Jawa Pos Radar Lawu - Selama ini, kucing lebih sering dikenal sebagai hewan peliharaan yang menemani manusia di rumah. Namun, sebuah penelitian besar menemukan bahwa tubuh mereka ternyata menyimpan petunjuk yang bisa membantu ilmuwan memahami salah satu penyakit paling kompleks: kanker.
Peneliti dari berbagai negara menganalisis tumor dari hampir 500 kucing domestik dan menemukan banyak perubahan genetik yang juga ditemukan pada kanker manusia. Studi ini menjadi salah satu pemetaan genetika kanker kucing terbesar yang pernah dilakukan dan berpotensi membuka jalan bagi pengembangan pengobatan yang lebih spesifik, baik untuk kucing maupun manusia.
Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Science pada 2026 dengan judul The oncogenome of the domestic cat.
Gen Kanker Kucing Ternyata Punya Banyak Kesamaan
Para peneliti memeriksa sampel tumor dari kucing domestik di lima negara. Mereka mencari berbagai mutasi dan perubahan genetik yang dapat mendorong terbentuknya serta berkembangnya kanker.
Dalam kondisi normal, sejumlah gen berperan mengatur pertumbuhan, pembelahan, perbaikan kerusakan, hingga kematian sel. Ketika gen-gen tersebut mengalami perubahan, sel dapat tumbuh dan membelah secara tidak terkendali.
Gen yang secara langsung berperan dalam mendorong pertumbuhan tumor dikenal sebagai gen pendorong kanker.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak gen pendorong kanker pada kucing ternyata juga dikenal dalam kanker manusia dan anjing. Kesamaan tersebut ditemukan pada berbagai jenis kanker yang menyerang jaringan berbeda.
Dr. Geoffrey Wood, profesor patobiologi di University of Guelph sekaligus salah satu penulis senior penelitian, mengatakan:
"Meskipun kucing domestik merupakan hewan peliharaan yang umum, sebelumnya hanya sedikit yang diketahui tentang genetika kanker pada hewan ini," kata Wood, "hingga sekarang."
Baca Juga: Kucing Kecil Ini Ternyata Spesies Baru, Terungkap Setelah DNA-nya Diteliti
Kanker Payudara Kucing Jadi Salah Satu Contoh
Salah satu temuan yang paling jelas terlihat pada kanker mammae kucing, yaitu kanker yang menyerang jaringan payudara.
Peneliti menemukan bahwa FBXW7 menjadi gen pendorong kanker yang paling umum pada tumor mammae kucing. Lebih dari 50 persen tumor yang diperiksa memiliki mutasi pada gen tersebut.
Dalam kondisi normal, FBXW7 membantu mengatur protein yang berkaitan dengan pertumbuhan dan pembelahan sel. Ketika gen tersebut mengalami kerusakan, protein yang mendorong pertumbuhan sel dapat menumpuk sehingga berpotensi membantu sel kanker bertahan dan menyebar.
Menariknya, mutasi FBXW7 juga ditemukan pada kanker payudara manusia dan dikaitkan dengan prognosis yang lebih buruk. Kesamaan inilah yang membuat kanker pada kucing menarik untuk dipelajari lebih lanjut.
Kesamaan Tidak Hanya Terjadi pada Satu Jenis Kanker
Peneliti juga menemukan pola genetik yang mirip pada kanker yang menyerang berbagai bagian tubuh.
Kesamaan tersebut mencakup kanker pada:
•Darah
•Tulang
•Paru-paru
•Kulit
•Sistem pencernaan
•Sistem saraf pusat
Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara kanker kucing dan manusia tidak terbatas pada satu jenis tumor saja.
Baca Juga: Bukan Sekadar Bau, Urine Kucing Ternyata Menyimpan “Kartu Identitas”
Kucing dan Manusia Tinggal di Lingkungan yang Sama
Ada alasan lain mengapa kucing bisa menjadi objek menarik dalam penelitian kanker.
Kucing rumahan dan pemiliknya biasanya berbagi lingkungan yang sama. Mereka dapat terpapar sejumlah faktor lingkungan serupa, mulai dari bahan kimia rumah tangga, polusi udara hingga asap.
Kondisi tersebut memungkinkan peneliti mempelajari hubungan antara genetik dan lingkungan dalam perkembangan kanker.
Wood mengatakan:
"Studi ini dapat membantu kita memahami lebih jauh mengapa kanker berkembang pada kucing dan manusia, bagaimana lingkungan di sekitar kita memengaruhi risiko kanker, serta kemungkinan menemukan cara baru untuk mencegah dan mengobatinya."
Dengan mempelajari kanker yang muncul secara alami pada hewan peliharaan, peneliti bisa mendapatkan informasi tambahan mengenai bagaimana faktor genetik dan lingkungan bekerja bersama dalam memengaruhi risiko kanker.
