MEREKA YANG TERPINGGIRKAN DAN MESTI DISUARAKAN
Oleh: Tjahjono Widijanto
PERNAHKAH Anda mendengar kisah tentang Sumantri dan Sukrasana? Tersebutlah dalam cerita wayang dalam lakon Sumantri Ngenger, dua orang kakak beradik yang secara fisik berbeda bagai bumi dan langit.
Tokoh pertama, adalah sang kakak bernama Sumantri, yang tampan, gagah perkasa, cerdas, sakti, dan tentu saja fashionable dan “kekinian”. Pendek kata Sumantri adalah cowok yang secara fisik ideal dan terpandang di mata masyarakat.
Tokoh kedua adalah sang adik yang bernama Sukrasana yang begitu menncintai sang kakak. Sayang sekali secara fisik si adik ini berbalik seratus derajat dengan sang kakak.
Sukrasana secara fisik berwujud raksasa cebol, buruk muka,wajah dan struktur tubuhnya jauh dari kata tampan dan gagah. Sukrasana juga sosok yang old fashionable, jadul, kampungan dan ndeso.
Namun dibalik keburukan dan kekurangan fisiknya, Sukrasana memiliki kesaktian yang sangat luar biasa yang tidak bisa ditandingi oleh kakanya sendiri.
Dikisahkan suatu saat Sumantri yang berambisi menjadi seorang pemimpin/penguasa melamar menjadi perdana menteri di Negara Maespati yang dipimpin oleh Arjuna Sasrabahu.
Ujian yang harus dijalani Sumantri agar dapat diterima menjadi perdana mennteri adalah memindahkan taman Sri Wedari dari Kayangan ke kerajaan Maespati.
Ini adalah ujian yang musykil untuk dapat dilaksanakan Sumantri, namun atas bantuan Sukrasana, adiknya yang setia dan sakti mandraguna, taman Sriwedari dapat dipindahkan dalam sekejap mata.
Jadilah Sumantri menjadi perdana menteri. Namun apa yang terjadi? Sumantri merasa malu karena kondisi fisik sang adik, meminta bahkan mengusrir pergi Sukrasasana, namun sukrasana tetap bersikukuh untuk mengikuti Sumantri.
Sumantri lalu menakut-nakuti adiknya dengan panah, dan malang anak panahnya terlepas dan meluncur menembus jantung adiknya yang buruk muka itu, tewaslah Sukrasana yang malang itu.
Dalam kisah pewayangan lain, dalam salah satu episode Mahabarata yakni pada saba parwa dikisahkan bagaimana Drupadi isteri para Pandawa dipertaruhkan di meja judi oleh suami-suaminya sendiri.
Lenyaplah eksistensi Drupadi sebagai manusia, ia menjadi sebuah benda yang dapat digeser, dipindah bahkan dibuang sekalipun.
Demikian pula tokoh Sinta dalam Ramayana. Setelah sekian tahun raga dan batinnya menderita dalam sekapan Rahwana, ia harus menerima kenyataan pahit dipaksa untuk membuktian kesuciannya dengan membakar diri.
Bahkan pada episode terakhir diceritakan bagaimana Sinta yang hamil tua diusir dari kerajaan karena Rama dan rakyatnya masih tidak percaya dengan kesuciannya.
Kisah-kisah di atas sejatinya merujuk bagaimana dalam dunia kita, dalam kehidupan dan realitas social budaya selalu ada pihak yang sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, direkayasa atau tidak direkayasa, sering meletakkan atau memposisikan orang lain (golongan lain) sebagai liyan (the other), dan liyan ini diletakan dalam posisi sebagai individu atau golongan marginal.
Dalam posisi inilah sebenarnya jurnalisme atau pers sangat dibutuhkan untuk menyuarakan tentang pentingnya kesetaraan. Jurnalisme dan pers harus hadir untuk “menghadirkan” mereka, sang liyan ini sebagai pihak yang sama, setara, dan sederajat dengan kita.
Pers dan jurnalisme saat ini ditengarai mengalamai peyorasi, seringkali diidentikkan sebagai penyebar berita atau penghasil teks yang dapat dijadikan komoditi belaka, padahal peranan utama pers –yang kerapkali dilupakan--- adalah sebagai media pencetus awal dari sebuah gagasan besar.
Kehadiran pers sebagai arena penggagas ide-ide besar telah dimulai semenjak awal pertumbuhan pers yang masih berbahasa Belanda dan lokal, baik Melayu atau Jawa yang bermunculan pada abad 19 sampai awal abad 20.
Surat kabar bergambar bernama Bintang Hindia (1902-1904) yang dipimpin oleh seorang mahasiswa kedokteran bernama Abdul Rivai berusaha memperkenalkan konsep “kemajuan” sebagai jalan mutlak untuk keluar dari penjajahan, kemelaratan dan keterbelakangan.
