Susah BAB? Peneliti Temukan Efek Mengejutkan Setelah Jalan Kaki 20 Menit

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 19:01 WIB
Jalan kaki 20 menit ternyata bisa merangsang gerakan usus dalam hitungan menit (Shutterstock)
Jalan kaki 20 menit ternyata bisa merangsang gerakan usus dalam hitungan menit (Shutterstock)

Jawa Pos Radar Lawu - Sembelit sering kali membuat aktivitas sederhana terasa tidak nyaman. Perut terasa penuh, kembung, dan keinginan buang air besar tidak kunjung datang. Namun, sebuah penelitian menemukan cara sederhana yang mungkin bisa membantu: berjalan kaki selama 20 menit.

Peneliti dari Fujita Health University menemukan bahwa aktivitas berjalan dengan intensitas nyaman dapat meningkatkan aktivitas usus dengan sangat cepat. Hanya satu hingga dua menit setelah berjalan selesai, suara usus peserta menjadi lebih kuat, lebih sering terdengar, dan muncul dalam durasi yang lebih lama. Temuan ini memberikan petunjuk mengapa aktivitas fisik sering dikaitkan dengan fungsi pencernaan yang lebih baik.

Penelitian Melibatkan 21 Orang Dewasa Sehat

Penelitian ini melibatkan 21 orang dewasa muda yang sehat. Para peserta terlebih dahulu diminta berbaring dengan tenang agar peneliti dapat mengukur aktivitas dasar usus mereka.

Peneliti menggunakan suara usus atau bowel sounds sebagai indikator pergerakan saluran pencernaan. Suara tersebut muncul ketika gas dan cairan bergerak melewati usus sehingga dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas kontraksi di dalam sistem pencernaan.

Setelah pengukuran awal selesai, peserta berjalan di atas treadmill selama 20 menit dengan kecepatan yang mereka anggap nyaman.

Begitu selesai berjalan, peserta kembali berbaring. Peneliti kemudian merekam suara usus mereka pada beberapa titik selama 15 menit berikutnya.

Baca Juga: Bukan Soal 10.000 Langkah, Tantangan Jalan Kaki 6-6-6 Ini Justru Bikin Banyak Orang Konsisten

Efeknya Muncul Hanya dalam Hitungan Menit

Hasil pengukuran menunjukkan respons yang sangat cepat.

Dalam waktu satu hingga dua menit setelah berjalan, ketiga indikator aktivitas usus yang diukur peneliti meningkat secara signifikan dibandingkan kondisi istirahat.

Salah satu perubahan paling mencolok terjadi pada amplitudo suara usus. Intensitas suara tersebut hampir dua kali lipat setelah aktivitas berjalan.

Selain itu, suara usus juga terdengar dalam proporsi waktu yang lebih besar dan jumlah kejadian suara per menit ikut meningkat.

Namun, efek tersebut tidak berlangsung lama.

Peningkatan aktivitas usus mulai berkurang sekitar dua hingga tiga menit kemudian. Meski hanya sementara, kecepatan respons tersebut menunjukkan bahwa aktivitas fisik ringan ternyata dapat memberikan efek yang dapat diukur terhadap pergerakan usus hampir seketika.

Mengapa Jalan Kaki Bisa Merangsang Usus?

Para peneliti belum dapat memastikan satu mekanisme tunggal yang bertanggung jawab atas efek tersebut. Namun, mereka memiliki beberapa dugaan.

Salah satunya berkaitan dengan sistem saraf otonom, yaitu bagian sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis, termasuk proses pencernaan.

Gerakan tubuh saat berjalan juga mungkin memicu refleks tertentu yang mendorong usus menjadi lebih aktif. Dengan kata lain, bukan hanya otot kaki yang bergerak ketika seseorang berjalan. Gerakan tersebut dapat memberikan rangsangan pada sistem tubuh lainnya, termasuk saluran pencernaan.

Profesor Yohei Otaka, penulis senior penelitian tersebut, mengatakan:

"Berjalan kaki dapat menjadi cara yang efektif dan langsung untuk merangsang fungsi usus. Temuan ini juga menunjukkan kemungkinan adanya mekanisme yang mendasarinya, seperti perubahan aktivitas sistem saraf otonom atau refleks yang dipicu oleh gerakan alami tubuh saat bergerak."

Temuan tersebut membantu memberikan penjelasan biologis mengenai alasan aktivitas fisik kerap direkomendasikan untuk orang yang mengalami sembelit.

Bukan Berarti Jalan 20 Menit Langsung Menyembuhkan Sembelit

Meski hasil penelitian terdengar menjanjikan, ada hal yang perlu diperhatikan.

Studi ini hanya melibatkan 21 orang dewasa muda yang sehat. Peneliti mengukur perubahan aktivitas usus dalam waktu singkat setelah berjalan, bukan menguji apakah berjalan 20 menit dapat menyembuhkan sembelit kronis dalam jangka panjang.

Karena itu, hasil penelitian lebih tepat dipahami sebagai bukti bahwa aktivitas fisik dapat memberikan rangsangan langsung terhadap motilitas usus, bukan sebagai pengganti pengobatan untuk gangguan pencernaan yang menetap.

Namun, temuan tersebut tetap menarik karena berjalan kaki merupakan aktivitas yang relatif sederhana dan mudah dilakukan.

Baca Juga: Kurang Vitamin D Bisa Picu Kanker Usus Besar? Risiko Penyakit Ini Disebut Lebih Tinggi Diidap Wanita

Suara Usus Bisa Jadi Alat Penelitian Baru

Penelitian ini juga memberikan manfaat di luar temuan mengenai berjalan kaki.

Para ilmuwan menunjukkan bahwa suara usus dapat digunakan sebagai metode noninvasif untuk memantau aktivitas saluran pencernaan. Peneliti tidak perlu melakukan prosedur yang lebih invasif untuk mengetahui perubahan gerakan usus dalam jangka pendek.

Metode tersebut berpotensi digunakan dalam penelitian berikutnya untuk melihat bagaimana berbagai aktivitas, perilaku, maupun terapi memengaruhi sistem pencernaan.

Dengan merekam perubahan suara usus sebelum dan sesudah suatu aktivitas, peneliti dapat memperoleh gambaran mengenai bagaimana saluran pencernaan merespons rangsangan tertentu.

Jalan Kaki Bisa Jadi Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Pencernaan

Penelitian dari Fujita Health University ini memperkuat hubungan antara aktivitas fisik dan kesehatan pencernaan. Bahkan aktivitas yang relatif ringan seperti berjalan ternyata dapat memengaruhi gerakan usus dalam waktu yang sangat singkat.

Bagi orang yang mengalami sembelit sesekali, berjalan kaki dapat menjadi salah satu aktivitas sederhana yang layak dicoba sebagai bagian dari kebiasaan hidup aktif. Namun, sembelit yang terus berlangsung atau disertai keluhan lain tetap memerlukan perhatian medis.

Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports dengan judul Immediate effect of physical activity on gut motility in healthy adults.

Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa tubuh bisa merespons aktivitas fisik jauh lebih cepat daripada yang mungkin dibayangkan. Hanya 20 menit berjalan dengan nyaman sudah cukup untuk memicu peningkatan aktivitas usus yang terukur—meski efeknya hanya bertahan beberapa menit.

(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Science Daily
jalan kaki kesehatan kesehatan pencernaan sembelit gaya hidup sehat