Jawa Pos Radar Lawu - Rutinitas yang padat, notifikasi yang terus bermunculan, tuntutan pekerjaan, hingga tekanan untuk selalu produktif membuat rasa lelah menjadi dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang mengira tidur cukup sudah cukup untuk mengembalikan energi.
Padahal, ketika tubuh terasa tetap lelah, sulit fokus, dan kehilangan semangat meski sudah beristirahat, bisa jadi yang membutuhkan jeda bukan tubuh, melainkan pikiran.
Menurut World Health Organization (WHO), lingkungan kerja dengan tekanan tinggi, beban kerja berlebihan, dan kurangnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat meningkatkan risiko stres berkepanjangan dan burnout. Kondisi ini juga berdampak pada produktivitas, kesehatan, hingga kualitas hidup seseorang.
Ketika Capek Bukan Lagi Soal Kurang Tidur
Tidur selama tujuh hingga delapan jam memang penting, tetapi kualitas kesehatan mental tidak selalu pulih hanya dengan tidur.
Kelelahan mental atau mental fatigue merupakan kondisi ketika otak mengalami penurunan kemampuan akibat terus-menerus menerima tekanan emosional maupun beban berpikir. Akibatnya, seseorang tetap merasa lelah meski kebutuhan tidurnya sudah terpenuhi.
Beberapa tanda yang sering muncul antara lain:
- Sulit berkonsentrasi meski mengerjakan tugas sederhana.
- Mudah tersinggung atau lebih sensitif terhadap hal kecil.
- Kehilangan motivasi melakukan aktivitas yang sebelumnya disukai.
- Merasa kosong atau mati rasa secara emosional.
- Tetap lelah meski sudah tidur cukup.
- Sulit menghentikan overthinking, terutama pada malam hari.
- Mudah merasa cemas tanpa penyebab yang jelas.
Dalam dunia kesehatan kerja, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan burnout, yaitu sindrom yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Burnout bukan sekadar merasa lelah, tetapi melibatkan kelelahan emosional, menurunnya semangat, serta berkurangnya efektivitas dalam bekerja.
Mengapa Mental Lelah Sering Tidak Disadari?
Salah satu penyebabnya adalah budaya yang menganggap sibuk sebagai tanda kesuksesan. Tidak sedikit orang merasa bersalah ketika beristirahat.
Padahal, otak membutuhkan waktu untuk memulihkan diri sama seperti tubuh membutuhkan tidur setelah beraktivitas.
Tanpa disadari, berbagai kebiasaan berikut dapat membuat otak terus bekerja tanpa jeda:
- Scrolling media sosial selama berjam-jam.
- Membalas pesan pekerjaan di luar jam kerja.
- Melakukan banyak pekerjaan sekaligus (multitasking).
- Terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial.
- Jarang memberikan waktu untuk benar-benar beristirahat.
Jika berlangsung terus-menerus, tubuh akan terus berada dalam kondisi siaga sehingga stres semakin sulit dikendalikan.
Baca Juga: Tidur 8 Jam Tapi Masih Ngantuk? Ternyata Ini Penyebab yang Sering Diabaikan
Ternyata Kelelahan Mental Juga Memengaruhi Tubuh
Kesehatan mental dan kesehatan fisik saling berkaitan. Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, tubuh akan melepaskan hormon stres seperti kortisol.
Jika kadarnya terus meningkat dalam waktu lama, kondisi ini dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh. Beberapa dampak yang mungkin muncul meliputi:
- Tidur menjadi tidak berkualitas.
- Tubuh terasa cepat lelah.
- Konsentrasi menurun.
- Nafsu makan berubah.
- Daya tahan tubuh melemah.
- Keluhan pencernaan lebih mudah muncul.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa kesehatan mental memengaruhi kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial seseorang. Ketika kesehatan mental terganggu, kemampuan tubuh untuk menjalankan aktivitas sehari-hari juga dapat ikut menurun.
Ciri-Ciri Mental Mulai Butuh Istirahat
Sebelum mengalami burnout, biasanya tubuh sudah memberikan berbagai sinyal. Perhatikan jika kamu mulai mengalami beberapa kondisi berikut:
- Bangun tidur tetapi tetap merasa lelah.
- Sulit menikmati waktu libur atau akhir pekan.
- Menjalani aktivitas seperti berjalan otomatis tanpa semangat.
- Mulai menghindari interaksi sosial.
- Menunda pekerjaan yang sebenarnya sederhana.
- Merasa pikiran penuh sepanjang hari.
- Mudah kehilangan fokus saat bekerja atau belajar.
Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya jangan diabaikan.
Cara Mengatasi Kelelahan Mental
Memulihkan kesehatan mental tidak selalu harus dilakukan dengan liburan panjang. Justru, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu mengurangi tekanan mental.
Beberapa langkah yang bisa dicoba antara lain:
- Kurangi penggunaan gadget sebelum tidur.
- Batasi paparan informasi yang tidak diperlukan.
- Beristirahat sejenak di sela pekerjaan.
- Luangkan waktu berjalan kaki tanpa membawa ponsel.
- Terapkan pola tidur dan pola makan yang teratur.
- Belajar mengatakan "tidak" pada beban yang melebihi kemampuan.
- Luangkan waktu melakukan hobi atau aktivitas yang disukai.
- Berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater apabila keluhan menetap atau semakin berat.
Yang tidak kalah penting adalah memahami bahwa beristirahat bukan berarti malas. Memberikan waktu bagi tubuh dan pikiran untuk pulih merupakan bagian dari menjaga kesehatan.
Baca Juga: Kurang Tidur Bikin Mood Rusak Seharian? Ikuti Tips Ini agar Bisa Istirahat Cukup, Pikiran Jadi Fresh
Kesehatan Mental Sama Pentingnya dengan Kesehatan Fisik
Banyak orang segera memeriksakan diri ketika mengalami demam atau nyeri. Namun, saat mengalami tekanan emosional berkepanjangan, kondisi tersebut sering dianggap hal yang wajar hingga akhirnya semakin berat.
Padahal, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Mengenali tanda-tanda kelelahan mental sejak dini dapat membantu mencegah burnout serta berbagai dampak lain terhadap kesehatan.
Apabila rasa lelah, kehilangan motivasi, kecemasan, atau gangguan tidur berlangsung selama berminggu-minggu hingga mengganggu pekerjaan, sekolah, atau hubungan sosial, jangan ragu mencari bantuan tenaga profesional. Penanganan sejak dini dapat membantu proses pemulihan menjadi lebih baik.
Mental yang sehat bukan berarti selalu merasa bahagia setiap saat. Tetapi, memberikan waktu untuk beristirahat, mengelola stres, dan meminta bantuan ketika diperlukan merupakan langkah penting agar tubuh dan pikiran tetap mampu menjalani aktivitas dengan optimal.
(Azarine Nirwasita Zada, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : labcito.co.id