Jawa Pos Radar Lawu - Udara segar dan hawa yang sejuk bisa dirasakan setiap hari. Tanpa disadari, itu merupakan privilege bagi warga yang tinggal di kaki dan lereng Gunung Lawu.
Betapa tidak, udara sejuk merupakan barang mahal bagi warga di perkotaan dan di daerah industri.
Polusi sangat berdampak buruk terhadap kesehatan, termasuk mental.
Baru-baru ini, hasil studi menyatakan bahwa orang yang tinggal daerah dengan kualitas udara buruk punya risiko yang lebih tinggi untuk bunuh diri!
Mengutip dari Medical Daily, polusi udara memang berdampak pada manusia. Terutama para lansia dan perempuan.
Terdapat hubungan yang jelas antara polusi udara, masalah kesehatan fisik dan peningkatan risiko asma, penyakit kardiovaskular, dan kanker paru-paru.
Tak hanya itu, Tamma Carleton, seorang peneliti, juga mengatakan bahwa polusi berdampak buruk terhadap kesehatan mental.
"Kita sering menganggap bunuh diri dan kesehatan mental sebagai masalah yang harus dipahami dan diselesaikan pada tingkat individu," kata Carleton.
"Hasil ini menunjukkan pentingnya peran kebijakan publik, kebijakan lingkungan, dalam memitigasi krisis kesehatan mental dan bunuh diri," sambungnya.
Sebelumnya, dia telah mempelajari dampak suhu terhadap tingkat bunuh diri di India dan mengamati korelasi di mana peningkatan suhu menyebabkan peningkatan tingkat bunuh diri.
Dia dan rekan penulis utama Peng Zhang melihat penurunan angka bunuh diri lebih cepat di Tiongkok dibandingkan rata-rata global.
Mereka lantas memutuskan untuk mengeksplorasi hubungan antara upaya negara tersebut dalam memerangi polusi udara dan penurunan angka bunuh diri yang diamati baru-baru ini.
Dengan memisahkan tingkat polusi dari aktivitas manusia, yang secara inheren mempengaruhi perilaku manusia, peneliti dapat menentukan dampak kausal polusi dan tingkat bunuh diri.
Analisis tersebut menunjukkan bahwa dampak polusi sangat terasa di kalangan lansia, di mana perempuan lanjut usia 2,5 kali lebih rentan dibandingkan kelompok lain.
Namun, para peneliti tidak yakin mengapa perempuan lanjut usia sangat rentan terhadap dampak polusi terhadap kesehatan mental, walaupun faktor budaya mungkin berperan.
"Memang benar, ada semakin banyak bukti bahwa polusi partikulat mempengaruhi neurokimia," terangnya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani