Jawa Pos Radar Lawu - Selama ini, polusi udara lebih sering dibicarakan karena dampaknya terhadap paru-paru dan jantung. Namun, udara yang kita hirup ternyata mungkin juga berkaitan dengan kondisi yang jauh lebih dekat dengan indra penglihatan. Analisis terhadap 41 penelitian menemukan bahwa paparan polusi udara yang lebih tinggi berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan mengalami glaukoma dan katarak.
Dari berbagai jenis polutan yang diteliti, PM2.5 menunjukkan hubungan paling jelas dengan kedua penyakit mata tersebut. Orang dengan paparan PM2.5 tertinggi memiliki kemungkinan mengalami glaukoma 70 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang terpapar pada tingkat paling rendah. Sementara itu, peningkatan paparan PM2.5 dalam rentang tertentu dikaitkan dengan kenaikan kemungkinan glaukoma sebesar 8 persen dan risiko katarak sebesar 4 persen.
Meski demikian, temuan ini belum membuktikan bahwa polusi udara secara langsung menyebabkan penyakit mata. Sebagian besar penelitian yang dianalisis bersifat observasional sehingga hanya dapat menunjukkan hubungan antara paparan polusi dan penyakit.
41 Penelitian Mengarah pada Satu Petunjuk
Analisis tersebut menggabungkan bukti dari 41 penelitian yang secara keseluruhan melibatkan jutaan orang, terutama dari Asia Timur dan Inggris. Penelitian tersebut dipresentasikan pada September 2026 dalam Kongres ke-44 European Society of Cataract and Refractive Surgeons di London.
Para peneliti membandingkan paparan berbagai jenis polutan dengan kejadian beberapa penyakit mata, termasuk:
•Glaukoma, penyakit yang merusak saraf optik.
•Katarak, kondisi ketika lensa mata menjadi keruh.
•Age-related macular degeneration (AMD) atau degenerasi makula terkait usia.
Dari seluruh polutan yang diperiksa, partikel berukuran sangat kecil, terutama PM2.5, memberikan hubungan paling konsisten dengan glaukoma dan katarak.
Apa Itu PM2.5?
PM2.5 merupakan partikel polusi dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini menjadi salah satu komponen polusi udara yang banyak mendapat perhatian dalam penelitian kesehatan.
Dalam analisis tersebut, paparan jangka panjang biasanya diperkirakan berdasarkan tingkat polusi di sekitar rumah atau lingkungan tempat seseorang tinggal. Peneliti menggunakan berbagai sumber data, termasuk sistem pemantauan pemerintah, data satelit, dan model komputer.
Glaukoma Menjadi Salah Satu Kekhawatiran Utama
Glaukoma merupakan kelompok penyakit yang merusak saraf optik, yaitu bagian mata yang mengirimkan informasi visual ke otak.
Kerusakan tersebut dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen. Biasanya, gangguan dimulai dari penglihatan perifer sebelum akhirnya dapat memengaruhi penglihatan pusat.
Glaukoma telah memengaruhi sekitar 80 juta orang di seluruh dunia, sehingga faktor lingkungan yang mungkin berhubungan dengan penyakit ini menjadi perhatian penting.
Dalam analisis terbaru, hubungan antara PM2.5 dan glaukoma menjadi salah satu temuan yang paling konsisten.
Nidhi Singh, ahli epidemiologi lingkungan dari IUF-Leibniz Research Institute for Environmental Medicine di Jerman yang tidak terlibat dalam penelitian, menilai hubungan tersebut cukup kuat. Namun, ia tetap mengingatkan bahwa bukti yang tersedia berasal dari penelitian observasional.
"Oleh karena itu, hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan, bukan dengan sendirinya membuktikan bahwa PM2.5 menyebabkan glaukoma atau katarak," ujarnya kepada Live Science.
Artinya, hasil penelitian belum dapat digunakan untuk menyatakan bahwa PM2.5 secara langsung menyebabkan glaukoma atau katarak.
Mengapa Polusi Bisa Berdampak pada Mata?
Mekanisme biologis yang menjelaskan hubungan tersebut masih belum sepenuhnya diketahui. Namun, para ilmuwan memiliki beberapa dugaan mengenai apa yang mungkin terjadi ketika tubuh terpapar partikel polusi dalam jangka panjang.
Partikel halus dapat masuk ke dalam tubuh dan memicu stres oksidatif, yaitu kondisi ketika molekul berbahaya melebihi kemampuan pertahanan alami tubuh untuk menetralisirnya.
Paparan tersebut juga dapat memicu peradangan tingkat rendah yang berlangsung lama.
Menurut Ahmed Alnabihi, dokter mata dari King Khaled Eye Specialist Hospital and Research Center di Arab Saudi sekaligus salah satu penulis penelitian, proses tersebut berpotensi memengaruhi jaringan mata.
Pada lensa mata, stres oksidatif dan peradangan diduga dapat merusak protein crystallin yang menjaga kejernihan lensa.
"merusak protein crystallin yang menjaga lensa tetap transparan, sehingga protein tersebut salah melipat dan membuat lensa menjadi keruh, yang merupakan ciri katarak,"
Sementara pada saraf optik, proses serupa diduga dapat merusak retinal ganglion cells, yaitu neuron khusus yang meneruskan informasi visual dari retina menuju otak. Kerusakan ini berpotensi berkontribusi terhadap glaukoma, bahkan terlepas dari tekanan di dalam mata yang juga menjadi salah satu faktor risiko penting.
Mata Memiliki Jalur Paparan yang Berbeda
Ada satu karakteristik mata yang membuat hubungan dengan polusi menjadi menarik.
