Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Pendidikan Berbasis Budaya dan Pendekatan Kemanusiaan, Refleksi Hari Guru Nasional

Redaksi • Minggu, 24 November 2024 | 18:53 WIB
Pendidikan berbasis budaya dan kemanusiaan, refleksi hari guru nasional 2024.
Pendidikan berbasis budaya dan kemanusiaan, refleksi hari guru nasional 2024.

Pendidikan Berbasis Budaya dan Pendekatan Kemanusiaan, Refleksi Hari Guru Nasional

Oleh: Tjahjono Widijanto

SECARA filosofis berbicara mengenai kebudayaan berarti berbicara tentang perkembangan manusia yang berasal dari penggunaan intelegensia dan kreativitas yang dimilikinya.

Kebudayaan juga dapat disikapi sebagai pola pikir dan berbuat yang terlihat dalam kehidupan sekelompok manusia yang membedakannya dari komunitas lain.

Dengan demikian kebudayaan tak lain dan tak bukan adalah wawasan pemahaman mengenai realitas atau hidup kehidupan, merupakan wawasan normatif dan evaluatif dalam proses kehidupan manusia.

Memperbincangkan kebudayaan adalah memperbincangkan persoalan manusia. Kebudayaan selalu berangkat dari persepsi eksistensi manusiawi.

Maka dimensi kebudayaan mencakup seluruh kehidupan manusia, sehingga tidak mengherankan kalau tokoh-tokoh pendidikan sepertiWilheim Dilthey, Eduard Spranger, Malinowsky, Frans Boas dan Ki Hadjar Dewantoro sepakat bahwa semua permasalahan manusia adalah persoalan kebudayaan.

Manusia adalah mahluk yang paling unik di seluruh jagad. Manusia adalah mahluk paling usil, paling iseng, dan paling kreatif mempersoalkan eksistensi diri dan kehidupannya.

Ia merupakan mahluk perancang yang tidak pernah puas yang senantiasa menciptakan pergulatan dalam dirinya sendiri untuk memproyeksikan kehidupannya, untuk melakukan perubahan terus menerus dalam hidup untuk mencapai kebahagiaan.

Almarhum Prof. Drijakarya mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang senantiasa membelum dan menjadi, (a proces becoming), mahluk yang tak pernah sampai pada titik final dalam upaya mengolah kehidupannya.

Manusia dalam merancang hidupnya seakan-akan menampilkan layar proyeksi, saaat ia sampai pada layar proyeksi tersebut layar itu bergeser menjauh membentuk layar proyeksi selanjutnya, demikian berulang-ulang.

Jadilah manusia sebagai mahluk paling gelisah untuk senantiasa membenahi kehidupannya. Pada titik inilah istilah pendidikan dan kebudayaan muncul menjadi ciri khas manusia yang membedakannya dengan mahluk lain.

Mahluk lain untuk bisa hidup dan survive cukup mengikuti apa yang diberikan alam, mengikuti naluri membela diri dan berkembang biak.

Sebaliknya, manusia mampu mengambil jarak dan mengatur akal budinya, membuat dan mengolah alam dengan teknik dan kebebasan berinisiatif.

Dalam perjalanan untuk senantiasa mengolah kehidupannya itu manusia melalui pendidikan mengenal istilah: pembangunan.

Pembangunan merupakan buah dari kebudayaan yang dilakukan manusia dalam kerangka berbangsa dan bernegara yang pada esensinya bertujuan mencapai kemajuan.

Dan semua kemajuan manusia semenjak masa pencerahan (renaissance) selalu menafsirkan sejarah kemajuan sebagai suatu proses pergulatan yang melibatkan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan nilai, dalam ketegangan dialektika satu sama lain.

Sejarah telah memperlihatkan bagaimana proses relasi dan ketergantungan sekaligus ketegangan manusia dengan alam, manusia dengan manusia.

Kemajuan sebagai anak kandung kebudayaan dan pendidikan pada tingkat praksis akibat dari ketegangan tersebut dapat mengakibatkan dampak yang tidak selamanya baik.

