Jawa Pos Radar Lawu - Kebiasaan sarapan ternyata bukan sekadar rutinitas pagi, melainkan bisa menjadi penanda penting kondisi kesehatan hingga harapan hidup seseorang.
Penelitian terbaru mengungkap bahwa waktu makan terutama sarapan berkaitan erat dengan risiko penyakit kronis dan kematian dini seiring bertambahnya usia.
Mengutip Health, Rabu (28/10), studi ini menunjukkan bahwa menunda sarapan atau makan terlalu sore berhubungan dengan meningkatnya risiko kelelahan kronis.
Juga, gangguan kesehatan mental, masalah kesehatan mulut, hingga risiko kematian lebih tinggi.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa perubahan waktu makan pada lansia, terutama waktu sarapan, dapat menjadi penanda status kesehatan secara keseluruhan dan relatif mudah dipantau,” ujar Hassan Dashti, PhD, RD, ilmuwan nutrisi dan ahli biologi sirkadian dari Massachusetts General Hospital, Amerika Serikat.
Sarapan Telat, Risiko Kesehatan Meningkat
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Medicine ini melibatkan hampir 3.000 orang dewasa berusia 42 hingga 94 tahun di Inggris dan dipantau selama lebih dari dua dekade.
Para peserta diminta melaporkan jadwal makan harian, pola tidur, aktivitas kerja, serta persepsi terhadap kondisi kesehatannya.
Hasilnya menunjukkan bahwa waktu makan cenderung semakin mundur seiring bertambahnya usia.
Rata-rata, waktu sarapan bergeser sekitar delapan menit dan makan malam sekitar empat menit setiap sepuluh tahun.
Namun, keterlambatan sarapan justru menjadi faktor yang paling berdampak terhadap kesehatan.
Bahkan, setiap penundaan sarapan selama satu jam dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian sebesar 8–11 persen selama masa tindak lanjut.
“Waktu makan yang lebih lambat, terutama penundaan sarapan, berkaitan dengan tantangan kesehatan dan peningkatan risiko kematian pada kelompok usia lanjut,” kata Dashti.
Tubuh Dirancang untuk Makan Lebih Awal
Meski studi ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, para ahli sepakat bahwa sarapan lebih awal dan teratur memberi manfaat nyata bagi metabolisme.
“Metabolisme kita secara alami diprogram untuk menerima asupan makanan segera setelah bangun tidur,” ujar Courtney M. Peterson, PhD, profesor madya nutrisi di Harvard T.H. Chan School of Public Health.
Para peneliti menyarankan waktu makan ideal adalah satu hingga dua jam setelah bangun tidur. Pola ini dinilai mampu menyelaraskan jam biologis tubuh, mendukung metabolisme, serta meningkatkan kualitas tidur.
Sebaliknya, kebiasaan melewatkan sarapan atau makan terlalu larut malam dapat memicu lonjakan gula darah, merusak pembuluh darah, meningkatkan peradangan, dan memperbesar risiko diabetes tipe 2 serta penyakit jantung.
Bukan Hanya Apa yang Dimakan, Tapi Kapan
Konsistensi waktu makan juga berperan besar dalam menjaga ritme sirkadian, yakni sistem biologis 24 jam yang mengatur fungsi tubuh seperti pencernaan, hormon, hingga energi.
“Menjaga kesehatan bukan hanya soal apa yang Anda makan, tetapi juga kapan Anda makan,” kata Nate Wood, MD, Direktur Kedokteran Kuliner di Fakultas Kedokteran Yale.
Menurutnya, membiasakan sarapan dan makan malam lebih awal dapat membantu tubuh tetap selaras dengan ritme alaminya, mencegah makan berlebihan di malam hari, serta memperbaiki kualitas tidur.
“Meluangkan waktu untuk sarapan yang sehat dan konsisten mungkin merupakan salah satu kebiasaan kecil sehari-hari yang berkontribusi pada hidup yang lebih panjang dan lebih sehat,” tutup Wood. (fin)
Editor : AA Arsyadani