Mata tidak sepenuhnya terlindungi dari lingkungan luar. Permukaannya terus bersentuhan dengan udara di sekitar kita.
Alnabihi menjelaskan:
"Berbeda dengan paru-paru atau usus, permukaan mata bersentuhan langsung dan terus-menerus dengan udara luar, sehingga polutan memiliki jalur paparan yang sangat langsung dan berpotensi menyebabkan kerusakan,"
Paparan langsung tersebut menjadi salah satu kemungkinan mengapa polutan dapat memberikan pengaruh terhadap jaringan mata.
Namun, ilmuwan masih perlu memahami bagaimana partikel dari lingkungan dapat memicu rangkaian perubahan biologis hingga akhirnya berhubungan dengan penyakit mata.
Baca Juga: Tanaman Hias Penyerap Polusi: Solusi Alami Udara Bersih dan Sejuk di Dalam Rumah
Tidak Semua Polutan Menunjukkan Hubungan yang Sama
Menariknya, penelitian tidak menemukan pola yang sama kuat untuk semua jenis polutan.
Selain PM2.5, peneliti juga melihat paparan PM10, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, ozon, dan karbon monoksida.
Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan antara polutan-polutan tersebut dengan penyakit mata jauh lebih tidak konsisten.
Misalnya, nitrogen dioksida tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan AMD. Ozon juga tidak menunjukkan hubungan dengan katarak, sementara keduanya tidak memiliki hubungan signifikan dengan glaukoma.
Sementara itu, sulfur dioksida dan PM10 tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan ketiga kondisi mata yang diteliti.
Bagaimana dengan Degenerasi Makula?
Hubungan antara polusi udara dan age-related macular degeneration (AMD) juga belum sejelas hubungan PM2.5 dengan glaukoma.
AMD memengaruhi bagian tengah retina yang bertanggung jawab terhadap penglihatan tajam dan detail. Dalam analisis tersebut, hasil mengenai hubungan polusi dengan AMD masih lebih beragam sehingga belum memberikan pola sekuat temuan pada glaukoma.
Karena itu, para peneliti belum dapat menyimpulkan bahwa seluruh penyakit mata memiliki hubungan yang sama dengan polusi udara.
Penelitian Lain Memberikan Petunjuk Tambahan
Temuan dari analisis 41 penelitian bukan satu-satunya bukti yang mengarah pada kemungkinan tersebut.
Dalam penelitian pada tikus, hewan yang terpapar PM2.5 dari lingkungan selama sembilan bulan mengalami peningkatan tekanan di dalam mata, salah satu faktor risiko glaukoma. Peneliti juga menemukan tanda stres oksidatif dan stres nitrat pada jaringan yang berfungsi mengalirkan cairan dari mata.
Data manusia juga memberikan petunjuk serupa.
Analisis terhadap lebih dari 480.000 orang dalam UK Biobank menemukan bahwa mereka yang mengalami paparan PM2.5 lebih tinggi memiliki kemungkinan lebih besar mengalami glaukoma seiring waktu.
Dalam eksperimen lain, peneliti memaparkan jaringan retina manusia yang dibuat dari sel punca terhadap PM2.5. Partikel tersebut mengganggu perkembangan sel retina, termasuk retinal ganglion cells, sekaligus meningkatkan kematian sel.
Belum Berarti Polusi Pasti Menyebabkan Glaukoma
Meskipun berbagai penelitian mulai menunjukkan pola yang sama, masih ada batasan penting.
Sebagian besar bukti yang dianalisis bersifat observasional. Penelitian seperti ini dapat menemukan hubungan antara dua hal, tetapi tidak dapat memastikan bahwa satu hal menjadi penyebab langsung hal lainnya.
Usia tetap menjadi salah satu faktor risiko utama glaukoma dan katarak. Kondisi medis tertentu seperti diabetes juga dapat meningkatkan risiko. Karena itu, sulit memastikan seberapa besar kontribusi polusi udara dibandingkan faktor lain pada setiap individu.
Ahmed Alnabihi menggambarkan temuan tersebut sebagai perubahan cara pandang terhadap kedua penyakit mata tersebut:
"temuan ini mengubah cara pandang terhadap glaukoma dan katarak sebagai kondisi yang dipengaruhi oleh tempat seseorang tinggal dan menghirup udara, bukan hanya oleh lamanya seseorang hidup,"
Menurutnya, paparan lingkungan mungkin ikut menambah tekanan terhadap mata yang sudah mengalami perubahan akibat proses penuaan.
Polusi Udara Mungkin Menjadi Faktor Risiko yang Selama Ini Kurang Diperhatikan
Temuan terbaru ini tidak berarti setiap orang yang tinggal di wilayah berpolusi akan mengalami glaukoma atau katarak. Namun, hasil tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara mungkin menjadi salah satu faktor lingkungan yang patut diperhitungkan dalam kesehatan mata.
PM2.5 menjadi perhatian khusus karena hubungannya dengan glaukoma terlihat relatif konsisten di antara penelitian yang dianalisis. Meski mekanisme biologisnya masih terus diteliti, kombinasi stres oksidatif, peradangan, dan kemungkinan gangguan pada sel retina memberikan beberapa petunjuk mengenai bagaimana paparan polusi mungkin berdampak pada mata.
Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan hubungan sebab-akibat serta mengetahui apakah mengurangi paparan PM2.5 benar-benar dapat menurunkan risiko penyakit mata.
Untuk saat ini, temuan tersebut memperluas pemahaman tentang dampak polusi udara. Ancaman udara tercemar mungkin tidak berhenti pada paru-paru dan jantung, tetapi juga berpotensi berkaitan dengan kesehatan mata.
(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : Live Science