Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Belajar Kedamaian dari Sejarah Candi Sadon Magetan: Selesainya Perselisihan, Permusuhan Usai Peperangan

Nur Wachid • Kamis, 15 Februari 2024 | 02:04 WIB
Candi Sadon, Peninggalan Majapahit yang terkenal dengan kisah Kalamakara dan kejadian mengejutkan pada Arca Lembu. (OKTA MAGANG PNM/RADAR LAWU)
Candi Sadon, Peninggalan Majapahit yang terkenal dengan kisah Kalamakara dan kejadian mengejutkan pada Arca Lembu. (OKTA MAGANG PNM/RADAR LAWU)

MAGETAN, Jawa Pos Radar Lawu – Candi Sadon di Dusun Sadon, Desa Cepoko, Kec. Panekan, Magetan memiliki sejarah panjang. Candi Sadon didirikan akhir tahun 1018, merupakan candi Siwa peninggalan Hindu Budha Majapahit.

Masyarakat sekitar menyebut Candi Sadon dengan Candi Reyog. Karena terdapat dua puncak bangunan utama yang disebut kalamakara, berwujud menyerupai muka raksasa (Bathoro Kala) yang menyeramkan.

Dari mata besar melotot keluar, mulut menganga dengan taring terbuka, dan kedua tangan siap menerkam. ‘’Kedua kalamakara itu merupakan sepasang,’’ Kata Sarnu Temu Raharjo, Juru Pelihara Candi Sadon.

Pada tahun 1966, Candi Sadon rusak total, oknum sengaja melakukan pengrusakan. Kantor Pembinaan Kebudayaan Kabupaten Magetan mempelopori penataan atau penyusunan kembali bersama masyarakat pada tahun 1969.

 ‘’Setelah di tata kembali akhirnya bentuk aslinya bisa terlihat,’’ jelasnya.

Sarnu menambahkan, pada tahun 1973 diadakan pendataan dan penelitian oleh Drs. Sorcipto dan Suwardi.

Dari penelitian tersebut menjelaskan asal situs merupakan sebagian reruntuhan candi sadon, dan diperkiraan masih ada bagian-bagian area lain yang masih terpendam di sekitar lokasi.

‘’Memang masih ada bagian yang terpendam di sebelah timur dan selatan candi,’’ jelasnya.

‘’Namun sampai saat ini strutur tidak di galih karena struktur bangunannya telah hancur,’’ tambah Sarnu.

Candi Sadon memiliki bebebrapa bagian seperti Kala, Naga, Batu bertulis, Tantri, Umpak, Yoni, Antefik (bagian sudut candi) dan bagian reruntuhan kecil lainnya.

Pada tahun 1933 seorang Arkeologi bangsa belanda Dr. Van Enouch mengatakan tempat ini (candi sadon, Red) merupakan tempat bermain Prabu Airlangga.

Baca Juga: Historiografi Hotel Merdeka Kota Madiun: Jepang Menyerah ke Sekutu 1945, Berganti Nama Hotel Merdeka hingga Kini (Bagian 3-Habis)

‘’Candi atau arca yang ada sekarang hanya sepertiga dari bangunan candi sebenenarnya,’’ ungkapnya.

Adapun nama Candi Sadon diambil dari gabungan sad dari asal kata asad, dan don berasal dari kata padudon. Artinya, habisnya perselisihan, pertengkaran, permusuhan, maupun peperangan.

Sehingga tidak ada lagi kekacauan, yang ada hanya ketentraman.

Selain itu, terdapat tiga buah prasasti yang berbunyi a – pa pa - - ka – la, sa da pa kra – ma, ba da sri – pa ja – ba da – ha – la.

Prasasti ini sezaman dengan prasasti zaman Kediri, yaitu huruf-hurufnya berbentuk blok atau kwadret. Dari sini, Candi Sadon merupakan peninggalan yang lebih condong pada zaman Airlangga sebagai rajanya yang masih berhubungan dengan kerjaan Kahuripan.

Selain prasasti, terdapat juga empat arca lembu. Namun ketiga arca di antaranya hilang bagian kepalanya pada tahun 1966. Kini, tersisa satu buah saja.

Sekitar tahun 1989, arca lembu  tersebut terletak di timur komplek candi dan suatu ketika arca tersebut dicuri orang.

‘’Selama arca lembu itu hilang, lembu yang ada disekitar berubah menjadi liar atau ganas,’’ jelasnya. (okta-magang-pnm/kid)

Editor : Nur Wachid
#sejarah #magetan #majapahit #reyog #Candi Sadon