Abdul Rivai mencetuskan apa yang disebutnya sebagai “bangsawan (priyayi) pikiran” dan “bangsawan (priyayi) usul”. Bangsawan pikiran inilah yang menurut Rivai akan tampil sebagai kaum muda pelopor kemajuan bangsa.
Untuk mencapai kemajuan itu Rivai menganjurkan didirikan sebuah perkumpulan untuk memajukan pendidikan.
Bersamaan dengan Bintang Hindia, di Padang terbit sebuah majalah bulanan yang bernama Insoelinde yang di dalamnya banyak artikel-artikel yang menyebarkan cita-cita kemajuan dan “dunia maju”.
Tiga tahun kemudian gaung teriakan Abdul Rivai tentang perlunya oranisasi modern yang memperjuangkan rakyat bumi putera mulai terjawab dengan didirikannya sebuah organisasi yang dianggap sebgai simbol dari kebangkitan nasional yaitu Budi Utomo dengan tujuan yang sama: kemajuan.
Setelah Abdul Rivai berhenti dari Bintang Hindia (1907) surat kabar ini menjadi surut, namun peranan pers sebagai penggagas ide-ide besar tetap berlanjut dengan munculnya majalah Medan Prijaji yang didirikan oleh Rd. A. Tirto Adhisuryo (januari 1907).
Medan prijaji lewat tulisan-tulisan Tirto Adhisuryo mengambil gaya yang lebih lugas, lebih tegas, lebih keras, dan lebih berpihak.
Keberpihakan itu diperlihatkan dalam nada pemberitaan dan tulisan yang lebih vulgar dan radikal dibanding Bintang Hindia.
Kerasnya tukisan Tirto Adhisuryo terlihat jelas ketika ia menulis bahwa kemajuan anak negeri tidaklah akan didapatkan hanya melalui pendidikan tetapi juga dengan harus terbebasnya anak negeri dari kekuasaan penjajahan.
Tirto Adhisoeryo juga menerbitkan majalah Soeloeh Keadilan dan majalah Poetri Hindia (1908) yang merupakan majalah wanita pertama yang banyak digemari oleh para istri priyayi, golongan terpelajar, dan nyonya-nyonya Indo.
Ia juga turut mendirikan organisasi Sarekat Dagang Islam (Bogor, 1909) yang kelak akan menjadi organisasi paling berpengaruh, Sarekat Islam (SI).
Akibat aktivitas dan tulisan-tulisannya yang keras pihak pemerintah Hindia Belanda menangkap dan membuangnya ke Lampung kemudian Ambon yang berakibat Medan Prijaji berhenti terbit (1912).
Sepeninggal Medan Prijaji semakin banyak bermunculan pers yang tumbuh dengan melanjutkan cita-cita perjuangan bangsa, misalnya: Oetoesan Hindia (Surabaya), Kaoem Moeda (Bandung), Sinar Djawa (Semarang) dan Pantjaran Warta (Jakarta).
Juga terbit majalah De Express (1912) yang diredakturi Suwardi Suryaningrat (ki Hadjar Dewantoro) yang bersama Tjipto Mangunkusomo dan Douwes Dekker memperkenalkan konsep “nasionalisme Hindia”.
Terbit pula majalah wanita kedua setelah Poetri Hindia yakni Soenting Melajoe (1915) yang juga menyuarakan perlunya pergerakan wanita menuju kemajuan bersama.
Klimak dari perjuangan pers terjadi ketika para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri Belanda mendirikan Perhimpunan Indonesia dan menerbitkan majalah Indonesia Merdeka yang nama majalah itu juga menjadi semboyan perjuangan yang tegas.
Saat ini dibutuhkan pemberitaaan-pemberitaan yang mampu menggerakkan publik untuk berwacana dan bertindak, merupakan tujuan dari praktik jurnalisme advokasi (advocacy journalism).
Menurut Careless (2000), jurnalisme advokasi ialah praktik jurnalisme yang secara terbuka berbicara atau memohon, serta memberikan wajah dan suara atas nama orang lain.
Baca Juga: RUNTUHNYA TEATER JURAGAN
Pendek kata, jurnalisme advokasi semata-mata ingin memberikan ruang bersuara bagi kelompok-kelompok atau individu-individu yang suaranya kerap diabaikan. Melalui praktik jurnalisme advokasi, suara-suara yang termarjinalkan itu diharapkan dapat lebih terdengar melalui dukungan publik.
Keberpihakan pada yang lemah dalam jurnalisme advokasi terkadang memunculkan pertanyaan apakah pers dapat menjalankan tugasnya secara obyektif?
Seharusnya, jurnalisme advokasi bukannya tidak obyektif. Sebab, memang benar bahwa jurnalis memiliki keberpihakan pada mereka yang lemah, ditindas, dan terpinggirkan.
