Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Orang Tua Perlu Tahu Caranya, Pemulihan Trauma Pelecehan Seksual pada Anak Lebih Lama

Siti Fauziah • Selasa, 4 Juni 2024 | 13:19 WIB

Ilustrasi ibu dan anak (Pinterest)
Ilustrasi ibu dan anak (Pinterest)

Jawa Pos Radar Lawu - Lebih dari 90% pelaku kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak adalah orang yang mereka kenal.

Trauma pada anak bisa berlangsung lebih lama dan semakin Intens saat mereka kembali melihat pelaku.

Firesta Farizal, seorang psikolog anaknya juga direktur klinik Psikologi dan pusat terapi anak Mentari Anakku mengatakan bahwa jika korban pelecehan dan pencabulan masih dalam usia anak, kekhawatiran dan ketakutan untuk menceritakan kekerasan seksual yang mereka alami lebih besar.

Alasannya juga bermacam-macam termasuk ancaman dari si pelaku. Korban dipaksa untuk diam oleh pelaku sehingga korban pun cenderung mengalami kekerasan seksual berkali-kali.

Sementara Gisella Tani Pratiwi, psikolog anak dari Yayasan Pulih menegaskan bahwa efek trauma pada anak yang menjadi korban kekerasan seksual bisa berlangsung lama.

"Korban bisa kembali merasa takut dan merasa cemas, meskipun pelaku secara legal hukum telah menjalani konsekuensi dari perilakunya," ujar Gisella kepada DW Indonesia.

Korban merasa lebih marah dan kecewa jika orang yang telah melecehkannya kembali diterima oleh masyarakat bahkan disambut dan kembali dipuja.

Gisel juga mengatakan Masih banyak orang tua yang belum sepenuhnya memahami tindak kejahatan seksual. Jika dibiarkan begitu saja dan tidak diedukasi maka ini bisa menjadi permisif terhadap pelaku.

Banyaknya informasi tentang kekerasan seksual yang beredar di sosial media membuat pemahaman masyarakat semakin baik.

Dampaknya semakin banyak orang tua yang langsung mencari pertolongan psikologis begitu mengetahui anaknya menjadi korban kekerasan seksual.

Firesta, seorang Psikolog dari Mentari Anakku menjelaskan bahwa pengalaman kekerasan seksual Setiap anak berbeda-beda dan tidak bisa digeneralisasi.

Baca Juga: Ibu Kandung yang Tega Melecehkan Anaknya Ditetapkan sebagai Tersangka

Namun jika pelakunya adalah orang-orang terdekat seperti anggota keluarga proses penanganan psikologinya lebih sulit dilakukan karena telah rusaknya kepercayaan anak terhadap sosok yang selama ini mereka percaya.

Angka pelecehan terhadap anak di bawah umur oleh orang mereka kena memang bukan main-main besarnya.

Menurut psikologi sekitar 90% pelaku kekerasan seksual terhadap anak adalah orang-orang yang mereka kenali dan bahkan memiliki hubungan dekat dengan mereka.

Terlebih lagi proses dari penanganan kasus ini akan sangat sulit dan kompleks jika pelaku adalah anggota keluarga.

Gisela juga dihadapkan oleh beberapa pengalamannya dalam menangani berbagai kasus kekerasan seksual yang dilakukan dalam sebuah keluarga.

Apabila hal tersebut diketahui oleh salah satu anggotanya maka sosok orang tua seringkali berada pada posisi yang dilematik sehingga respon dari mereka berbeda-beda.

"Ada respon-respon yang mendukung anaknya tetapi juga ada respon yang secara spontan malah menyudutkan anaknya mungkin karena dia (ibu) syok atau bingung itu kompleksitasnya," ujar Gisella.

Meski demikian psikolog Firesta menjelaskan bahwa luka psikologis yang dialami anak menjadi korban seksual bisa dipulihkan apabila traumanya ditangani dengan cepat. (*)

Editor : Riana M.
#kesehatan mental #psikolog anak #anak #trauma #tips parenting #korban #pemulihan #pelecehan seksual #orang tua