Jawa Pos Radar Lawu - Berbicara tentang kuliner Yogyakarta, gudeg menjadi salah satu makanan yang hampir selalu masuk dalam daftar.
Sajian berbahan dasar nangka muda ini memiliki rasa manis dan gurih dengan warna khas yang membuatnya mudah dikenali.
Gudeg juga bukan sekadar makanan yang populer di kalangan wisatawan.
Kuliner ini telah menjadi bagian dari identitas Yogyakarta dan memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang.
Baca Juga: Resep Gudeg Khas Jogja, Lengkap dengan Ayam dan Telur
Berawal dari Hutan Mentaok
Cerita mengenai asal-usul gudeg berkaitan dengan pembukaan kawasan hutan Mentaok yang kemudian menjadi bagian dari perkembangan Kerajaan Mataram.
Dalam catatan Jogja Budaya milik Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, ketika kawasan tersebut dibuka, banyak ditemukan pohon nangka muda atau gori.
Di sekitar kawasan itu juga terdapat pohon kelapa yang menghasilkan santan.
Bahan-bahan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk memasak nangka muda dengan santan.
Dalam cerita yang berkembang, proses memasak yang berlangsung selama berjam-jam menghasilkan hidangan yang kemudian dikenal sebagai gudeg.
Namun, cerita tersebut lebih tepat disebut sebagai riwayat atau tradisi yang berkembang mengenai asal-usul gudeg.
Jogja Budaya juga mencatat bahwa belum ditemukan literatur sejarah yang benar-benar memastikan kapan gudeg pertama kali dibuat.
Nangka Muda Menjadi Bahan Utama
Salah satu ciri utama gudeg adalah penggunaan nangka muda atau gori.
Di Yogyakarta, gudeg umumnya dimasak dengan santan dan berbagai bumbu.
Proses memasaknya membutuhkan waktu cukup lama agar nangka muda menjadi lunak sekaligus menyerap bumbu.
Jogja Budaya mencatat bahan yang digunakan dalam gudeg antara lain nangka muda, santan, bawang merah, bawang putih, ketumbar, kemiri, daun salam, lengkuas, garam, dan gula merah.
Perpaduan bahan tersebut menghasilkan cita rasa yang menjadi karakter gudeg Yogyakarta.
Gudeg Berkembang Menjadi Kuliner Yogyakarta
Seiring waktu, gudeg tidak hanya dibuat untuk kebutuhan rumah tangga.
Kuliner ini berkembang menjadi makanan yang dijual di berbagai tempat di Yogyakarta.
Salah satu kawasan yang kemudian dikenal sebagai sentra gudeg adalah Wijilan.
Kawasan tersebut berada di sekitar Plengkung Wijilan dan menjadi salah satu tujuan wisata kuliner bagi orang yang ingin mencicipi gudeg.
Jogja Budaya mencatat keberadaan warung gudeg di kawasan tersebut, termasuk usaha yang dirintis sejak 1942.
Catatan ini menjadi salah satu jejak perkembangan gudeg sebagai makanan yang diperjualbelikan secara turun-temurun.
Gudeg Memiliki Berbagai Pelengkap
Dalam perkembangannya, gudeg tidak hanya disajikan bersama nangka muda.
Satu porsi gudeg biasanya dapat dilengkapi dengan nasi, sambal krecek, telur, tahu, tempe, hingga ayam.
Perpaduan tersebut membuat gudeg memiliki rasa yang lebih lengkap.
Sambal krecek juga menjadi salah satu pelengkap yang cukup identik dengan sajian gudeg.
Rasa pedas dan gurih dari krecek memberikan kontras dengan cita rasa gudeg yang cenderung manis.
Cara penyajian dan racikan bumbu pun dapat berbeda antara satu penjual dengan penjual lainnya.
Gudeg Yogyakarta Diakui sebagai Warisan Budaya
Perjalanan panjang gudeg membuat kuliner ini tidak hanya dipandang sebagai makanan khas daerah.
Gudeg tercatat berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan masuk dalam domain kemahiran dan kerajinan tradisional.
Pengakuan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan gudeg sebagai kuliner yang terus diwariskan.
Tetap Bertahan di Tengah Kuliner Modern
Kini gudeg dapat ditemukan bukan hanya di warung tradisional.
Sajian ini juga hadir dalam berbagai bentuk kemasan dan menjadi salah satu makanan yang banyak dibawa pulang wisatawan dari Yogyakarta.
Meski penyajiannya semakin beragam, bahan utama berupa nangka muda dan karakter rasa gudeg tetap dipertahankan.
Bagi Yogyakarta, gudeg bukan hanya makanan berbahan nangka muda.
Di dalamnya terdapat tradisi memasak, perjalanan usaha kuliner, dan warisan yang terus dikenalkan dari satu generasi ke generasi.
(Iis Choirrunisa, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : Jogja Budaya, berbagai sumber