Misalnya, aspek kekuasaan dan penguasaan secara tidak disadari malahan menelantarkan kesejahteraan orang banyak dan hanya menguntungkan segelintir orang sehingga mengakibatkan jurang kesenjangan dalam tatanan masyarakat.

Secara sosial pun, pembangunan juga dapat berdampak luar biasa. Revolusi industri misalnya, selain melahirkan teknologi dan mesin-mesin yang memudahkan dan meningkatkan produktivitas kerja, juga berakibat pengangguran bahkan dehumanisasi dan demoralisasi.

Contoh yang lain pada saat negara dunia ketiga yang bermasyarakat agraris bergeser pada masyarakat industri mengalami keterkejutan budaya (shock culture) yang berdampak serius pada masyarakat.

Melihat kenyataan tersebut, sudah semestinya pendidikan, dan sekolah dikembalikan pada pendekatan kebudayaan yang memprioritaskan penggarapan aspek kemanusiaan seperti nilai-nilai humaniora, kecintaan terhadap lingkungan, daya kritis, kebebasan kreativitas, keadilan, moral dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya.

Dengan prioritas pendidikan berbasis kemanusiaan dan kebudayaan ini diharapkan dapat dirancang sebuah konsep pembangunan yang berkelanjutan (suistanable development), konsep pembangunan yang berdaur ulang dengan mempertingkan dimensi waktu, regenerasi, serta moral keadilan.

Proses perjalanan kebudayaan kita pada saat ini sedang mengalami transisi dari suatu periode ke periode lain.

Transisi ini membawa kebudayaan kita pada dua proses transformasi budaya.

Pertama, transformasi budaya akibat pergeseran budaya agraris tradisional ke tatanan budaya industrial-global-milenial.

Kedua, transformasi budaya akibat pergeseran dari mental-intelektual budaya feodalistis ke arah mental-intelektual budaya pengetahuan yang egaliter, terbuka dan demokratis yang berpotensi pula membawa situasi yang serba permisif.

Pada persoalan pertama, proses pergeseran budaya agraris ke industrial global-milenial membutuhkan kebijaksanaan dan kecermatan, karena arus kapitalisme dan liberal yang tak dapat dihindari.

Arus kapitalisme dan liberalisme ini dapat berdampak timbulnya hedonistic, krisis moral dan gaya hidup yang hanya berorientasi pada perhitungan untung-rugi saja.

Sedang pada persoalan kedua, pergeseran mental budaya feodalistik ke mental budaya yang demokratis dan egaliter, akan memunculkan fenomena masyarakat yang mengalami kepribadian terbelah (split personality).

Satu sisi masyarakat kita sadar atau tidak masih berada pada mental budaya inlander (minder, mobilisir, dan ketergantungan), di sisi lain karena ada hasrat ke arah demokratisasi dan sikap egaliter memunculkan sikap dan tingkah laku euphoria yang berlebihan.

Proses pergeseran kebudayaan akan berarti proses pegeseran orientasi pendidikan, karena itu diperlukan ancangan atau strategi kebudayaan baru yang dapat meformulasikan pendidikan yang kelak melahirkan konsep pembangunan yang lebih mengedapankan aspek kemanusiaan, humanisme serta keadilan.

Untuk menyiasati proses kebudayaan ini tentu bukan pekerjaan yang mudah tapi juga bukan sesuatu yang mustahil.

Bagaimanapun kebudayaan dan pendidikan merupakan proses dialektika yang pluralis dan dinamis.

Kebudayaan dan pendidikan bukan sesuatu yang jatuh begitu saja dari langit, bukan pula sesuatu yang kekal atau tidak berubah.

Untuk mendinamiskannya akan sangat bergantung dari ramuan dialektika dari berbagai system yang terus menerus dan membutuhkan waktu yang panjang.


BIODATA SINGKAT: *)Penulis adalah penyair, Kepala SMA N 1 Ngawi, dan Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Ngawi. Alumnus program doktoral Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNS Surakarta. Tinggal di Ngawi, Jawa Timur.

Editor : Nur Wachid
#pendidikan #Pendekatan #Berbasis #2024 #sosial #sman 1 ngawi #TJAHJONO WIDIJANTO #25 november #budaya #hari guru nasional #esai