Tak kalah penting, memberikan sepasang jimat berupa attitude dan karakter yang berkesadaran keilahian sehingga dunia pendidikan damai dan senantiasa berkebahagiaan.
Oleh: Dr. Sutejo, M.Hum
AKHIR pekan lalu, (21/2), saya berkesempatan berbagi pengalaman bagaimana menjadi guru kolaboratif dan berenergi di sebuah hotel di Tawangmawu, yang diselenggarakan oleh SMAN 1 Ngawi.
Filosofi sederhananya adalah mengapa pendidikan harus kolaboratif? Sebab, pendidikan adalah kegiatan sadar yang dilakukan secara bersama dalam mencapai tujuan pendidikan institusional tertentu.
Jika KS berharap kebersamaan itu sebuah filosofi alamiah dari hakikat pendidikan yang sejati.
Tetapi bagaimana mendidik berbasis energi kesadaran? Tiga puluh tahun lebih menjadi guru –dengan suka dan ribuan duka—barangkali sebuah pengalaman empirik yang menarik diulik dan dimaknai ulang. Inilah barangkali yang menarik diulik di balik kewajiban guru melakukannya secara kolaboratif.
Pertama, bagaimana guru perlu berjiwa kesadaran, tanpa pamrih dalam bekerja kecuali berjalan di atas ril keilahian.
Menjadi guru adalah jalan kesucian, yang penting dilakukan dengan niat suci pula. Jika niat suci telah terlekapkan maka, gerak dan langkah yang dilakukan pun penting beraroma kesucian.
Bagaimana? Sederhananya, bersihkan pekerjaan kita dari pamrih. Ingin diakui oleh atasan atau teman guru lain.
Lepaskan, emosi yang demikian, agar emosi jiwa netral dan bercahaya. Semata-mata, kita berbuat di ruang-ruang kelas karena panggilan jiwa Semesta.
Tugas keguruan adalah tugas spiritual yang menarik dilesapkan ke jiwa pendidik. Sebab, spiritualitas akan menyadarkan eksistensi diri pengajar di satu sisi dan di sisi lain, jelas akan mendorong tumbuhnya eksistensi peserta didik yang berjiwa, berkarakter, dan mampu mandiri.
Bahasa edukatifnya adalah akan lahir anak didik berkarakter kuat, bukan sekadar pintar dan cendekia secara keilmuan. Berotak dan berilmu jerman tetapi berhati Mekah.
Di era serba media, digitalisasi adalah tantangan seorang guru dalam bekerja dalam bingkai spiritualitas demikian.
Kesadaran akan kasih-sayang terhadap peserta didik, tentu menjadi ruang tak terbatas luas untuk menyentuh, menanam, dan merawat kesadaran peserta didik secara keilahian.
Bukankah tidak ada apa pun di muka bumi ini terjadi tanpa seizinNya?
Artinya, kita berdiri di depan kelas, tentu juga seizin Tuhan, karena itu, pesan dan nilai ketuhanan penting ditanamkan di setiap materi apa pun yang kita ajarkan di ruang-ruang kelas.
Kedua, dalam mewujudkan pembelajaran yang berkesadaran tentu membutuhkan kolaborasi yang suci dan orisinal.
Artinya, kesadaran bekerja sama dalam pendidikan penting dilandasi oleh nirprasangka dan hilangnya iri dan kedengkian sesama pendidik.
Jika para pendidik masih terbersit emosi negatif demikian, maka berharap kolaborasi yang berenergi, akan sulit diwujudkan.
Pertama-tama, tugas kita tentu membersihkan emosi negatir untuk pelan-pelan diubahnya dengan energi positif.
Bagaimana guru yunior menghormati senior, saling mengenal dan berbagi pengalaman edukasi berhikmah secara arif dan komunikatif.
Sementara, birokrasi sekolah menjelma jembatan indah yang mengundang untuk melakukan komunikasi hati yang berkesalingan.
Saling menghargai dan menghidupkan. Saling menyapa dan menyalakan. Saling terbuka dan memberi dalam paradigma saling memberdayakan.
Pemikian demikian sederhana kelihatannya tetapi betapa kompleks ketika kita mempraktikkan di ruang-ruang pendidikan yang berenergi, di sebuah sekolah berkultur energi yang menyadarkan.
Menyadari bahwa tugas guru adalah tugas suci keilahian tentu merupakan kewajiban yang tak boleh dilewatkan.
Di sini, kesadaran selanjutnya adalah bagaimana kewajiban berbagi secara tulus (nir pamrih) seorang guru, berikut kreativitas yang dilakukannya secara terus-menerus.
