Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Menulis yang Menyehatkan Jiwa

Redaksi • Rabu, 4 Desember 2024 | 22:12 WIB
Writing is Healing, Writing is Protecting. Menulis yang Menyehatkan Jiwa.
Writing is Healing, Writing is Protecting. Menulis yang Menyehatkan Jiwa.

Menulis yang Menyehatkan Jiwa

Oleh: Sutejo* 

Menulis untuk kesehatan mental? Tema ini lagi nge-trendlho. Termasuk kegiatan yang diadakan besok oleh Yayasan Nalar Naluri Nurani, yang bekerja sama dengan Sutejo Spektrum Center dan OM Institute.

Pelatihan yang bertema “Writing is healing, Writing is protecting” itu sendiri dilakukan untuk memperingati “16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan”, besok (5/12). Novelis kondang Okky Madasari akan berbagi resep itu besok hari.

Apa yang menarik? Dua hal, yakni: (i) menulis itu menyehatkan dan (ii) menulis untuk perlindungan diri. Bagaimana praktiknya? Pertama, jika kita sepakat bahwa menulis itu berangkat dari masalah –salah satu masalah adalah kesehatan jiwa—maka dengan menulis, jelas dapat menyembuhkannya. Tentu tidak instan, tetapi sebuah proses yang relatif panjang.

Kedua, menulis untuk perlindungan diri. Jelas, karena menulis mencerdaskan. Menulis itu sendiri melampaui pasukan. Ingat pesan Napoleon Bonaparte yang mengatakan, “Aku lebih takut dengan seseorang yang memegang pena (penulis) dari pada prajurit yang bersenjata lengkap.”

Esai ini, hanya membahas masalah pertama: menulis itu menyembuhkan. Menulis untuk kesehatan. Pengalaman saya dalam mendampingi anak muda menulis, sudah sepuluh tahun lebih mempraktikkannya, menunjukkan efektivitas yang tinggi. Bahkan untuk segala jenis “penyakit mental”. Syarat utama: mau dan mengalir dalam melakukannya.Flow (mengalir saja), pesan Peter Elbow si penulis buku monumental Writing without Teachers.

Pertama, sadari bahwa menulis yang paling mudah adalah dengan teknik ekspresif. Mengekspresikan pengalaman jiwa, pikiran, gejolak rasa, dan apa pun persoalan mental yang ada. Wujudnya bisa puisi, corat-coret, buku harian, cerita, atau tulisan lain.

Kedua, dalam teori sastra dikenal ada teori katarsis, bahwa seseorang yang meluapkan emosi jiwa ke dalam karya sastra, yang bersangkutan akan plong, lega jiwanya. Bahkan, seorang pembaca saja, ketika menemukan tulisan yang setema dan sefrekuensi dengan pengalaman jiwa si penulis, akan berdampak kepuasaan pada saat membacanya. Apalagi yang menuliskannya.

Ketiga, mari jadikan menulis sebagai terapi. Berangkat dari kedua hal sebelumnya, maka menulis jelas dapat digunakan sebagai terapi mental. Bahkan, para psikolog telah lama menggunakan menulis sebagai alat diagnosis penyakit mental sekaligus teknik dalam menyembuhkannya.

Terapi Diri Penuh Kesadaran

Jika kita merasa ada kelainan mental, khususnya generasi Z, macam: sulit tidur, over thingking, gelisah, mudah cemas, suka menyendiri, adiksi gadget, tidak percaya diri, dan sejumlah problem mental lain; maka, menulislah.

Pengalaman saya, ketika masih mahasiswa di tahun 1986-an, sebelum mengenal teori “terapi kata”, saya hanya mencurahkan semua persoalan hidup ke dalam “buku harian”. Dalam perjalanan waktu, ternyata hal yang saya lakukan itu merupakan terapi diri. Kala itu, puisi, cerpen, dan tulisan pribadi memenuhi lebih dari 3 buku tebal harian saya.

Bahkan, ketika mengalami problem cinta remaja, saya sempat depresi berat, tidak sadar yang saya lakukan hanya menulis puisi dan cerpen sebanyak-banyaknya. Ini terjadi di awal tahun 1990-an, walhasil sejumlah kecil tulisan terapi dimuat di sejumlah media massa. Yang lain, tak terhitung jumlahnya, dibakar dijelang perkawinan, tak ingin mengotori “jiwa pernikahan”. Andaikan saya tidak menulis saat itu, mungkin sekali sudah gila!

Tengok sekarang, buku Naning Pranoto berjudul Writing for Theraphy (Buku Obor, 2015). Kita akan menemukan resep terapi lewat kata-kata secara praktis dan otentik. Bagaimana sesungguhnya terapi kata-kata tidak saja untuk proses penyembuhan tetapi  juga konstruksi diri dalam mewujudkan impian kehidupan.

Naning Pranoto menunjukkan dengan cermat bagaimana menulis bisa menyembuhkan luka-luka batin, melepaskan jerat depresi, mengokohkan jiwa, melepaskan emosi negatif, mengobati sakit hati, dan seterusnya.

Sebaliknya, bagaimana pula Naning Pranoto, menunjukkan bahwa menulis dapat untuk menertawakan atau membuat tertawa, mengonstruksi mimpi, membunuh kesepian, mengekalkan persahabatan. Menulis menjernihkan jiwa, membeningkan hati, dan memoles cermin jiwa yang dapat melahirkan Kesadaran sejati tentang Hidup.

Redi Panuju punya gaya lain, melepaskan amarah atas realitas sosial ironis dan paradoks dengan menulis. Karena itu, dia menulis buku unik begini: Menulislah dengan Marah (Nusamedia, 2008). Artinya, jika Anda marah sekalipun, menulis ternyata efektif sebagai obat melepaskannya. Caranya, tentu kita terikat oleh pilihan diksi yang tidak vulgar marah, tetapi mampu melepaskannya.

Bagaimana? Inilah hal menarik di pelatihan besok di SSC (5/12/2024), yang bertema: Gerakan Nasional Menulis untuk Melindungi dan Menyembuhkan. Mari sadari bahwa menulis itu melatih cerdas, cermat berpikir menghadapi masalah dalam kehidupan.

Tidak saja itu,  menulis juga bisa menyembuhkan. Khususnya  Gen Z yang sering kali mengidap “penyakit jiwa” tetapi tidak sadar, penting mencoba terus menulis sebagai ekspresi jiwa, melepaskan emosi, mengobati luka, dan menguarkan “polusi udara” dalam jiwa.

Pengalaman saya mengatakan bahwa menulis itu obat herbal alami menyembuhkan segala penyakit jiwa dan pikiran. Menulis menyehatkan pikiran dan jiwa. Jika tidak sekarang dimulai, kapan lagi. Yuk budayakan menulis setiap hari, agar jiwa dan pikiran kita sehat selamanya. 


BIODATA SINGKAT:  Sutejo, dosen LLDIKTI yang tinggal di Ponorogo, penulis sekaligus dikenal sebagai budayawan.

Niken memang dikenal selalu memborong dagangan penjual yang berjualan di konsernya.
Niken memang dikenal selalu memborong dagangan penjual yang berjualan di konsernya.
Editor : Nur Wachid
#Writing for Theraphy #jiwa #Naning Pranoto #Sutejo #menyehatkan #menulis #esai #ponorogo