Ada Petunjuk untuk Pengobatan yang Lebih Spesifik
Penelitian ini tidak berhenti pada pemetaan DNA tumor. Para ilmuwan juga menguji bagaimana beberapa obat kemoterapi bekerja terhadap tumor kucing dengan mutasi tertentu.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa obat kemoterapi tertentu lebih efektif terhadap tumor mammae kucing yang membawa mutasi FBXW7. Namun, pengujian tersebut masih dilakukan pada sampel jaringan.
Artinya, hasil ini belum membuktikan bahwa pendekatan yang sama akan berhasil pada kucing atau manusia yang masih hidup. Temuan tersebut baru memberikan petunjuk bahwa informasi genetik tumor mungkin suatu hari dapat digunakan untuk memilih pengobatan yang lebih sesuai.
Apa Itu Onkologi Presisi?
Pendekatan tersebut dikenal sebagai onkologi presisi atau pengobatan kanker presisi.
Alih-alih memberikan terapi yang sama kepada semua pasien dengan jenis kanker yang sama, pendekatan ini mempertimbangkan karakteristik molekuler dan genetik dari masing-masing tumor.
Dengan mengetahui mutasi tertentu dalam tumor, dokter atau dokter hewan nantinya dapat memiliki informasi tambahan untuk menentukan terapi yang paling sesuai.
Dr. Sven Rottenberg, salah satu penulis senior dari University of Bern, mengatakan:
"Akses terhadap kumpulan jaringan yang didonasikan dalam jumlah besar memungkinkan kami menilai respons obat pada berbagai jenis tumor," kata Dr. Sven Rottenberg, salah satu penulis senior dari University of Bern, "dengan cara yang sebelumnya belum pernah memungkinkan pada skala sebesar ini."
Data Kanker Kucing Kini Bisa Dipakai Peneliti Lain
Untuk melakukan penelitian ini, tim tidak harus mengumpulkan seluruh sampel baru.
Sebagian besar DNA berasal dari jaringan yang sebelumnya sudah diambil dokter hewan untuk keperluan diagnosis. Dengan memanfaatkan jaringan tersebut, peneliti dapat mengurutkan DNA dari kanker yang muncul secara alami pada banyak kucing.
Tim juga membuat sumber data yang dapat diakses secara bebas oleh peneliti lain. Database tersebut diharapkan membantu penelitian lanjutan mengenai genetika kanker pada kucing.
Bailey Francis, salah satu penulis pertama dari Wellcome Sanger Institute, mengatakan:
"Ketika pengetahuan dan data mengalir di antara berbagai disiplin ilmu, kita semua dapat memperoleh manfaat."
Konsep One Medicine Jadi Semakin Penting
Penelitian ini juga mendukung pendekatan yang dikenal sebagai One Medicine, yaitu gagasan bahwa ilmu kedokteran manusia dan kedokteran hewan dapat saling memberikan informasi.
Kucing secara alami dapat mengalami berbagai penyakit yang juga ditemukan pada manusia. Selain itu, hewan peliharaan hidup di lingkungan yang sama dengan manusia sehingga memiliki sejumlah kesamaan paparan lingkungan.
Dalam jangka panjang, pengobatan kanker yang dikembangkan untuk manusia berpotensi diuji atau dipelajari pada kucing yang mengalami tumor secara alami. Sebaliknya, hasil penelitian dan uji klinis pada kucing juga dapat memberikan petunjuk untuk penelitian kanker manusia.
Target Berikutnya: Pengobatan Kanker Kucing yang Lebih Personal
Para peneliti berharap database genetika yang baru dibuat dapat membantu membawa pengobatan kanker yang lebih personal untuk kucing.
Dr. Louise Van Der Weyden, penulis senior dari Wellcome Sanger Institute, mengatakan:
"Kini kami dapat mulai mengambil langkah berikutnya menuju onkologi kucing presisi, mengejar ketertinggalan dari pilihan diagnosis dan terapi yang tersedia bagi anjing dengan kanker, dan pada akhirnya, suatu hari nanti, bagi manusia."
Penelitian ini belum berarti kucing akan langsung menjadi sumber pengobatan kanker baru untuk manusia. Namun, kemiripan genetik yang ditemukan memberikan bahan penelitian yang sebelumnya belum tersedia dalam skala sebesar ini.
Dengan mempelajari kanker pada kucing dan membandingkannya dengan kanker manusia, ilmuwan kini memiliki cara tambahan untuk melihat bagaimana tumor berkembang, bagaimana lingkungan dapat memengaruhinya, serta bagaimana terapi bisa dibuat lebih sesuai dengan karakteristik masing-masing tumor.
(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : Science Daily