Kisah yang Berceceran dari Buku-Buku di Tanah Junjung Behaoh
Oleh : Rusmin Sopian
NEGERI ini " lah tue ". Setua kisah " Pertempuran Toboali " yang heroik. Dentuman bunyi suara senjata menggelegar. Menakutkan. " Rijit bulu isik " yang mendengarnya.
" Lawang Uma " warga terkunci rapat. Tak ada yang memberanikan diri membukanya. Tak ada pula yang mengetuknya. Para pengetuk pintu lebih memilih berdiam diri di rumah masing-masing. Bersimutkan kasih sayang.
Apalagi sekompok burung liar sudah seminggu ini hinggap di pohon besar. Aroma kematian semerbak. Kematian amat akrab dengan manusia. Hidup memang diantara Azan dan Azan.
Banyak kisah yang membuat penjajah banyak mati. Orang-orang " Nyerupe ". Senjata Penjajah berhamburan ke udara. Salah sasaran. Tak ada yang mati.
Itulah " Cerita-cerita Waktu Ku Kecil Dulu " yang sering dikisahkan para orang tua menjelang tidur kepada anak mereka.
Mereka, kaum penjajah kehabisan peluru sehingga dengan mudah Raden Keling dan anak bangsa menaklukkan mereka. Anak-anak bangsa " Berani Bermimpi " untuk Merdeka. Merdeka adalah harga mati. Ini tentang martabat bangsa. Ini tentang harga diri bangsa. Bukan tentang kekuasaan.
Penjajah kehilangan akal. Mereka menjadi " Pembulak ". Narasi mereka membumbung tinggi. Memaniskan hati warga. Laksana " Asa Tak Bertepi ".
Warga sudah cerdas. Tak tergiur cerita manis berbalut nafsu imperialis. Rakus kekuasaan. Itu adalah cerita ' Sang Usang ". Cerita masa lalu. Kisah kuno. Keledai pun tidak akan terjatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Orang-orang kini, berkisah tentang indahnya " Cinta Dibawah Tudung Saji ". Seindah kisah Buk Rud yang merindukan kasih sayang dari pujaan hatinya.
Sebagaimana anak-anak yang mengatakan Ayah, Aku Rindu. Walaupun ada pula kaum muda yang mengatakan Aku Rindu pada kekasihnya sebagai " Bidadari Kehidupan " yang amat dcintainya. Walaupun terkadang kisah mereka bak ' Khayalan Dalam Untaian Kata ". Bak " Kupu-kupu Mimpi ".
Kepada orang yang dicintainya. Kepada istrinya yang disebutnya dalam " Istighfarku adalah Cintaku. Entah kalau kepada pemimpinnya.
" Goresan Tinta Pelajar " terus diajarkan dari Sang Maha Guru ' Arunika di Kaki Gunung Muntai ".
' Seuntai Goresan Pena " terus dibaca seiring gerakan membaca yang terus digelorakan para pegiat literasi. Seiring ' Seputar Makna Kata, Peribahasa, Gaya Bahasa dan Paragraf " yang menjadi kata kunci orang-orang menulis.
Apakah " Matcagel " memahaminya? Biarlah waktu yang menjawabnya? Atau kita tanyakan kepada " Ikan Hemilang Sakti?
Salam literasi dari Negeri Junjung Behaoh
Toboali, 28 Januari 2026
BIODATA SINGKAT PENULIS:
Rusmin Sopian, penulis asal Toboali, Bangka Selatan, aktif menulis opini, esai dan sastra, serta aktif dalam berbagai kegiatan literasi di Bangka Selatan. Tulisannya berseliweran di berbagai media nasional.
Editor : Nur Wachid