Itulah sebabnya barangkali dalam paradigma pendidikan nasional, guru dilabeli sebagai “pahlawan yang tanpa tanda jasa”.
Sebab, inspirasi dan kreasi yang dilakukan seorang guru kepada murid-muridnya, tidak bisa dilukiskan dengan deskripsi atau simbol “jasa” apa pun.
Mari berbuat dengan segala kreasi unik sebagai karakter besar manusia yang sesungguhnya unik pula untuk memasuki jiwa-jiwa peserta didik penuh makna dan ceria.
Apalagi dalam konteks mutakhir, menghadapi Gen Z misalnya, benar-benar guru seperti mengukir di atas batu karang.
Guru seperti berdiri tegak di atas badai angin informasi. Guru seperti nelayan dengan seribu nyali dalam mengarungi samudera kehidupan yang bergelombang.
Bukan pekerjaan mudah menjadi guru dalam konteks pendidikan abad ke-21 ini. Mendidik “generasi intans”, Gen Z yang dipagut ilusi serba cepat, tidak sabar, hedonisme, dan bersifat materialisme.
Ketiga, pentingnya guru sebagai penyelam lautan jiwa peserta didik. Bagaimana jika para guru masih bermasalah dengan jiwanya akan mampu menyelami jiwa anak didik?
Di sinilah, barangkali penting disadari bahwa seorang guru adalah mereka yang sudah “selesai dengan dirinya”, guru “nir-emosi”, guru beretos selayaknya para Nabi, dan bergerak di jalan pendidikan yang dipilih serupa malaikat yang menyampaikan dengan ketulusan.
Sungguh, tidaklah mudah. Tetapi, kita harus berbenah dan terus bergerak melakukannya.Padahal, kita sadar bahwa kita adalah manusia bukan nabi, apalagi malaikat.
Tetapi, bukan hal tidak mungkin dalam perjalanan spritualitas manusia (termasuk guru), untuk mencapai titik “kenabian” dan “kemalaikatan” jika kita terus belajar membersihkan penyakit hasrat dan emosi negatif di riak langkah mendidik yang kita jalani.
Mari sadari bahwa anak didik adalah “manusia dalam proses” penemuan diri sejatinya.
Pendidikan barangkali, adalah kesadaran terukur dalam mengantarkan anak didik menjadi manusia sejati, dengan kesadaran keilahian yang menjelma tidak saja dalam kata tetapi yang terpenting dalam perbuatan dan tindakan yang penuh kasih sayang.
Sebagaimana Semesta yang telah memberikan kepada makhluk tanpa transaksi permintaan apa pun. Sebagaimana matahari memberikan kehidupan setiap hari.
Nah!
Jika kita ingin dihitung oleh Semesta, maka dalam menjalankan pekerjaan suci menjadi seorang pendidik, sebagaimana dirancang oleh Mas Tjahjono Widijanto -- pentingnya menjadi guru yang berenergi dan berkolaborasi—maka tak ada cara lain kecuali dengan saling menghargai sesama pendidik dengan nuansa hati yang berkeilahian.
Hati yang tanpa pamrih, yang ada hanya perjalanan suci berbagi kepada anak didik sehingga melahirkan energi yang menyadarkan dan menggetarkan dinamika kehidupan yang berkebudayaan.
Dalam pengalaman ulikan di kegiatan Tawangmangu kemarin, sungguh, menyadarkan bagaimana respon para guru yang benar-benar “bingung” dihadapkan dengan realitas kebijakan pendidikan di Indonesia di satu sisi, dan sisi lain realitas generasi pelajar –Gen Z- yang telah digulung oleh “budaya baru” yang mengkhawatirkan.
Sebagaimana pesan Tjahjono Widijanto, bahwa dalam konteks menjadi guru era kekinian, kita penting memiliki empat hal yang harus diperbaharui, yakni: mindset, skill, attitude, dan karakter.
Karena itu, mari dalam konteks menjadi guru mutakhir kita senantiasa membangun mindset positif yang adaptif terhadap perubahan, meningkatkan kualitas skill mengajar dan mengajarkan skill hidup kepada peserta didik.
Tak kalah penting, memberikan sepasang jimat berupa attitude dan karakter yang berkesadaran keilahian sehingga dunia pendidikan damai dan senantiasa berkebahagiaan.
Keempat hal itu, sadari dan olah secara terus-menerus dengan pikiran positif, kesadaran tentang sebuah proses, dan selalu matangkan dengan hakikat kesadaran tentang siapa “diri sejati” kita. (*)
BIODATA SINGKAT: Dr. Sutejo, M.Hum., dosen di lingkungan LLDIKTI VII Jawa Timur, dpk pada STKIP PGRI Ponorogo.
Editor : Nur Wachid