Tetapi, keberpihakannya itu bukan untuk menjatuhkan pihak yang lebih berkuasa, melainkan untuk menyadarkan mereka agar kembali ke ‘jalan yang benar’.
Dalam jurnalisme advokasi, jurnalis melangkah lebih jauh, tidak hanya sekadar menjalankan tugas to inform (untuk menginformasikan), tetapi juga membuat sebuah berita yang mendorong pembaca untuk bertindak melakukan sesuatu.
Ini seperti halnya pernah dilakukan oleh Nick Clooney, jurnalis Amerika yang juga ayah dari aktor Hollywood, George Clooney. Pada 2006, Nick dan anaknya melakukan kunjungan ke Darfur, Sudan, untuk mendokumentasikan adanya praktik genosida di sana.
Sepulangnya, setelah melihat bagaimana penderitaan para korban, Nick menyatakan bahwa dia merasa tak cukup hanya menceritakan bagaimana penindasan terjadi di Darfur.
Lebih jauh lagi, dia ingin mendorong para pemirsanya untuk benar-benar bertindak melakukan sesuatu untuk menghentikan kekerasan tersebut.
Jurnalisme advokasi sendiri muncul karena jurnalis melihat ada sebuah ketimpangan dan penderitaan di masyarakat.
Tentu saja, untuk melakukan praktik ini, modal utamanya adalah kemampuan jurnalis untuk peka dan berempati terhadap situasi penderitaan yang sedang dia saksikan.
Di Indonesia, dalam situasi saat ini ketika masyarakat dihadapkan dengan aneka konflik, penindasan, bencana, serta dampak yang terjadi pascapandemi, jurnalisme advokasi menjadi sangat dibutuhkan.
Harapannya, melalui pemberitaan-pemberitaan yang muncul dari praktik jurnalisme advokasi, lahir gerakan masyarakat yang mendorong pemerintah atau para pembuat kebijakan untuk mengambil sikap.
Namun upaya mendorong jurnalis untuk mengembangkan keterampilan jurnalisme advokasi tidaklah mudah.
Baca Juga: Potret Cerpenis sebagai Sejenis Gerimis yang Tak Habis-Habis: Surat kepada Seorang Cerpenis Sebaya
Sebagai pekerja media, jurnalis juga dihadapkan pada tuntutan-tuntutan perusahaan untuk membuat berita sebanyak mungkin dan secepat mungkin demi memperoleh traffic yang tinggi.
Padahal dalam jurnalisme advokasi, jurnalis harus bisa membangun engagement yang sangat dekat dengan obyek yang diberitakannya agar dapat merasakan penderitaan mereka, lalu menggambarkannya secara presisi dalam karya jurnalistik yang dibuat sehingga mampu menginspirasi pembaca untuk berbuat sesuatu.
Rangkaian upaya ini membutuhkan waktu yang tidak singkat. Dengan kata lain, untuk dapat menjalankannya, jurnalis harus mengorbankan kecepatan dan target jumlah berita harian.
Apalagi, tak selalu ada jaminan pemberitaan yang dibangun melalui jurnalisme advokasi dapat mendulang banyak pembaca. Inilah pilihan akhir dan dilematis bagi jurnalis, media press dan jurnalisme: akankah memilih komiditi dan keuntungan finasial atau berjalan dengan kepala tegak di jalur idealism, seperti kita harus memilih jadi Sumantri atau Sukrasana.
BIODATA PENULIS: TJAHJONO WIDIJANTO, Penyair Nasional dan Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini lahir di Ngawi, 18 April 1969. Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kab. Ngawi periode 202-2025. Menulis puisi, esai, dan sesekali cerpen di berbagai media nasional. Buku-bukunya berupa kumpulan puisi, kumpulan esai dan kritik sastra, esai sosial budaya, dan cerpen, terbit sejak tahun 1990 hingga sekarang.
Diundang dalam berbagai acara sastra, a.l:, Cakrawala Sastra Indonesia (Dewan Kesenian Jakarta,2004), memberikan ceramah sastra di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan (Juni, 2009), Festival Sastra Internasional Ubud Writters and Readers Festival 2009), Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ, 1996), dll. Memperoleh Penghargaan Sastra Pendidik dari Badan Pusat Bahasa (2011), Penghargaan Seniman (Sastrawan) Gubernur Jawa Timur (2014) dan Penghargaan Sutasoma (Balai Bahasa Jawa Timur, 2019)
Memenangkan berbagai sayembara menulis a.l: Pemenang II Sayembara Kritik Sastra Nasional Dewan Kesenian Jakarta (2004), , Pemenang Unggulan Telaah Sastra Nasional Dewan Kesenian Jakarta (2010), Pemenang II Sayembara Pusat Perbukuan Nasional (2008 dan 2009), Pemenang II Sayembara Esai Sastra Korea (2009), dll. Tinggal di Ngawi, Jawa Timur. Hp: 082143785362; 08155615593.
Editor : Nur Wachid