Jawa Pos Radar Lawu - Kamu mungkin pernah tanpa sadar sering mengunyah es batu, atau melihat orang di sekitarmu yang gemar melakukannya.
Biasanya dilakukan saat menikmati minuman dingin di kafe atau sekadar bersantai di rumah.
Kebiasaan ini memang tampak sepele dan menyegarkan, terutama saat cuaca panas.
Namun, di balik sensasi dinginnya, kebiasaan mengunyah es batu berlebihan bisa menjadi pertanda gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai.
Dalam dunia medis, kebiasaan ini dikenal dengan istilah pagophagia, yaitu kondisi ketika seseorang memiliki dorongan kuat dan tidak terkendali untuk mengunyah es batu secara terus-menerus.
Pagophagia termasuk dalam gangguan makan yang disebut pica, yakni keinginan mengonsumsi benda atau zat tanpa nilai gizi, seperti tanah, kertas, atau es.
Seseorang dengan pagophagia bisa menghabiskan satu baki es batu per hari, dan kebiasaan ini biasanya semakin parah ketika mengalami stres atau kelelahan emosional.
Penyebab Sering Ngemil Es Batu
Menurut laporan dari Very Well Health, keinginan berlebihan untuk mengonsumsi es batu bisa dipicu oleh beberapa kondisi medis dan psikologis berikut:
1. Dehidrasi
Ketika tubuh kekurangan cairan, kamu mungkin merasa lebih ingin menikmati es batu untuk menyejukkan diri. Namun, jika dorongan ini terjadi terus-menerus, itu bisa menandakan dehidrasi kronis. Solusinya, pastikan kamu mencukupi kebutuhan air putih harian agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik.
2. Kekurangan Nutrisi
Beberapa penelitian menyebut bahwa keinginan mengunyah es bisa berkaitan dengan defisiensi mineral penting seperti zinc dan kalsium. Kekurangan dua mineral ini bisa memengaruhi penyerapan zat besi, sehingga otak mengirim sinyal salah yang diterjemahkan tubuh sebagai dorongan untuk mengunyah es batu.
3. Anemia Defisiensi Besi
Kekurangan zat besi menurunkan produksi sel darah merah yang sehat, sehingga tubuh kekurangan oksigen. Penderitanya sering mengalami kelelahan, pusing, kulit pucat, dan keinginan mengunyah es batu. Kondisi ini dikenal sebagai anemia defisiensi besi, dan sering kali menjadi penyebab utama pagophagia.
4. Gangguan Pica
Pagophagia termasuk bagian dari gangguan pica, yaitu keinginan mengonsumsi benda tak bernilai gizi. Dalam kasus ini, es menjadi “objek pelampiasan”. Biasanya, penderita dapat mengonsumsi es batu dalam jumlah besar setiap hari, terutama ketika menghadapi stres.
5. Gangguan Emosional
Kebiasaan ini juga bisa muncul akibat tekanan emosional atau stres berkepanjangan. Dalam beberapa kasus, hal ini berkaitan dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Mengunyah es batu menjadi bentuk coping mechanism atau cara tubuh meredakan ketegangan emosional, namun bisa berkembang menjadi kebiasaan sulit dihentikan.
Dampak Buruk Mengunyah Es Batu Terlalu Sering
Dilansir dari Hello Sehat, mengunyah es batu berlebihan bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan serius, terutama jika dilakukan dalam jangka panjang:
1. Gigi Berlubang dan Enamel Rusak
Tekanan keras dari es batu dapat mengikis enamel, lapisan pelindung gigi. Akibatnya, gigi menjadi lebih sensitif, mudah retak, dan rentan berlubang.
2. Nyeri Rahang
Mengunyah benda keras secara terus-menerus bisa menyebabkan ketegangan otot rahang, rasa nyeri, bahkan gangguan pada sendi temporomandibular (TMJ). Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
3. Gangguan Pencernaan
Es batu dari sumber air yang tidak higienis berisiko membawa bakteri dan virus penyebab infeksi pencernaan. Dampaknya bisa berupa diare, mual, muntah, atau sakit perut berulang.
Cara Mengatasi Pagophagia
Menurut Healthline, langkah utama mengatasi pagophagia adalah menemukan penyebab dasarnya:
-
Jika disebabkan oleh anemia defisiensi besi, penanganan dilakukan dengan meningkatkan kadar zat besi dalam tubuh melalui pola makan sehat atau suplemen — tentunya dengan pengawasan dokter.
-
Hindari mengonsumsi suplemen zat besi secara sembarangan, karena dapat menyebabkan penumpukan zat besi berlebih yang justru berbahaya bagi organ tubuh.
-
Untuk kasus yang berkaitan dengan stres atau gangguan mental, terapi kognitif perilaku (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) dapat membantu mengidentifikasi dan mengganti kebiasaan tidak sehat dengan cara yang lebih positif. (fin)