Jawa Pos Radar Lawu - Jika kebanyakan olahan pisang identik dengan rasa manis, berbeda dengan Pisang Peppe atau Sanggara Peppe khas Sulawesi Selatan. Kuliner tradisional ini justru disajikan bersama sambal pedas, menciptakan perpaduan rasa gurih, pedas, dan manis alami dari pisang yang jarang ditemukan di daerah lain.
Dipipihkan lalu Digoreng Dua Kali
Nama "peppe" berasal dari bahasa Bugis-Makassar yang berarti dipukul atau dipipihkan. Proses pembuatannya dimulai dengan menggoreng pisang kepok muda atau mengkal hingga setengah matang. Setelah itu, pisang dipipihkan menggunakan alat khusus atau ulekan, lalu digoreng kembali hingga berwarna keemasan dan teksturnya menjadi renyah di bagian luar. Teknik inilah yang menjadi ciri khas Pisang Peppe dan membedakannya dari olahan pisang lainnya.
Sambal Jadi Daya Tarik Utama
Keunikan Pisang Peppe tidak hanya terletak pada cara pengolahannya, tetapi juga pada sambalnya. Hidangan ini biasanya disajikan dengan sambal berbahan tomat, cabai rawit, bawang, dan terasi. Perpaduan pisang yang gurih dengan sambal pedas menghasilkan cita rasa yang unik dan membuat banyak orang penasaran untuk mencobanya. Di beberapa daerah, sambal juga diberi tambahan ikan sehingga rasanya semakin kaya.
Baca Juga: Beh, Sedaaapp! Tempoyak, Makanan Unik dari Durian yang Bikin Nagih
Kuliner Tradisional yang Mulai Dikenal Luas
Meski belum sepopuler Pisang Epe yang disajikan dengan saus gula merah, Pisang Peppe perlahan mulai dikenal berkat keunikannya. Kuliner ini masih menjadi camilan favorit masyarakat Sulawesi Selatan dan sering dinikmati sebagai teman minum teh atau kopi. Bagi pencinta kuliner nusantara, Pisang Peppe menawarkan pengalaman berbeda karena membuktikan bahwa pisang tak selalu harus disajikan dengan rasa manis. (*)
Anggie Putri Wijayanti, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : jadesta kementrian pariwisata, budaya indonesia, RRI