Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Psikiater Ingatkan Gen Z dan Alpha Rentan Self-Diagnosis Kesehatan Mental Lewat AI, Ini Bahaya yang Mengintai

Rimba Febriani • Selasa, 13 Januari 2026 | 17:32 WIB

 

AI bisa membantu, tapi bukan pengganti dokter dan keluarga.
AI bisa membantu, tapi bukan pengganti dokter dan keluarga.

Jawa Pos Radar Lawu - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam kehidupan sehari-hari kian masif, termasuk untuk membahas isu kesehatan mental. Namun, tren ini memunculkan kekhawatiran baru. Psikiater dr. Kristiana Siste dari FKUI–RSCM memperingatkan bahwa generasi Z dan generasi Alpha menjadi kelompok yang paling rentan melakukan self-diagnosis kesehatan mental dengan mengandalkan AI.

Dalam acara Dialog Multistakeholder Towards a Smart Governance di Jakarta, Rabu, dr. Siste menegaskan bahwa AI belum tentu mampu membaca gejala kesehatan mental secara akurat. Meski demikian, banyak anak muda kini menggunakan chatbot AI untuk menilai kepribadian, kondisi emosi, bahkan menduga diri mereka mengalami depresi.

AI Berubah Jadi Tempat Curhat Pengganti Keluarga

Dr. Siste mengungkapkan bahwa sebagian pasien menjadikan AI sebagai tempat mencurahkan perasaan, terutama saat merasa kesepian akibat minimnya komunikasi di lingkungan keluarga. Kondisi ini membuat remaja dan anak muda merasa lebih nyaman berbagi keluhan kepada chatbot dibandingkan orang terdekat.

Meski demikian, ia menekankan bahwa peran AI seharusnya terbatas sebagai alat skrining awal, misalnya untuk mendeteksi kecanduan internet, gim, atau judi online. Hasil yang diberikan AI sering kali bersifat keliru atau berlebihan, sehingga tidak boleh dijadikan dasar diagnosis.

Bahaya Self-Treatment Berdasarkan Hasil AI

Fenomena lain yang dinilai mengkhawatirkan adalah kebiasaan pengguna membagikan hasil “diagnosis” dari AI ke media sosial, lalu melakukan self-treatment tanpa konsultasi dokter. Menurut dr. Siste, tindakan ini sangat berbahaya dan berpotensi memperburuk kondisi kesehatan mental.

Ia juga menyoroti risiko ketergantungan berlebihan pada AI, yang dapat membuat anak muda menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa lebih dipahami oleh chatbot dibanding manusia.

Peran Orang Tua Tidak Bisa Digantikan

Dr. Siste menegaskan bahwa AI seharusnya menjadi alat pendukung, bukan pengganti tenaga profesional maupun keluarga. Ia mendorong peran aktif orang tua agar teknologi tidak menggeser komunikasi di rumah.

“AI bagus jika digunakan bersama-sama oleh keluarga. Orang tua harus mengerti dulu, lalu mengajak anaknya berinteraksi bersama,” ujar dr. Siste.

Baca Juga: Ahli Gizi Ungkap Manfaat Konsumsi Buah di Pagi Hari, Asal Tidak Salah Cara dan Takaran Porsinya

Kemenkes Tegaskan AI Bukan Alat Diagnosis Mandiri

Senada dengan hal tersebut, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa AI tidak dapat dijadikan alat diagnosis mandiri dalam dunia medis.

“Medical is a combination between science and art. Jadi keputusan di bidang kedokteran itu tidak bisa diambil dari hanya satu sumber informasi saja,” katanya.

Dante mencontohkan pemanfaatan AI oleh Kementerian Kesehatan melalui portable X-ray untuk mendeteksi tuberkulosis (TBC), termasuk pada individu tanpa gejala namun memiliki kontak erat dengan pasien. Teknologi ini membantu menemukan kasus tersembunyi dengan lebih cepat.

Meski demikian, ia menekankan bahwa hasil analisis AI tetap harus berada di bawah pengawasan tenaga medis.

“Tidak semua informasi dari AI bisa diimplementasikan langsung oleh pasien. Ini harus ada regulasinya,” tegasnya.

Potensi Besar, Risiko Tak Kecil

Pemanfaatan AI dalam kesehatan mental memang menyimpan potensi besar, mulai dari edukasi hingga deteksi awal. Namun tanpa pendampingan profesional, edukasi yang memadai, serta peran aktif keluarga, teknologi justru berisiko menyesatkan dan membahayakan kesehatan mental generasi muda. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#kesehatan mental #gen alpha #kesehatan mental remaja #Gen Z #self diagnosis