalangan dewan semakin trenyuh dengan kabar terbaru, seorang anak berusia 10 tahun dilaporkan meninggal dunia akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti itu.
Ketua DPRD Ponorogo Sunarto menilai eksekutif kurang responsif menangani kasus DBD. Kasus terlanjur menjalar, semestinya sebaran nyamuk Aedes Aegypti itu mampu dicegah.
Bukan kasus baru, kasus DBD jamak terjadi pada awal tahun di Bumi Reog. ''Kami memandang pemerintah daerah kurang responsif dalam menangani kejadian seperti ini,'' kata Sunarto.
Tidak ingin sebaran DBD kian meluas, Sunarto meminta eksekutif bergerak cepat mengurai problem tahunan ini.
Menurutnya, jangan menunggu kasus kematian kembali terjadi, baru bergerak. Dinas Kesehatan (Dinkes) sebagai organisasi perangkat daerah (OPD) pengampu diminta lebih aktif menangani kasus DBD.
''Masyarakat juga kami harapkan peduli dengan kebersihan lingkungan masing-masing. Jangan sampai genangan air jadi tempat pertumbuhan nyamuk, apalagi Aedes Aegypti,’’ ujarnya.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis pukul 17.27 kemarin, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat belum memberikan konfirmasi. Pesan wartawan koran ini kepada Kepala Dinkes tak berbalas. Termasuk panggilan tak terjawab.
Seperti diketahui, data RSUD dr. Harjono Ponorogo menunjukkan adanya tren kenaikan pasien DBD. Bulan Januari 55 pasien, Februari 144 pasien, dan awal Maret ini 90 pasien.
Terbaru, seorang anak usia 10 tahun meninggal dunia Selasa (12/3) lalu, setelah mengalami gejala dengue shock syndrome (DSS), tingkatan tertinggi dalam kasus DBD. (gen/kid)
Editor : Nur Wachid