Jawa Pos Radar Lawu - Dalam suasana perayaan dan kehangatan, masyarakat Tionghoa di seluruh dunia merayakan Tahun Baru Imlek dengan berbagai tradisi dan camilan khas tradisional.
Salah satu elemen meriah tak terpisahkan dari perayaan Tahun Baru Imlek adalah camilan tradisional yang menggugah selera.
Perayaan Festival Musim Semi, yang berlangsung meriah selama 15 hari, menjadi momen Tahun Baru Imlek berharga bagi keluarga dan teman-teman untuk berkumpul dan menikmati camilan tradisioanl.
Dilansir Radar Lawu dari Jawa Pos, salah satu camilan tradisional yang tetap populer dakam perayan imlek adalah biji-bijian panggang (gua zi), seperti biji bunga matahari, yang menjadi teman setia di meja makan dan di sekitar TV.
Tidak hanya biji-bijian panggang, berbagai kue kering seperti nián gāo, kue beras klepon, dan kue kukus dengan berbagai varian rasa juga menjadi primadona di meja hidangan Tahun Baru Imlek.
Kacang mede, kacang mete manis, dan kue kukus dengan isian kacang merah, wijen, atau kelapa parut turut meramaikan hidangan lezat yang disajikan.
Jeruk mandarin, yang membawa simbolisme keberuntungan dan kekayaan, juga ditempatkan sebagai dekorasi yang menarik dan menjadi camilan segar yang sangat dihargai.
Menurut tradisi, camilan ini tidak hanya memberikan kelezatan, tetapi juga membawa keberuntungan dan harapan untuk tahun yang baru.
Biji-bijian panggang, misalnya dipercaya sebagai simbol persatuan dan kehangatan dalam keluarga.
Baca Juga: Lolos Adu Benteng dengan Bus, Panther Hantam Tiang Listrik, Satu Keluarga Luka-luka
Seiring dengan perubahan zaman, tradisi ini tetap terjaga dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Tahun Baru Imlek.
Masyarakat Tionghoa menyambut tahun baru dengan hati gembira, membagikan kebahagiaan bersama keluarga dan teman-teman sambil menikmati camilan-camilan tradisional yang khas dan lezat. (mg1/kid)
Editor : Nur Wachid