Jawa Pos Radar Lawu - Kebanyakan olahan camilan keripik yang renyah menggunakan bahan dasar berupa ubi-ubian ataupun buah-buahan alami.
Tapi tidak semua jenis juga dapat diolah menjadi keripik sebagai makanan ringan. sehingga rasa dan teksur keripik akan terasa pas dan enak saat di santap.
tapi ada satu keripik khas ponorogo yang bahan dasarnya saja menggunakan batang pohon. yaaa, kamu tidak salah dengar. yuk ikuti terus !!!
Camilan kreatif yang unik kini jadi sorotan di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Di tangan para pengrajin lokal, batang pisang atau yang biasa disebut “gedebog” berhasil diubah menjadi keripik gurih‑renyah yang layak jadi oleh‑oleh yang nikmat.
Salah satu kreasi yang mulai dikenal adalah keripik gedebog pisang yang diklaim telah menembus pasar luar negeri.
Transformasi Dari Limbah Menjadi Produk Nilai Tinggi
Selama ini, bagian batang pisang sering kali dianggap limbah dan dibuang oleh petani setelah panen buahnya karena pohon pisang tidak akan bisa berbuah dua kali.
Namun keripik gedebog pisang menunjukkan bahwa limbah tersebut bisa diberi nilai tambah melalui inovasi olahan. Sebagai bahan dasar, gedebog pisang dipilih karena teksturnya yang khas dan potensi ekonominya yang belum tergarap.
Salah satu pengrajin di Ponorogo, yakni ibu rumah tangga bernama Umi Maryam di Desa Kupuk, Kecamatan Bungkal, mengaku mulai membuat keripik gedebog pisang kurang lebih sekitar tiga tahun lalu.
Ia memasarkan varian rasa seperti balado, pedas, ayam bawang, hingga original. Dirinya menyatakan bahwa camilan ini bahkan sudah dipesan hingga ke Australia melalui pekerja migran asal Ponorogo.
Proses Pengolahan yang Teliti
Pengolahan gedebog pisang menjadi keripik membutuhkan beberapa tahapan penting. Pertama, gedebog dipilih dari pohon pisang jenis yang tepat, kemudian dipotong‑potong tipis, direndam dalam air kapur sirih dan garam untuk menghilangkan rasa pahit dan mengurangi kadar getahnya. Setelah itu, adonan tepung atau bumbu dilapiskan, baru digoreng hingga kering dan renyah saat di santap.
Varian rasa pun beragam, dengan pilihan seperti original, balado, jagung manis, pedas manis. Sebagai contoh dari Sidoarjo, keripik gedebog pisang dengan varian rasa jagung manis dan original paling diminati dipasaran.
Potensi Pasar dan Ekonomi Kreatif
Meski di Ponorogo belum tercatat secara khusus angka produksi keripik gedebog, data dari daerah‑lain menunjukkan bahwa produk ini memiliki potensi ekonomi yang cukup besar.
Sebagai contoh, pasangan suami‑istri di Bojonegoro meraih omzet hingga Rp 30 juta per bulan dari produk serupa.
Untuk Ponorogo, camilan oleh‑oleh yang lebih dikenal selama ini adalah jenang khas dan keripik pisang biasa. Sebuah artikel menyebut bahwa oleh‑oleh Ponorogo sudah mulai memasukkan keripik pisang dan keripik lainnya ke etalase pusat oleh‑oleh agar cukup dijangkau pengunjung wisatawan.
Dengan masuknya keripik gedebog pisang ke pasar lokal dan kemungkinan ekspor, tentu membuka peluang bagi UMKM daerah ini untuk berkembang.
Keripik gedebog pisang khas Ponorogo adalah contoh bagaimana kreativitas lokal bisa mengubah “limbah” menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Dengan cerita di baliknya dan kualitas yang layak dicoba, camilan ini bukan hanya sekadar gurih‑renyah, tapi juga simbol inovasi ekonomi kreatif daerah.
Bagi Anda yang ingin membawa oleh‑oleh berbeda dari Ponorogo, keripik gedebog pisang bisa menjadi pilihan menarik. (ahyar-mg-uinpo)
Editor : Nur Wachid