Penguatan Literasi Baca Tulis
Oleh: Dr. Sutejo, M. Hum
PADA hari Selasa (26/11), saya diundang sastrawan Tjahjono Widarmanto, untuk berbagi bagaimana teknis penguatan literasi di SMAN 2 Ngawi. Berikut pokok-pokok pikiran dan pengalaman praktis yang bisa dimanfaatkan.
Tetapi, sebelumnya, yang penting dipikirkan adalah filosofi diksi 'penguatan'. Artinya, sesuatu dikuatkan itu sebelumnya sudah ada. Tinggal menguatkan.
Analog obat kuat, pijat kuat, atau jamu kuat; yang memberikan itu bisa dokter, tukang pijat, atau bahkan dukun. Saya sebagai apa ya? Monggo dibayangkan sendiri.
Hakikat penguatan literasi baca tulis itu (i) sebuah proses, (ii) pembiasaan mengajarkan dan membudayakan baca tulis, (iii) menumbuhkan dan mengembangkan literasi baca tulis, (iv) mengintegrasikan, mengkreasikan, dan menciptakan produk literasi baca tulis, serta (v) menjiwa dan menyatunya budaya literasi dalam kuasa pengetahuan, sikap, perbuatan, dan spiritual yang bersangkutan.
Ingat, hakikat literasi merupakan keterampilan dalam mengakses, memahami, mengalisis, mengevaluasi dan menggunakan informasi secara cerdas. Jika dikaitkan dengan baca tulis maka bagaimana seseorang itu memanfaatkannya dalam produk tulisan. Apa pun jenisnya, tergantung pemanfaatannya.
Penguatan Baca Tulis
Adanya budaya berpikir di sekolah. Berpikir itu alat utama literasi. Edward de Bono bilang, berpikir itu sebuah keterampilan mental yang memadukan kecerdasan dan pengalaman. Jika budaya berpikir sudah tercipta, budaya literasi dipastikan akan tumbuh dengan sendirinya.
Kedua, adanya debat isi buku. Debat isi buku merupakan uji tanding berpikir dimensional dan argumentatif. Sekaligus penanda dasar budaya baca di sekolah. Aktivitas ini akan menguatkan keterampilan ingatan, pemahaman, aplikasinya, analis, dan evaluasi.
Ketiga, budaya sekolah yang literat. Budaya akarnya habituasi, aktivitas literasi yang berekosistem kuat. Jika ekosistem baca terbangun, pelan tapi pasti pendidikan daya bisa dikondisikan. Sebab, budaya menulis mempersyaratkan adanya budaya baca.
Keempat, keteladanan pimpinan dan guru. Keteladanan adalah guru praktik yang menghipnotis.
Tumbuhnya kesadaran kolektif berliterasi.
Kesadaran itu pangkal dan dinamo dari segala aktivitas, apalagi literasi. Jika para guru gila ba tulis, dipastikan anak didiknya, akan mengekornya.
Selanjutnya, kelima adanya kualitas dan kuantitas sarpras perpustakaan. Bacaan berkualitas dan jumlah yang optimal merupakan modal sekaligus pendekatan praktik mewujudkan lingkungan yang literat. Di sini, kepemimpinan yang berpaling pada paras cantik literasi jelas dibutuhkan.
Keenam, tata ruang beraroma literasi. Dr. Lozanov, dengan teori sugestopedia, mengingatkan bahwa aspek lingkungan belajar berpengaruh besar pada hasil belajar.
Jika aroma lingkungan literasi dimungkinkan punya daya hasil literasi pula. Contohnya, ruang-ruang di sekolah dipasang pajangan kata bijak tokoh-tokoh tentang pentingnya dunia membaca dan menulis.
Ketujuh, adanya even perangsang literasi. Banyak even literasi yang dapat diiringkan dalam penguatan literasi sekolah. Lomba-kegiatan bahasa macam: festival bahasa, lomba menulis artikel, lomba menulis resensi, dst.
Sementara, lomba-kegiatan sastra macam: lomba menulis puisi, cerpen, dan kritik esai sastra. Lomba-kegiatan jurnalisme macam: lomba membaca dan menulis berita, feature, anekdot, dan resensi.
Kedelapan, adanya kebiasaan literasi yang masif dan impresif. Kunci literasi itu pembiasaan, pembiasaan menciptakan habitus (ekosistem) yang bertenaga, habitus akan melahirkan karakter literat. Hal ini menjadi dasar untuk di tahap lanjut: pengembangan dan pengintegrasian.
Kesembilan, kreativitas pengembangan literasi sekolah. Kepemimpinan cerdas dalam berliterasi, kehadiran guru cerdas dan kreatif dalam berliterasi, serta hadirnya organ sekolah lain yang peka literasi akan jadi kekuatan kembang tumbuh yang luar biasa.
Contoh sederhana adalah kebiasaan guru dan siswa saling bercerita isi buku atau mendiskusikannya.
Kesepuluh, pengintegrasian nilai hidup dalam bidang pelajaran. Pemanfaatan pembiasaan dan pengembangan literasi berujung pada pemanfaatan bacaan yang diintegrasikan dengan pelajaran.
Jika tahap pembiasaan dan pengembangan sudah jadi budaya sekolah, maka pengintegrasian dalam soal pembelajaran terpadu (terintegrasi literasi) mudah diwujudkan, mimpi civitas sekolah yang literat hanya soal waktu.
Menanamkan nilai kehidupan berbasiskan bacaan dan pelajaran jadi jalan kesadaran kecakapan hidup anak didik di masa depan. Penguatan literasi adalah pengokohan nilai dan karakter hidup dalam gerakan literasi di sekolah.
Maka dengan demikian, penguatan literasi pada dasarnya penguatan kesadaran organ sekolah dalam melaksanakan gerakan literasi baca tulis.
Baca Juga: TENGSOE TJAHJONO: NGELMU PUISI, LELAKU DAN LELAKON
Peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran berbasis baca tulis menjadi dinding kuat kokoh tidaknya dinamika literasi baca tulis sekolah.
Penciptaan rasa senang dalam membaca bacaan sesuai selera bisa rutin dilakukan. Menuliskan aktivitas pengalaman hidup yang bernilai dalam beragam bentuk tulisan.
Tugas sekolah kemudian menyediakan buku bacaan berjenjang tidak saja di perpustakaan tetapi juga di ruang-ruang kelas berupa pojok buku.
Sarana teknologi digital perlu diupayakan dalam rangka akselerasi dan intensifikasi penguatan literasi yang dilakukan sekolah.
Penguatan literasi baca tulis sekolah akan makin efektif manakala guru murid terlibat dalam komunitas literasi yang ada di masyarakat. Apalagi jika melibatkan orang tua sebagai pilar lain, yang mendasar untuk habituasi literasi di keluarga.
BIODATA SINGKAT: Penulis adalah dosen LLDIKTI yang tinggal di Ponorogo, sekaligus dikenal sebagai sastrawan dan budayawan.
Editor : Nur Wachid