Jawa Pos Radar Lawu – Raden Ajeng Kartini dikenal bukan hanya karena perjuangannya membela hak perempuan, tetapi juga karena keberaniannya menuliskan pikiran-pikiran tajam, jujur, dan menggugah hati dalam bentuk surat kepada sahabat-sahabat penanya di Belanda.
Surat-surat tersebut kemudian diterbitkan menjadi buku Door Duisternis tot Licht atau yang kita kenal sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang.
Di dalam surat-surat itu, Kartini membagikan kegelisahan, harapan, dan impiannya tentang perempuan, pendidikan, kemanusiaan, hingga kemerdekaan berpikir.
Gaya bahasanya sederhana namun sangat kuat, membuat siapa pun yang membaca merasa sedang bercakap-cakap dengan seorang pemikir besar yang tak ingin diam di tengah ketidakadilan.
Berikut adalah beberapa kutipan terkenal dari surat-surat Kartini dan ulasan maknanya:
1. “Dan kami pun menginginkan pendidikan yang sama seperti yang diberikan kepada anak laki-laki.”
Kutipan ini muncul dalam salah satu surat Kartini kepada teman penanya, dan menggambarkan betapa ia menginginkan kesetaraan kesempatan dalam pendidikan.
Di masa itu, perempuan tidak dianggap perlu mengenyam pendidikan tinggi.
Namun bagi Kartini, pendidikan adalah pintu keluar dari “kegelapan”—sebuah sarana untuk membebaskan diri dari kebodohan, ketertindasan, dan keterbelakangan.
Hingga hari ini, gagasan Kartini ini tetap hidup. Masih banyak perempuan di pelosok Indonesia yang harus berjuang mendapatkan hak belajar. Kutipan ini mengingatkan bahwa perjuangan untuk pendidikan yang adil dan merata masih terus berlanjut.
2. “Saya mau bekerja, saya mau berdiri sendiri, saya tidak mau hidup bergantung kepada orang lain.”
Kartini menuliskan kalimat ini sebagai wujud semangat kemandirian yang begitu kuat.
Di masa ketika perempuan dianggap harus bergantung pada suami atau keluarga, Kartini justru ingin memiliki jati diri dan penghasilan sendiri.
Kalimat ini sangat relevan dalam konteks pemberdayaan ekonomi perempuan masa kini. Banyak perempuan kini menjadi tulang punggung keluarga atau wirausaha yang mandiri.
Kartini telah menunjukkan bahwa menjadi perempuan bukan alasan untuk pasrah, melainkan dorongan untuk lebih kuat.
3. “Tahukah engkau semboyanku? Aku mau!”
Ini mungkin adalah kutipan paling terkenal dari Kartini. Kalimat pendek namun penuh semangat ini mencerminkan keyakinan dan tekadnya yang kuat dalam menghadapi segala tantangan.
“Aku mau” adalah bentuk penegasan diri seorang perempuan yang menolak untuk diam atau ditentukan nasibnya oleh tradisi.
Ini adalah suara revolusioner yang menyuarakan bahwa perempuan berhak menentukan jalannya sendiri. Hari ini, semboyan “Aku mau” masih menjadi motivasi banyak perempuan untuk tidak takut bermimpi dan bertindak.
4. “Gadis-gadis itu tidak boleh berpikir, tidak boleh punya kehendak sendiri, tidak boleh mempunyai perasaan yang lebih tinggi dari perasaan binatang jinak.”
Kutipan ini adalah kritik Kartini terhadap budaya patriarki yang merendahkan perempuan.
Ia menggambarkan betapa sempitnya ruang hidup perempuan di tengah adat-istiadat feodal yang membungkam suara perempuan.
Kata-kata ini menggambarkan kegelisahan dan kepedihan yang mendalam, tapi juga keberanian luar biasa.
Kartini tidak hanya menulis dengan perasaan, tapi juga dengan logika dan keberanian. Ia adalah suara yang berbicara tentang kemanusiaan.
Baca Juga: Dari Pena Kartini untuk Bangsa: Jejak Perjuangan Hingga Jadi Peringatan Nasional
5. “Kami tidak ingin dijadikan alat oleh siapa pun juga, kami ingin berdiri sendiri, menjadi manusia yang berharga karena kami manusia.”
Ini adalah penegasan identitas dan martabat perempuan. Kartini ingin agar perempuan dihargai bukan karena status atau hubungan dengan laki-laki, tapi karena mereka juga manusia yang utuh.
Di era modern, isu ini masih sangat relevan. Masih banyak perempuan yang harus membuktikan nilai dirinya karena stereotip gender.
Kartini sudah meletakkan fondasi bahwa perempuan tidak hanya berharga “karena siapa dia bagi orang lain”, tapi karena dirinya sendiri.
Surat-surat Kartini adalah warisan intelektual dan spiritual bangsa.
Ia tidak berteriak, tapi suaranya menggema hingga kini. Ia tidak menggenggam senjata, tapi tulisannya menjadi peluru tajam melawan ketidakadilan.
Habis Gelap Terbitlah Terang bukan hanya kumpulan surat.
Ia adalah nyala api yang terus menyala dalam dada perempuan Indonesia bahwa kita semua berhak untuk bermimpi, untuk memilih, untuk bersuara, dan untuk berdiri setara.
Selamat Hari Kartini. Mari terus membaca, menulis, dan menyuarakan terang. (*)
Editor : Riana M.