Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Waspada Burnout saat Puasa Ramadhan: Psikolog Ungkap Tanda Kelelahan Mental dan Cara Mencegahnya

AA Arsyadani • Selasa, 24 Februari 2026 | 11:25 WIB

Sering lelah dan mudah emosi saat puasa? Waspada burnout!
Sering lelah dan mudah emosi saat puasa? Waspada burnout!

Jawa Pos Radar Lawu - Perubahan rutinitas selama Ramadhan tidak hanya memengaruhi pola makan dan tidur, tetapi juga kondisi mental.

Jadwal kerja yang tetap padat, ditambah ibadah dan aktivitas sosial, bisa memicu kelelahan fisik sekaligus mental atau burnout.

Dilansir dari Gulfnews, psikolog klinis di Rumah Sakit RAK, Uni Emirat Arab, Zobia Amin, menjelaskan bahwa perubahan mendadak selama Ramadhan berdampak langsung pada tubuh dan pikiran.

"Puasa, perubahan pola tidur, peningkatan kewajiban keagamaan dan sosial, serta tanggung jawab pekerjaan yang berkelanjutan dapat secara kumulatif membebani sumber daya fisik dan psikologis," kata Zobia.

Mengapa Burnout Rentan Terjadi saat Puasa?

Puasa menyebabkan fluktuasi kadar gula darah dan perubahan hidrasi. Kondisi ini berpengaruh pada energi, fokus, dan stabilitas emosi.

Ditambah lagi, ibadah malam dan sahur membuat waktu istirahat berkurang sehingga kualitas tidur menurun.

Akibatnya, fungsi kognitif dan kemampuan mengatur emosi ikut terganggu.

Jika beban pekerjaan dan agenda sosial tetap tinggi, tubuh dan pikiran semakin tertekan.

Zobia menegaskan, tanda awal burnout selama Ramadhan bisa dikenali dari kelelahan yang tidak membaik meski sudah beristirahat, perubahan suasana hati, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, hingga gangguan tidur.

Sebagian orang juga mengalami sakit kepala, ketegangan otot, dan gangguan pencernaan.

Puasa Bukan Satu-satunya Penyebab

Spesialis psikiatri di Rumah Sakit Zulekha, Dubai, dr. Raga Sandhya Gandhi, menilai puasa jarang menjadi faktor tunggal.

"Selama Ramadhan, faktor-faktor ini sering terjadi bersamaan, berkontribusi pada peningkatan hormon stres, penurunan fungsi kognitif, dan disregulasi emosional yang menyebabkan gejala seperti kelelahan, mudah tersinggung, gelisah, sakit kepala, dan penurunan kewaspadaan," kata Raga.

Menurutnya, dehidrasi, penghentian konsumsi kafein, serta gangguan tidur turut memperburuk kondisi suasana hati dan produktivitas.

Jika gejala mulai mengganggu fungsi pribadi, sosial, maupun profesional, itu menjadi sinyal bahwa kelelahan berkembang menjadi masalah emosional yang lebih serius.

Siapa yang Paling Berisiko?

Orang dengan riwayat diabetes, kecemasan, atau depresi memiliki risiko lebih tinggi. Begitu pula pekerja dengan jam kerja panjang, sistem shift, atau tuntutan konsentrasi tinggi.

Minimnya dukungan sosial juga memperbesar potensi burnout selama Ramadhan.

Cara Mencegah Burnout saat Ramadhan

Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga fisik. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

"Intervensi dini oleh profesional kesehatan mental dapat memberikan dukungan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dan mencegah stres psikologis lebih lanjut karena tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental," kata Zobia.

Ramadhan seharusnya menjadi momen refleksi dan ketenangan, bukan sumber tekanan berlebihan.

Mengenali tanda burnout sejak awal membantu kita tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan mental. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#gangguan tidur #kesehatan mental #burnout #Puasa Ramadhan