Kenali Istilah Perfectionist Burnout, Niat Jadi ‘Terbaik’ Justru Lelah Mental, Kamu Termasuk?

Lailatul Fadhila Hikma • Dipublikasikan Sabtu, 9 Agustus 2025 | 02:23 WIB
Perfectionist Burnout
Perfectionist Burnout

Jawa Pos Radar Lawu – Menjadi sempurna mungkin terdengar seperti sebuah resep menuju kesuksesan di masa depan.

Namun, dibalik standar tinggi yang terus dipaksakan ini, tersembunyi risiko besar yang disebut perfectionist burnout.

Istilah yang berasal dari gabungan antara perfeksionisme dan kelelahan kronis yang dapat merusak kesehatan mental maupun fisik.

Dr. Gordon Parker, profesor psikiatri di University of New South Wales di Australia dan penulis utama buku terbaru Burnout: A Guide to Identifying Burnout and Pathways to Recovery menjelaskan mengenai perfeksionisme.

Dilansir dari time.com, menurtnya perfeksionisme adalah pola pikir yang ditandai oleh dorongan kuat untuk melakukan segala hal sebaik mungkin, menetapkan standar yang nyaris tak terjangkau, dan ketakutan berlebihan terhadap kegagalan.

Jadi yang ‘Terbaik’ Justru Paling Berisiko

Penelitian Parker menemukan bahwa pekerja di bidang yang menuntut kepedulian tinggi, seperti dokter, perawat, guru, veteran, dan pemuka agama, memiliki risiko tertinggi mengalami burnout terkait perfeksionisme.

Di negara Barat, sekitar 30% dokter mengalami burnout pada satu waktu, dan angka ini bisa melonjak hingga 60% sepanjang karier.

Bagaimana Perfeksionisme Memicu Burnout

Beberapa hal ini justru jadi pemicu lahirnya burnout yang terjadi akibat perfeksionisme

Gejalanya antara lain kelelahan terus-menerus, penurunan produktivitas, rasa takut membuat kesalahan, bahkan kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya disukai.

Memutus Siklus Perfeksionisme yang Menyebabkan Burnout

Ahli psikologi menyarankan langkah-langkah berikut:

  1. Maknai ulang tujuan atau apa yang ingin kamu capai. Fokus pada progres, bukan kesempurnaan.
  2. Self-Compassion atau perlakukan diri seperti sahabat, bukan musuh.
  3. Tetapkan batasan sehat, terutama pada pekerjaan.
  4. Coba percaya kepada orang lain.
  5. Rayakan kemenangan kecil yang kamu raih, yang terpenting hargai prosesnya, bukan hanya hasil akhir. (*)
Editor : Riana M.
Sumber : Radar Lawu
burnout stres perfeksionis risiko psikologi Perfeksionisme