Cacing Laut yang Cuma Muncul Setahun Sekali dan Jadi Tradisi Sakral di Lombok

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:00 WIB
Source: Pantaipedia News
Source: Pantaipedia News

Jawa Pos Radar Lawu - Bagi masyarakat Sasak di Lombok, nyale bukan sekadar cacing laut yang muncul di pantai. Kemunculannya menjadi bagian dari Bau Nyale, tradisi tahunan yang sudah melekat dengan kehidupan masyarakat Lombok.

Tradisi ini tidak bisa dipisahkan dari legenda Putri Mandalika, seorang putri yang dikisahkan memiliki banyak pemuda yang ingin mempersuntingnya. Persaingan di antara para pelamar dikhawatirkan menimbulkan perpecahan di masyarakat.

Putri Mandalika kemudian memilih jalan yang berbeda. Ia mengumpulkan para pelamar di kawasan Bukit Seger dan menyampaikan keinginannya untuk menjaga kedamaian Lombok. Setelah itu, sang putri terjun ke laut dan menghilang ditelan ombak.

Tak lama setelah kepergiannya, muncul cacing-cacing laut dalam jumlah besar di sekitar pantai. Masyarakat kemudian mempercayai nyale sebagai jelmaan dari rambut Putri Mandalika. Dari cerita inilah tradisi Bau Nyale terus diwariskan hingga sekarang.

Sebenarnya Nyale Itu Cacing Apa?

Kalau dilihat dari sisi ilmiah, nyale bukan satu jenis cacing saja. Penelitian menunjukkan bahwa nyale merupakan bagian reproduktif (epitoke) dari beberapa jenis cacing laut Polychaeta, terutama kelompok Palola. Jadi, cacing yang terlihat bermunculan di permukaan laut sebenarnya merupakan bagian tubuh yang dilepaskan ketika hewan tersebut memasuki masa reproduksi.

Kemunculannya juga bukan kebetulan. Nyale melakukan pemijahan massal dengan mengikuti siklus bulan. Penelitian di pesisir selatan Lombok menemukan bahwa kemunculannya berkaitan erat dengan bulan purnama pada sekitar Februari dan terkadang berlanjut hingga Maret.

Cuma Muncul di Bulan Tertentu

Inilah salah satu hal paling unik dari nyale. Hewan ini tidak bisa ditemukan begitu saja sepanjang tahun.

Kemunculan massalnya biasanya terjadi sekali atau pada beberapa tahun tertentu dua kali dalam setahun, terutama sekitar Februari–Maret. Waktunya mengikuti kalender lunar sehingga tanggalnya dapat berubah setiap tahun. Penelitian bahkan telah mengembangkan metode ilmiah untuk memperkirakan kapan nyale akan muncul berdasarkan siklus bulan.

Karena kemunculannya yang singkat dan hanya pada periode tertentu, masyarakat kemudian berkumpul di pantai pada malam hingga menjelang pagi untuk menangkapnya. Dalam bahasa Sasak, “bau” berarti menangkap, sedangkan “nyale” merujuk pada cacing laut. Jadi, Bau Nyale secara sederhana berarti menangkap nyale.

Bisa Dimakan dan Jadi Makanan Tradisional

Menariknya, nyale yang berhasil ditangkap tidak hanya dikumpulkan untuk ritual. Nyale juga dikonsumsi oleh masyarakat Lombok dan telah menjadi bagian dari makanan tradisional di Nusa Tenggara Barat.

Nyale biasanya diolah terlebih dahulu sebelum disantap. Sebuah penelitian dari Politeknik Pariwisata Lombok juga mencatat nyale sebagai salah satu makanan tradisional masyarakat NTB yang berkaitan erat dengan pelestarian budaya lokal.

Jadi, sesuatu yang bagi sebagian orang mungkin terlihat seperti kumpulan cacing biasa justru memiliki makna yang jauh lebih dalam bagi masyarakat Lombok. Nyale mempertemukan legenda, siklus alam, makanan, dan tradisi dalam satu peristiwa yang hanya terjadi pada waktu tertentu setiap tahunnya. (*)

(Magang, Anggie Putri Wijayanti - Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Visit Indonesia, Jurnal Undip, Indonesia.go.id
Tradisi Lombok Putri Mandalika Nusa Tenggara Barat (NTB) cacing nyaleg