KOTA MADIUN , Jawa Pos Radar Lawu - Tahun Baru Imlek, perayaan yang tidak lepas dari camilan khas masyarakat Tionghoa. Salah satunya, Permen Malt, yang menjadi jajanan wajib saat perayaan Tahun Baru Imlek.
Sebagai bagian dari perayaan Dewa Kompor pada 23 Desember Imlek, camilan khas tahun baru Permen Malt yang juga dikenal sebagai permen Guandong, menjadi bukti nyata betapa kekayaan budaya Tionghoa yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Laporan Radar Lawu dari Jawa Pos , campuran biji-bijian, kacang tanah, dan jujube yang melibatkan proses pembuatan yang teliti memikat lidah dan hati masyarakat Tionghoa dan menjadi persembahan simbol untuk mempermanis mulut Dewa Kompor.
Dalam variasi Permen Malt yang menarik, Permen Malt Melon (táng guā) dari wilayah Beijing mencuri perhatian.
Dengan bentuk yang unik dan rasa yang manis dengan sentuhan asam, Permen Malt Melon memberikan pengalaman santap yang tak terlupakan.
Meskipun proses pembuatannya melelahkan, keberadaan Permen Malt Melon semakin langka, menjadikannya camilan yang penuh nilai sejarah.
Manisan Haw, bola-bola Hawthorn yang ditaburi dengan sirup malt, menjadi camilan musim dingin yang meriah dengan rasa dingin, manis, dan asam.
Menurut cerita rakyat, Manisan Haw pernah menjadi ramuan penyembuh bagi selir kesayangan kaisar, menambah aura keajaiban dan kesehatan dalam setiap gigitannya.
Permen Kacang (huā shēng táng), dengan bahan dasar kacang tanah dan sirup, juga menciptakan kelezatan sederhana namun kaya tradisi.
Baca Juga: Baru Delapan Hari Dilantik, Ketua KPPS Ini Meninggal Dunia Usai Ikuti Sosialiasi Sirekap
Kacang dan wijen Tahun Baru Imlek yang dicampur menjadi satu dan dipotong kotak menghadirkan rasa manis dan renyah yang tak terlupakan.
Meskipun beberapa camilan ini mungkin tidak disukai dulu karena proses pembuatannya memakan waktu.
Namun, semangat dan cita rasa tradisional yang dihadirkan oleh Permen Malt dan camilan khas Tahun Baru Imlek lainnya tetap menjadi pusat perhatian dan kegembiraan di setiap rumah Tionghoa.
Baca Juga: Lolos Adu Benteng dengan Bus, Panther Hantam Tiang Listrik, Satu Keluarga Luka-luka
Festival ini, selain menjadi momen refleksi dan doa, juga membuktikan bahwa kekayaan warisan budaya Tionghoa terus hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yang merayakan dengan kebahagiaan. (mg1/kid)
Editor : Nur Wachid