Jawa Pos Radar Lawu- Sikat gigi adalah alat penting dalam menjaga kebersihan gigi dan kesehatan mulut.
Namun, tahukah Anda bahwa alat ini telah mengalami perjalanan panjang sejak zaman kuno?
Dari batang kayu kunyah yang digunakan oleh peradaban Babilonia hingga revolusi bulu nilon di abad ke-20.
Sikat gigi terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan kesadaran manusia akan kebersihan.
Sikat Gigi Primitif: Kayu Kunyah dan Siwak (3.500 SM)
Sejarah sikat gigi dapat ditelusuri hingga 3.500 SM atau sekitar abad ke-7 M. Ketika bangsa Mesir dan Babilonia mulai menggunakan chewing stick atau kayu kunyah untuk membersihkan gigi.
Mereka memilih batang kayu dari tanaman tertentu yang memiliki sifat antiseptik.
Seperti Salvadora persica atau yang lebih dikenal sebagai siwak.
Bangsa Mesir bahkan mengembangkan pasta gigi primitif yang dibuat dari campuran batu apung, garam, dan abu cangkang telur untuk membantu menghilangkan plak.
Siwak dalam Tradisi Islam
Siwak memainkan peran penting dalam tradisi Islam, terutama sejak zaman Nabi Muhammad SAW.
Penggunaannya dianjurkan dalam hadis sebagai bagian dari kebersihan diri.
Hingga kini, siwak masih digunakan di berbagai negara Muslim karena sifatnya yang alami dan terbukti efektif dalam menjaga kesehatan gigi.
Perkembangan Sikat Gigi di China (Abad ke-15 M)
Pada abad ke-15, bangsa China menciptakan sikat gigi yang lebih canggih.
Mereka menggunakan gagang dari bambu atau tulang, lalu memasangkan bulu babi hutan Siberia di ujungnya sebagai bulu sikat.
Karena bulu babi terlalu kasar, masyarakat Eropa yang mengadopsi inovasi ini dan menggantinya dengan bulu kuda yang lebih lembut.
Meski begitu, kebiasaan menyikat gigi masih belum menjadi budaya di Eropa pada masa itu.
Revolusi Sikat Gigi di Eropa: William Addis dan Produksi Massal (Abad 18-19 M)
Pada tahun 1780, seorang pria Inggris bernama William Addis menciptakan sikat gigi pertama yang diproduksi secara massal.
Cerita berawal ketika Addis dipenjara dan merasa bahwa membersihkan gigi hanya dengan kain yang dicelupkan ke jelaga kurang efektif.
Ia kemudian membuat sikat gigi dari tulang hewan sisa makanannya, lalu melubanginya dan memasang bulu sikat yang ia pinjam dari penjaga penjara.
Setelah bebas, Addis mendirikan perusahaan sikat gigi Wisdom Toothbrushes, yang terus berkembang hingga abad ke-20.
Dari Tulang ke Plastik
Pada abad ke-19, gagang sikat gigi masih dibuat dari tulang, tetapi keterbatasan bahan akibat meningkatnya kebutuhan tulang dalam produksi sup mendorong inovasi.
Akhirnya, produsen beralih menggunakan plastik untuk membuat gagang sikat gigi, yang lebih mudah diproduksi dan tahan lama. (fin)
Editor : Nur Wachid