Jawa Pos Radar Lawu - Puasa bagi penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) memang bisa menjadi tantangan. Jika pola makan tidak tepat, asam lambung dapat naik dan menimbulkan gejala seperti nyeri ulu hati, mual, hingga sensasi terbakar di dada (heartburn). Kondisi ini tentu bisa mengganggu kenyamanan beribadah.
Namun kabar baiknya, penderita GERD tetap bisa menjalankan puasa dengan aman selama menerapkan pola makan dan gaya hidup yang tepat. Berikut enam tips yang bisa diterapkan selama Ramadan.
1. Jangan Pernah Melewatkan Sahur
Sahur sangat penting agar lambung tidak kosong terlalu lama. Melewatkan sahur membuat produksi asam lambung tetap berlangsung tanpa ada makanan yang dicerna, sehingga berisiko memicu refluks.
Pastikan sahur dengan:
-
Porsi cukup
-
Gizi seimbang
-
Air putih yang memadai
Puasa bisa berlangsung lebih dari 12 jam, sehingga sahur menjadi fondasi utama menjaga lambung tetap stabil.
2. Pilih Makanan yang Mudah Dicerna
GERD terjadi akibat melemahnya katup otot bagian bawah kerongkongan (LES), sehingga asam lambung mudah naik kembali.
Rekomendasi makanan:
-
Oatmeal
-
Pisang
-
Melon dan semangka
-
Yoghurt
-
Daging tanpa lemak
-
Ikan
-
Kacang-kacangan
Hindari:
-
Makanan pedas
-
Makanan asam
-
Gorengan dan makanan berlemak tinggi
Makanan tinggi lemak dan pedas dapat memicu peningkatan produksi asam lambung.
3. Makan Perlahan dan Kunyah dengan Baik
Makan terlalu cepat membuat lambung bekerja lebih keras dan meningkatkan risiko kambuhnya gejala GERD.
Tipsnya:
-
Kunyah makanan secara perlahan
-
Hindari porsi besar sekaligus
-
Bangun sahur lebih awal agar tidak terburu-buru
Kebiasaan sederhana ini membantu sistem pencernaan bekerja lebih optimal.
4. Jangan Langsung Tidur setelah Makan
Berbaring setelah makan, baik saat sahur maupun berbuka, meningkatkan risiko refluks karena efek gravitasi berkurang.
Idealnya:
-
Tunggu 2–3 jam sebelum tidur
-
Jika harus berbaring, posisikan kepala lebih tinggi dengan dua bantal
Hindari posisi yang menekan perut karena dapat memperparah refluks.
5. Hindari Makanan dan Minuman Pemicu GERD
Beberapa pemicu umum yang perlu dibatasi saat puasa:
-
Minuman bersoda
-
Kopi dan teh berlebihan
-
Gorengan
-
Makanan pedas (misalnya seblak)
-
Buah sangat asam seperti jeruk dan stroberi
Mengonsumsi pemicu saat perut kosong bisa memperparah gejala.
6. Segera Berbuka Saat Waktunya Tiba
Menunda berbuka membuat lambung kosong lebih lama dan meningkatkan risiko asam lambung naik.
Berbukalah dengan makanan ringan yang ramah lambung seperti:
-
Kurma
-
Pisang
-
Oatmeal
-
Semangka
-
Alpukat
Setelah itu, lanjutkan makan utama secara bertahap dan tidak berlebihan.
Kelola Stres dan Hindari Rokok
Stres dapat memperparah gejala GERD. Lakukan relaksasi ringan, istirahat cukup, dan jaga kualitas ibadah agar tetap tenang.
Merokok juga dapat melemahkan katup lambung dan memicu refluks, sehingga sebaiknya dihindari sepenuhnya.
Kapan Harus Membatalkan Puasa?
Segera batalkan puasa jika mengalami gejala berat seperti:
-
Nyeri dada hebat
-
Mual dan muntah berulang
-
Pusing dan lemas berlebihan
-
Nyeri perut tak tertahankan
Kesehatan tetap menjadi prioritas utama dalam beribadah.
Penderita GERD tetap bisa menjalankan puasa dengan nyaman selama disiplin menjaga pola makan, menghindari pemicu, tidak langsung tidur setelah makan, dan mengelola stres dengan baik.
Dengan konsistensi dan perencanaan yang tepat, ibadah Ramadan dapat berjalan lancar tanpa gangguan asam lambung kambuh. (fin)
Editor : AA Arsyadani